Analisis hubungan keragaman hujan dan produktivitas tanaman jagung dan kedelai dengan fenomena enso (El-nbio southern oscillatioll)
Abstract
Hubungan antara fenomena ENSO dengan keragaman cumh hujan di daerah pertanaman jagung dan kedelai dianalisa dengan menggunakan korelasi silang yang secara langsung dapat menentukan lag yang terjadi. Selain itu pula dilakukan anal isis keragaman curah hujan yang terjadi pada peri ode EI-Nino, LaNina, dan Normal yang terjadi pada musim basah dan kering. Sedangkan pengaruh ENSO terhadap keragaman produktivitas jagung dan kedelai menggunakan bantuan model simulasi tanaman APSIM ver- 1.61. Hasil penelitian menunjukan bahwa ENSO bukan merupakan satu-satunya fenomena yang mempengaruhi keragaman curah hujan di daerah pertanaman jagung dan kedelai. Hal ini didasarkan pada nilai korelasi silang yang hanya berkisar antara 0,1221 (Pusakanegara) sampai 0,3390 (Genteng). Hasil lain menyimpulkan bahwa secara umum pengaruh ENSO akan terlihat sangat jelas terbadap keragaman hujan di pertanamanjagung dan kedelai pada musim kering daripada musim hujan. Tactical management (TM) adalab sistem pertanian yang mempertimbangkan aspek klimatologis dalam pelaksanaan budidaya pertanarnannya sedangkanfixed management (FM) adalah sistem pertanian yang tidak mempertimbangkan aspek klimatologis atau sering disebut sebagai teknologi petani. Pengaruh ENSO terhadap keragaman produktivitas terlihat jelas pada lahan dengan sistem FM dan sistem TM yang mempunyai ketersediaan air untuk tanamannya rendah. Hasil perbandingan antara sistem TM dan FM di Cikeumeuh menunjukan produktivitas TM lebih tinggi dibanding FM, hal ini terjadi karena kadar air tanah pada kondisi FM lebih ringgi dibanding TM baik pada fase perkecambahan maupun pembungaan yang akan menyebabkan tingkat pembusukan benih ringgi dan oprimalisasi pengikatan nitrogen tanah tidak tercapai sehingga produktivitas sistem FM akan rendah. Pada sistem TM peluang untuk mendapatkan tingkat produktivitas yang sarna pada berbagai fuse lOS adalah hampir sarna yaitu sebesar 0,8 pada fase 1 dan 3; 0,89 pada fase 5; dan 0,82 pada fase 2 dan 4 untuk mendapatkan basil >800 kglha, sedangkan pada sistem FM peluang yang didapatkan hanya 0,23 pada fuse I dan 3; 0,59 pada fase 5; dan 0,62 pada fase 2 dan 4.


