Reproductive Bioiogy and Spawning Effort of The Silver Mouth Turban Snail Turbo argyrostoma Linnaeus, 1758

Date
2004Author
Sukandarsi, Eddy
Toelihere, Mozes R.
Eidman, Muhammad
Purwantara, Bambang
Danakusumah, Edward
Sutasurya, Lien A.
Metadata
Show full item recordAbstract
Suatu penelitian telah dilakukan tentang biologi reproduksi dan upaya pemijahan keong mata lembu Turbo argyrostoma Linnaeus, 1758 yang berasal dari perairan Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat. Penelitian berlangsung dari bulan Juni 2000 hingga Mei 2001, yang terdiri atas tiga kajian utama, yaitu: biologi reproduksi, bioekologi, dan teknologi pemijahan keong mata lembu. Metodologi analisis yang digunakan dalam penelitian ini, adalah: analisis visual (deskriptif), morfometri, dan histologi serta metode analisis statistik uji Chi-kuadrat. Hasil kajian biologi reproduksi keong mata lembu menunjukkan bahwa keong mata lembu adalah dioecious, keong jantan dan betina dapat dibedakan berdasarkan ciri-ciri morfologinya, yakni pada sepertiga bagian ujung atas apeks cangkangnya dengan bagian kiri bawah mulut cangkang, atau warna gonadnya. Sistem reproduksi keong jantan berbeda dengan keong betina, yaitu pada keong jantan saluran sperma langsung menuju ke penis yang rudimenter, sedang pada keong betina saluran telur menyatu dengan usus besar tepat di daerah anus. Keong mata lembu jantan lebih cepat matang gonad dibandingkan dengan keong betina, nisbah kelamin di alam setiap bulan beragam dan pemijahan dapat terjadi tiap bulan. Tingkah laku kawin terjadi pada pagi hari dan berlangsung selama empat jam. Perkembangan embrio setelah fertilisasi in vitro, pada suhu ruangan 27°C, hanya mencapai tahapan menetas pada menit ke-120. Hasil kajian bioekologi keong mata lembu, menunjukkan bahwa kondisi abiotik perairan habitat keong mata lembu adalah kandungan oksigen terlarut 3 – 5 ppm, pH 7 – 8, temperatur 23 – 26 °C, salinitas 32 – 33 ppt. Sedangkan habitat keong mata lembu adalah rataan terumbu yang ditumbuhi tumbuhan laut jenis Sargassum spp. Wadah penyimpanan terbaik untuk mentransportasi keong mata lembu adalah kotak pendingin yang di dalamnya diberi lapisan es (bagian bawah), koran (bagian tengah), dan koran pembungkus keong. Keberhasilan rangsangan pemijahan keong mata lembu terjadi setelah pemberian aerasi kuat selama delapan jam, pemberian suhu rendah selama dua jam, dan induk jantan yang dibuat lubang pada bagian apeks cangkangnya, namun hanya keong jantan yang memberi respons sedang keong betina tidak memijah. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kelamin keong mata lembu adalah terpisah, keong jantan dan betina mata lembu dapat dibedakan berdasarkan beberapa ciri morfologi cangkang serta warna gonadnya. Sistem reproduksi keong jantan dan betina berbeda, dan keong jantan lebih cepat dewasa (matang gonad) dibandingkan dengan keong betina. Tingkah laku kawin pada keong mata lembu terjadi di pagi hari. Rataan terumbu karang yang ditumbuhi oleh tumbuhan laut jenis Sargassum sp. merupakan habitat keong mata lembu. Aerasi kuat, temperatur rendah dan pembuatan lubang pada cangkang, dapat merangsang pemijahan pada keong mata lembu jantan.
Collections
- DF - Veterinary Science [311]

