Struktur Agraria, Proses Lokal, Dan Pola Kekuasaan.
Abstract
Tulisan ini merupakan sebuah refleksi historis dan sosiologis Sajogyo mengenai perkembangan studi pedesaan dan transformasi struktur agraria di Indonesia. Sajogyo mengawali naskah ini dengan merujuk pada pemikiran Iwan Gardono (2001) mengenai perlunya reformasi konstitusi yang lebih "populis" dengan mempertimbangkan kondisi sosiologis masyarakat "poros bawah" (petani, nelayan, buruh) agar tidak terus tertinggal. Sajogyo memaparkan data perubahan struktural antara tahun 1975-1993, di mana jumlah rumahtangga petani menurun (48% ke 40%), sementara sektor bukan-petani di desa meningkat.
Naskah ini mengulas perdebatan klasik mengenai masyarakat desa Jawa, terutama kritik Sajogyo terhadap teori "Involusi Pertanian" Clifford Geertz yang mengasumsikan adanya "kemiskinan terbagi" tanpa diferensiasi. Sebaliknya, Sajogyo menunjukkan bukti adanya lapisan elite petani yang progresif sejak awal 1950-an. Selanjutnya, Sajogyo menceritakan perjalanan riset Agro-Economic Survey (SAE) dan Studi Dinamika Pedesaan (SDP) yang mendokumentasikan dampak Revolusi Hijau, termasuk fenomena tersisihnya buruh panen wanita oleh teknologi huller dan perubahan alat panen. Tulisan diakhiri dengan evaluasi metodologis terhadap berbagai teori petani (peasant) dan pentingnya pendekatan sosiologi Weberian untuk memahami struktur agraria secara utuh.
Collections
- Sajogyo [84]
