Kata Pengantar Budidaya Padi Di Jawa
Abstract
Tulisan ini mengulas dinamika ekologi dan sosiologi dari gerakan transmigrasi spontan di daerah Way Sekampung, Lampung Tengah, yang dimulai sekitar tahun 1950. Fenomena ini berakar dari kepadatan penduduk di desa-desa "kolonisasi lama" seperti Gedongtataan dan Pringsewu, di mana ketersediaan lahan sawah sudah sangat terbatas. Migrasi ini dipelopori oleh tokoh masyarakat (seperti "orang tua" dari Podorejo) yang melakukan "ibadat" membuka hutan untuk membantu warga yang tidak bertanah.
Proses pembukaan hutan dilakukan melalui tujuh tahap teknis: menerowong (penentuan batas), merintis (pembabatan belukar), menebang, merencek (pemotongan dahan), mepe (penjemuran), membakar, dan merumpuk (pembakaran sisa) . Tulisan ini menyoroti perbedaan kontras antara pola adaptasi ekologi orang Jawa dan orang Lampung. Orang Jawa cenderung menerapkan sistem "pertanian terbuka" dengan tanaman semusim seperti padi gogo dan kedelai. Sebaliknya, orang Lampung menerapkan sistem "pertanian tertutup" yang menyerupai hutan dengan menanam tanaman keras seperti kopi dan lada. Lokasi utama penelitian mencakup desa Kalirejo, Kaliwungu, Sridadi, serta perkampungan Lampung seperti Sinar Waya dan Way Krui.
Collections
- Sajogyo [84]
