Kata Sambutan Pada Buku Sengketa Agraria: Pengusaha Perkebunan Melawan Petani.
Abstract
Buku Karl Pelzer ını adalah kelanjutan cerita darı pelaku utama dalam "tuan kebun" dan "petanı" di Sumatra Utara (bagian timur) Dalam bagian kedua ını dıgambarkan perlawanan satu sama lain antara para pelaku utama itu dalam masa 1947-1958
Sebagai seorang penelita muda yang sempat mengikuti selama empat bulan studı masalah agraria di Sumatra Utara, tahun 1955/56 yang dilakukan Karl Pelzer (guru besar Universitas Yale) dan pada tahap berikutnya (1956) di Sumatra bagian selatan, di Lampung me-nemukan contoh wilayah luas pembukaan baru (teruka, bahasa Jawa) dan mulai memakai ıstılah "transmigrası spontan" (mandırı) (tesis doktoral dalam bidang Pertaman, Universitas Indonesia di Bogor, tahun 1955) Pernah saya mengajukan tesis bahwa dua kasus itu, Sumatra Utara (bagian timur) dan Lampung adalah satu bentuk "land reform spontan" darı masyarakat petanı kecil kıta Memang proses itu tidak bebas darı dorongan pemerintah yang berwenang di zaman perang Pasifik dan masa Revolusı Fısık kebangunan RI (1945 -1949), sebagian memanfaatkan lahan perkebunan besar dan dı Jawa, juga Tanah Negara, khususnya yang berhutan
Dari segi pandang tesis itu UUPA 1960 dan Land Reform 1960-1965 merupakan bentuk intervensi negara yang "tertinggal kereta apı" (zaman)'
Dan kasus Sumatra Utara yang diuraikan Karl Pelzer dalam buku ını adalah kasus "upaya pengelolaan land reform 1960 nasional yang formal Kasus itu terutama dibangun darı penelaahan sekian banyak dokumen dı pihak "tuan kebun" dan secara lebih terbatas, sumber dokumen pemerintah dan berita/tajuk dı pers daerah Istilah yang paling sering ditemukan adalah "penduduk har" petanı yang melakukan okupası lahan konsesı perkebunan besar secara tidak sah ...
Collections
- Sajogyo [84]
