Nutritional Consequences In “Growth With Equity And Participation” Approaches: The Indonesian Experience.
Abstract
Tulisan ini mengkaji status gizi penduduk sebagai "hasil akhir" (end result) dari seluruh upaya pembangunan, bukan sekadar urusan sektor kesehatan semata. Sajogyo menggunakan kerangka kerja "Pertumbuhan, Pemerataan, dan Partisipasi" yang dianjurkan oleh FAO (1981) dan menghubungkannya dengan kebijakan nasional Indonesia saat itu, yakni "Delapan Jalur Pemerataan". Delapan jalur tersebut meliputi pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok (pangan, sandang, papan), akses pendidikan dan kesehatan, pembagian pendapatan, kesempatan kerja, kesempatan berusaha, partisipasi pemuda dan wanita, penyebaran pembangunan wilayah, serta keadilan hukum.
Melalui naskah ini, Sajogyo mengidentifikasi lima subsistem yang menentukan status gizi: (a) ketersediaan pangan, (b) kemampuan rumah tangga memperoleh pangan (pendapatan), (c) keinginan memperoleh pangan (pendidikan gizi), (d) pemanfaatan pangan (pengolahan dan penyimpanan), dan (e) pemeliharaan kesehatan (klinik dan air bersih). Berdasarkan data empiris 1969-1982, ditemukan bahwa meskipun produksi padi meningkat dua kali lipat, kelompok masyarakat termiskin di pedesaan Jawa yang mengonsumsi menu campuran (padi-jagung-ubi) tidak mengalami peningkatan asupan kalori karena kenaikan harga pangan non-padi. Tulisan ini juga menguji kualitas hidup menggunakan Physical Quality of Life Index (PQLI), yang menunjukkan kesenjangan besar antara desa dan kota yang sulit diperkecil dalam waktu singkat.
Collections
- Sajogyo [84]

