View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Undergraduate Theses
      • UT - Faculty of Agriculture
      • UT - Soil Science and Land Resources
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Undergraduate Theses
      • UT - Faculty of Agriculture
      • UT - Soil Science and Land Resources
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Analisis inkonsistensi pemanfaatan ruang di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor dan faktor-faktor yang mempengaruhinya

      Thumbnail
      View/Open
      Full Text (4.132Mb)
      BAB I (325.1Kb)
      BAB II (481.2Kb)
      BAB III (778.9Kb)
      BAB IV (558.0Kb)
      BAB V (1.519Mb)
      BAB VI (320.6Kb)
      Cover (334.9Kb)
      Daftar Pustaka (363.6Kb)
      Lampiran (2.260Mb)
      Ringkasan (326.1Kb)
      Riwayat Hidup (318.0Kb)
      Summary (365.7Kb)
      Date
      2010
      Author
      Afifah
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Kawasan Puncak merupakan hulu dari DAS Ciliwung yang mengalir ke Jakarta. Ekosistem DAS bagian hulu merupakan bagian yang penting karena mempunyai fungsi perlindungan terhadap keseluruhan bagian DAS. Apabila terjadi kerusakan lahan di daerah hulu DAS Ciliwung maka dampaknya tidak hanya dirasakan di daerah hulu dan tengah tetapi akan mengancam pembangunan di daerah hilirnya (Bogor, Jakarta, dan sekitarnya). Di sisi lain, Kawasan Puncak memiliki keunggulan dari segi keindahan alamnya, udara yang sejuk dan merupakan perlintasan regional yang menghubungkan wilayah barat Jawa Barat (Jakarta-Bogor-Bandung). Hal ini mengakibatkan kawasan ini menjadi pusat perhatian masyarakat untuk melakukan kegiatan pembangunan. Dalam RTRW Kabupaten Bogor tahun 2005-2025, rencana pengelolaan kawasan strategis Puncak diarahkan untuk terselengaranya keseimbangan ekologi sebagai kawasan resapan air dan pengendali banjir. Namun, pada kenyataannya inkonsistensi penataan ruang banyak terjadi di Kawasan Puncak. Alih fungsi lahan berlangsung dari aktivitas dengan land rent yang lebih rendah ke aktivitas-aktivitas dengan land rent yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasikan pola distribusi spasial inkonsistensi pemanfaatan ruang saat ini (eksisting) terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya inkonsistensi tersebut. Kegiatan penelitian dilakukan di Laboratorium Perencanaan dan Pengembangan Wilayah, DITSL IPB dan P4W LPPM IPB. Metode penelitian terbagi menjadi empat tahap, yaitu: 1) tahap persiapan dan pengumpulan data, 2) pengolahan data digital dan analisis spasial, 3) perhitungan jarak, dan 4) analisis regresi berganda dengan peubah dummy. Inkonsistensi pemanfaatan ruang yang terjadi di Kecamatan Cisarua dikelompokkan menjadi 26 bentuk, termasuk di dalamnya inkonsistensi peruntukan kawasan lindung dengan eksisting penggunaan lahan non lindung dan peruntukan lahan pertanian dengan eksisting penggunaan lahan non pertanian. Kecamatan Cisarua memiliki luas total sekitar 7406 ha. Luas total inkonsistensi ditemukan sekitar 1742 ha atau 23% dari luas total Kecamatan Cisarua, dengan jumlah total poligon inkonsisten sebanyak 1863 poligon. Bentuk inkonsistensi terbesar terjadi pada bentuk peruntukan hutan lindung dengan eksisting penggunaan lahan kebun teh sekitar 524 ha atau 7% dari luas total Kecamatan Cisarua. Dari kesepuluh desa yang diamati, total inkonsistensi terbesar terjadi di Desa Tugu Utara sekitar 570 ha atau 32% dari luas total inkonsistensi Kecamatan Cisarua. Faktor-faktor yang mempengaruhi luas inkonsistensi peruntukan hutan konservasi adalah jarak ke jalan kolektor, jarak ke jalan lokal, dan jarak ke jalan setapak yang berpengaruh positif. Wilayah yang lokasinya jauh dari jalan lebih berpotensi mengalami inkonsistensi pemanfaatan ruang. Adanya permukiman perkampungan cenderung meningkatkan luas inkonsistensi peruntukan hutan iii konservasi menjadi bentuk penggunaan lain. Luas inkonsistensi peruntukan hutan lindung menjadi bentuk penggunaan lain cenderung meningkat akibat pengaruh tingginya kepadatan penduduk, dominannya penduduk sejahtera (persentase keluarga miskin rendah). Adanya emplasemen/bangunan lain, permukiman perkampungan, villa, dan sawah berpengaruh signifikan dalam meningkatkan luas inkonsistensi peruntukan hutan lindung menjadi bentuk penggunaan lain. Secara umum luas inkonsistensi pada peruntukan kawasan lindung (hutan konservasi dan hutan lindung) menjadi bentuk penggunaan lain dipengaruhi oleh faktor tingginya kepadatan penduduk, dekatnya jarak ke jalan kolektor primer, rendahnya persentase keluarga miskin serta adanya emplasemen/bangunan lain, permukiman perkampungan, dan villa.
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/44579
      Collections
      • UT - Soil Science and Land Resources [2825]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository