Garis Kemiskinan dan Kebutuhan Minimum Pangan
Abstract
Beragam alternatif ukuran garis kemiskinan yang diajukan H. Esmara (Universitas Andalas) hanya memakai ukuran "di bawah rata-rata". Yaitu angka: (a) konsumsi beras (kg per orang); (b) konsumsi 9 bahan pokok; (c) pengeluaran rumah tangga (Rp/orang); dan (d) konsumsi kalori dan protein/orang/hari (secara terpisah) dengan membedakan nilai rata-rata menurut Jawa dan lain daerah, dan desa atau kota.
"Di bawah rata-rata" itulah yang disebut "miskin". Tetapi masih ada alternatif lain yang lebih tepat, yaitu di bawah 50% median.
Kekurangan pada cara/ukuran relatif tersebut ialah, garis ke-miskinan itu tidak dihubungkan dengan keperluan pokok, paling tidak keperluan pangan di mana patokannya makin mantap. Yaitu berdasar susunan umur/sex rumah tangga, jenis pekerjaan, dan sebagainya, berkat penelitian WHO/FAO.
Juga, cara dari segi kebijaksanaan. Cara itu belum dapat menunjukkan bagaimana dan berapa besarnya biaya usaha mengatasi kemiskinan itu oleh "masyarakat luas" dan oleh golongan miskin tersebut!
Distribusi pendapatan juga tak menyinggung "keperluan pokok pangan" sesuai keperluan tiap orang/rumah tangga. Pertanyaan: Jika distribusi makin baik, apakah yang miskin sudah "mentas" dari kekurangan pangan? Pertanyaan itu belum terjawab. ...
Collections
- Sajogyo [84]
