Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Alih Fungsi Lahan Sawah di Kabupaten Bandung
Abstract
Pertanian sebagai sektor yang memiliki kontribusi penting terhadap
ketahanan pangan di Indonesia dihadapkan dengan permasalahan alih fungsi lahan
pertanian. Alih fungsi lahan pada dasarnya tidak dapat dihindari dalam pelaksanaan
pembangunan. Maraknya alih fungsi lahan sawah di Kabupaten Bandung
berdampak pada berkurangnya hasil produksi pertanian. Fenomena ini
menimbulkan kekhawatiran akan berkurangnya luas lahan pertanian produktif
sehingga dapat mengancam ketahanan pangan lokal. Lokasi yang dipilih dalam
penelitian ini adalah Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Tujuan dari
penelitian ini adalah menganalisis laju alih fungsi lahan pertanian sawah,
menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi alih fungsi lahan pertanian dan
mengestimasi dampak ekonomi alih fungsi lahan pertanian di Kabupaten Bandung
dalam kurun waktu 15 tahun (2009-2023). Analisis dilakukan dengan
menggunakan analisis laju alih fungsi parsial, model regresi linear berganda
menggunakan ordinary least square (OLS) dan analisis kuantitas serta nilai
produksi yang hilang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi alih fungsi lahan
sawah yang signifikan dalam kurun waktu tahun 2009 hingga 2023 sebesar 7.690
hektar dengan rata-rata penyusutan 1,54 persen per tahun. Luasan sawah menyusut
dari 34.962 hektar pada tahun 2015 menjadi 26.533 hektar pada tahun 2023. Faktor
yang menjadi pengaruh utama dalam fenomena alih fungsi lahan pertanian sawah
di Kabupaten Bandung adalah peningkatan PDRB industri dengan estimasi rata
rata volume produksi padi yang hilang mencapai 3.084,49 ton dan rata-rata nilai
ekonomi yang hilang sebesar 14,2 miliar rupiah per tahun. Agriculture, as a sector with a vital contribution to food security in Indonesia,
is currently confronted with the issue of agricultural land conversion. Land
conversion is essentially unavoidable in the implementation of development. The
widespread conversion of paddy fields in Bandung Regency has resulted in a
decrease in agricultural production. This phenomenon raises concerns regarding the
reduction of productive agricultural land, which could threaten local food security.
The location selected for this study is Bandung Regency, West Java Province. The
purpose of this research is to analyze the rate of paddy field conversion, identify the
factors influencing land conversion, and estimate the economic impact of
agricultural land conversion in Bandung Regency over a 15-year period (2009
2023). Analysis was conducted using partial land conversion rate analysis, multiple
linear regression models using Ordinary Least Square (OLS), and analysis of lost
production quantity and value. The results indicate a significant conversion of
paddy fields between 2009 and 2023, totaling 7,690 hectares with an average annual
shrinkage rate of 1.54 percent. The area of paddy fields decreased sharply from
34,962 hectares in 2015 to 26,533 hectares in 2023. The primary influencing factor
in the phenomenon of agricultural land conversion in Bandung Regency is the
increase in industrial GRDP (Gross Regional Domestic Product), with an estimated
average loss of rice production volume reaching 3,084.49 tons and an annual
average loss of economic value amounting to 14.2 billion rupiah.
