Pembangunan yang Baik: Cukup Pangan dan Gizi Baik
Abstract
Sore itu, sekitar pukul 15.10 WIB, sebuah tenda ukuran 4x6 meter, dengan dominan warna biru dan putih sedang siap didirikan, di halaman rumah, tepat di depan kantor sekretariat Sajogyo Institute (Sains). Itulah salah satu bagian persiapan aca ra peringatan dan syukuran ulang tahun ke-82 Prof. Dr. Ir. Sajogyo pada 20 Mei 2008. Acara peringatan itu dirancang dengan mengundang jamaah pengajian ibu-ibu setempat beserta ustadnya untuk pengajian, potong tumpeng lalu diteruskan dengan silaturrahmi antargenerasi.
Saat kami meminta waktu beliau untuk berbincang dan berdiskusi guna kepentingan tulisan ini, di kamar pribadinya, Prof. Sajogyo tampak sedang duduk santai di atas ranjangnya. la menerima kami dengan senyum dan sapaan akrab. Bebe rapa buku dan majalah bergeletakan di atas ranjang. Sebuah tabung oksigen ukuran sedang tersedia di samping ranjang. Sekotak obat, madu, dan minuman tersedia juga di atas meja.
Begitulah, Prof. Sajogyo yang sempat menjalani perawatan intensif selama dua minggu lebih di rumah sakit', kini sedang menjalani masa pemulihan kesehatannya di kamar itu.
Namun, sejak dokter membolehkannya untuk "mandiri" bergerak dan beraktivitas, Prof. Sajogyo tidak lagi meng gunakan tongkat, yang sempat dipakainya beberapa kali. Meski demikian, selama masa sakitnya, semangat untuk berdiskusi, membimbing, dan mendidik kami di Sains tak
kunjung surut.
"Ini ada berita", katanya sambil memberikan fotokopi sebuah tulisan dari majalah Tempo tentang seorang nenek usia 86 tahun di Banyuwangi-Jatim yang meninggal pada saat pembagian bantuan tunai akhir Oktober 2005 lalu.
"Lho, mengatasi kemiskinan kok masih seperti itu ya? Ini indikasi apa?... Mungkin nanti akan muncul lagi penyelesaian masalah yang model dari atas ke bawah (top down). Kok saya ndak melihat unsur pemberdayaannya. Dan sampai mana model penyelesaian masalah seperti memiliki pengaruh dalam menyelesaikan akar masalah kemiskinan?"
Begitulah Prof. Sajogyo membuka perbincangan kami sore itu. Dengan suara lirih, tapi tetap jelas ia menguraikan detail secara analitis dan padat. Untuk beberapa hal bahkan ia mem-beri "kata kunci" untuk memahami persoalan. Semua kemampuannya itu membuat kami lupa akan usia beliau yang ber-anjak sepuh. Karena itu, kami pun sangat mudah mengajak Prof. Sajogyo berbincang dan berdiskusi panjang, lebih-lebih masalah pangan dan gizi, satu persoalan yang telah digelutinya sejak tahun 70-an.
Dengan sumringah Prof. Sajogyo meladeni obrolan dan pertanyaan kami. Bentangan keragaman perhatian Prof. Sajogyo menjulur jauh tidak saja pada wilayah akademis, tetapi juga masuk pada aras kebijakan/kelembagaan pemerintah dan di lingkungan pemberdayaan masyarakat. Hampir sepanjang karier publiknya ia menggeluti bidang kemiskinan, pembangunan desa, pangan dan gizi, kerja metodis ilmu sosial, dan sosial-ekonomi petani dan pedesaan lainnya. ...
Collections
- Sajogyo [84]
