Kelayakan Usaha Madu Klanceng (Trigona sp) di Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap
Abstract
Permintaan madu klanceng (Trigona sp.) yang terus meningkat mendorong
pengembangan usaha budidaya di Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kelayakan usaha, efisiensi pemasaran,
dan kontribusi usaha madu klanceng terhadap pendapatan rumah tangga petani.
Penelitian dengan menggunakan metode survei dengan responden dipilih secara
sengaja. Kelayakan usaha diukur menggunakan Net Present Value (NPV), Internal
Rate of Return (IRR), Benefit Cost Ratio (BCR), efisiensi pemasaran, dan analisis
pendapatan. Hasil kelayakan usaha menunjukkan usaha ini layak dijalankan dengan
nilai NPV sebesar Rp28.843.547, IRR 9%, dan BCR sebesar 4,13. Terdapat tiga
saluran pemasaran yang terbentuk, yaitu penjualan langsung, daring, dan melalui
agen. Saluran pemasaran langsung dan daring terbukti lebih efisien dibandingkan
melalui agen, dengan farmer’s share pada saluran langsung mencapai 100% dan
efisiensi pemasaran sebesar 0,56%. Usaha budidaya madu klanceng memberikan
kontribusi sebesar 26,45% terhadap total pendapatan rumah tangga petani,
sementara 73.55% sisanya berasal dari sumber pendapatan non-madu. The increasing demand for Klanceng honey (Trigona sp.) encourages the
development of beekeeping businesses in Cipari District, Cilacap Regency. This
study aims to explain the feasibility of the business, marketing efficiency, and
contribution of the klanceng honey business to the income of farmer households.
The study used a survey method with respondents selected purposively. Business
feasibility is measured using Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return
(IRR), Benefit Cost Ratio (BCR), marketing efficiency, and income analysis. The
financial analysis results indicated that the business is feasible, with an NPV of IDR
28,843,547, an IRR of 9%, and a BCR of 4.13. There are three marketing channels
identified: direct sales, online sales, and agents. Direct marketing and online
marketing were proven to be more efficient than using agents, with the farmer's
share in the direct channel reaching 100% and a marketing efficiency of 0.56%. The
Klanceng honey cultivation business contributed 26,45% to the total household
income of farmers, while the remaining 73,55% came from non-honey income
sources.
Collections
- UT - Forest Management [3212]
