Preferensi Konsumen Pada Atribut Asuransi Kendaraan Bermotor Dan Implikasi Terhadap Strategi Pemasaran Asuransi Jasindo
Date
2026Author
Girsang, Gio Adamartata
Sumarwan, Ujang
Johan, Irni Rahmayani
Metadata
Show full item recordAbstract
Industri asuransi kendaraan bermotor di Indonesia saat ini berada dalam fase persaingan yang sangat ketat (hyper competition), di mana pertumbuhan volume kendaraan tahunan tidak secara otomatis berkorelasi linear dengan pertumbuhan pangsa pasar perusahaan. Asuransi Jasindo, sebagai salah satu entitas BUMN terkemuka di bawah holding IFG, menghadapi tantangan strategis berupa stagnasi pangsa pasar yang signifikan pada lini bisnis ritel ini. Pada tahun 2023, kontribusi premi perusahaan di pasar nasional hanya mencapai 0,67 persen, sebuah angka yang mengindikasikan adanya kesenjangan fundamental antara kapasitas institusional perusahaan dengan penetrasi pasar riil. Penelitian ini disusun untuk membedah struktur preferensi konsumen guna mengidentifikasi atribut produk yang memiliki daya dorong keputusan (decision drivers) paling kuat, memetakan heterogenitas pasar melalui segmentasi berbasis manfaat (benefit segmentation), serta merumuskan kerangka strategi pemasaran yang mampu mengakselerasi daya saing Asuransi Jasindo secara berkelanjutan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode choice based conjoint (CBC) analysis yang berlandaskan pada random utility theory. Berbeda dengan metode survei tradisional yang cenderung menghasilkan jawaban normatif, CBC memaksa responden melakukan pertukaran nilai (trade off) yang menyerupai simulasi belanja nyata di pasar. Enam atribut kunci dievaluasi secara simultan adalah skema harga, brand, coverage (luas pertanggungan), layanan klaim, layanan tambahan, dan akses layanan. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner daring dari 300 responden pemilik kendaraan roda empat di wilayah Jabodetabek yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Analisis statistik dilakukan dengan estimasi hierarchical bayes (HB) untuk mengekstraksi nilai utilitas Part worth tingkat individu yang memiliki presisi tinggi, serta latent class analysis (LCA) untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok konsumen tersembunyi berdasarkan kesamaan pola preferensi mereka.
Hasil penelitian mengungkapkan temuan kritis bahwa pada tingkat pasar agregat, layanan klaim mendominasi seluruh pertimbangan konsumen dengan bobot kepentingan relatif sebesar 38,19 persen. Atribut ini diikuti oleh layanan tambahan sebesar 18,39 persen dan skema harga sebesar 16,28 persen. Temuan ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma perilaku konsumen yang fundamental. Nasabah asuransi kendaraan kini lebih bersifat solution driven daripada sekadar price driven. Dalam persepsi nasabah, asuransi bukan lagi sekadar produk perlindungan finansial yang pasif, melainkan instrumen vital untuk memitigasi risiko gangguan produktivitas harian akibat hilangnya akses mobilitas. Oleh karena itu, kepastian kualitas layanan pada saat moment of truth (kejadian klaim) seperti jaminan kecepatan administrasi surat perintah kerja (SPK) satu hari dan kualitas teknis di bengkel authorized dianggap jauh lebih berharga daripada penghematan biaya melalui selisih premi. Sebaliknya, atribut tradisional seperti brand sebesar 7,70 persen dan coverage sebesar 7,02 persen justru menempati posisi terendah dalam hierarki keputusan. Fenomena ini menandakan bahwa kedua faktor tersebut telah bergeser menjadi hygiene factors atau ekspektasi dasar. Konsumen modern cenderung mengasumsikan bahwa setiap perusahaan asuransi berskala besar secara otomatis telah memiliki reputasi merek yang cukup baik dan luas jaminan yang seragam, sehingga faktor-faktor tersebut tidak lagi berfungsi sebagai pembeda utama yang mampu memicu perpindahan merek dalam keputusan akhir pembelian.
Melalui latent class analysis, pasar teridentifikasi terbagi secara tajam menjadi tiga segmen orientasi manfaat. Segmen mayoritas sebesar 63,9 persen, yaitu the functional efficiency seekers, menempatkan prioritas mutlak pada kepastian operasional, terutama pada kecepatan proses penerbitan SPK dan akses ke jaringan bengkel resmi (ATPM). Segmen kedua sebesar 24,4 persen, yaitu the value conscious brand loyals, masih menghargai reputasi merek BUMN namun tetap sangat peka terhadap proposisi nilai ekonomi yang kompetitif. Segmen ketiga sebesar 11,7 persen, yaitu the tech savvy seamless seekers, sangat memprioritaskan pengalaman digital tanpa hambatan sejak interaksi pertama. Hasil simulasi pasar menunjukkan potensi transformatif yang luar biasa jika Asuransi Jasindo mampu mengoptimalkan atributnya melalui skenario Jasindo Best (integrasi fitur klaim 1 hari, bengkel ATPM, dan fasilitas mobil pengganti), maka hal tersebut diprediksi akan meningkatkan potensi pangsa pasar perusahaan secara signifikan. Hal ini mengungkap adanya silent brand paradox, di mana kekuatan merek Jasindo sebenarnya sangat besar namun belum teraktivasi secara optimal di pasar ritel.
Penelitian ini merekomendasikan strategi targeted growth dengan fokus primer pada penguasaan Segmen 3 sebagai target pasar sasaran. Strategi ini diposisikan melalui positioning statement strategis "Jasindo Oto: Solusi Klaim Tercepat untuk Mobilitas Tanpa Jeda". Implikasi manajerial yang diusulkan meliputi transformasi radikal pada seluruh lini bauran pemasaran 7P, termasuk standardisasi fast track claim untuk perbaikan ringan, pemberian wewenang penerbitan SPK instan di lokasi kejadian kepada petugas penanganan klaim guna memangkas birokrasi, penerapan strategi premium loading untuk membiayai layanan nilai tambah, serta penguatan kemitraan strategis dengan diler ATPM dan perusahaan leasing untuk menutup availability gap di titik-titik krusial keputusan pembelian kendaraan.
Kata kunci: analisis konjoin, asuransi kendaraan bermotor, hierarchical bayes, latent class analysis, strategi pemasaran.
Collections
- MT - Economic and Management [3228]

