View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Dissertations
      • DT - Business
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Dissertations
      • DT - Business
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Model Perilaku Bank Umum dalam Menetapkan Suku Bunga Simpanan dan Pengaruh Suku Bunga Penjaminan LPS, terhadap Efektivitas Kebijakan Suku Bunga Bank Sentral

      Thumbnail
      View/Open
      Cover (878.6Kb)
      Fulltext (4.882Mb)
      Lampiran (1.310Mb)
      Date
      2026
      Author
      Widiyanti, Shandra
      Siregar, Hermanto
      Ratnawati, Anny
      Suwandi
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Sistem keuangan Indonesia yang berbasis perbankan menjadikan perilaku bank umum sebagai elemen kunci dalam keberhasilan transmisi kebijakan suku bunga Bank Sentral. Dalam praktiknya, mekanisme transmisi tersebut beroperasi dalam lingkungan kebijakan yang tidak tunggal, karena selain suku bunga kebijakan Bank Sentral, terdapat suku bunga penjaminan simpanan yang secara formal ditetapkan dan menjadi batas operasional perbankan. Keberadaan dua acuan suku bunga ini berpotensi menimbulkan perbedaan sinyal kebijakan yang direspons oleh bank umum dalam menetapkan suku bunga simpanan. Permasalahan utama yang dikaji dalam penelitian ini adalah kecenderungan bank umum dalam menetapkan suku bunga simpanan yang tidak sepenuhnya merefleksikan perubahan suku bunga kebijakan Bank Sentral, serta implikasi perilaku tersebut terhadap efektivitas kebijakan suku bunga dalam mengendalikan perekonomian. Fenomena ini mengindikasikan adanya mekanisme penyesuaian perilaku bank yang bersifat heterogen, tidak linier, dan dipengaruhi oleh kombinasi faktor kebijakan, regulasi, serta dinamika pasar. Sejalan dengan permasalahan tersebut, penelitian ini memiliki tiga tujuan utama: (1) menganalisis acuan suku bunga yang digunakan bank umum dalam menetapkan suku bunga simpanan; (2) mengembangkan model perilaku bank umum dalam penyesuaian suku bunga simpanan serta keterkaitannya dengan kinerja keuangan perbankan; dan (3) menganalisis dampak perilaku penetapan suku bunga simpanan terhadap efektivitas kebijakan suku bunga Bank Sentral. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran (mixed-methods) yang mengintegrasikan analisis kualitatif dan kuantitatif secara berurutan dan saling melengkapi. Pada tahap awal, digunakan pendekatan kualitatif eksploratif berbasis kuesioner terstruktur kepada eksekutif perbankan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam penetapan suku bunga simpanan. Hasil kualitatif tersebut disintesis melalui pemetaan diagram (diagram map) untuk menggambarkan konfigurasi acuan kebijakan, determinan internal dan eksternal, serta pola interaksi strategis dalam proses pengambilan keputusan suku bunga. Pada tahap kuantitatif, metode ekonometrika disesuaikan dengan tujuan penelitian. Model Autoregressive Distributed Lag (ARDL) digunakan untuk menganalisis respons jangka pendek, hubungan jangka panjang, serta kecepatan penyesuaian suku bunga simpanan terhadap suku bunga kebijakan Bank Sentral dan suku bunga penjaminan simpanan. Uji Granger Causality Toda–Yamamoto digunakan untuk memetakan arah hubungan sebab-akibat antara suku bunga simpanan, indikator kinerja keuangan internal bank, indikator makroekonomi, dan suku bunga kompetitor. Selanjutnya, model Vector Autoregressive (VAR) Generalized Impulse Response Function (GIRF) digunakan untuk mengevaluasi respons dinamis suku bunga simpanan terhadap guncangan kebijakan suku bunga serta jeda waktu transmisi kebijakan. Hasil pemetaan kualitatif melalui diagram map menunjukkan bahwa penetapan suku bunga simpanan melibatkan interaksi kompleks antara sinyal kebijakan, regulasi penjaminan, kondisi likuiditas, dan tekanan persaingan antar bank. Perilaku bank umum dalam menetapkan suku bunga simpanan tidak bersifat monolitik, melainkan menunjukkan heterogenitas yang kuat dan dapat diklasifikasikan ke dalam arketipe strategis yang berbeda. Hasil uji menunjukkan adanya perbedaan mekanisme penyesuaian, di mana sebagian bank memiliki penyesuaian berbasis ekuilibrium jangka panjang yang relatif stabil, sementara mayoritas bank cenderung menetapkan suku bunga simpanan dengan orientasi jangka pendek yang lebih dipengaruhi oleh dinamika eksternal, persaingan pasar, serta karakteristik internal dan struktur pendanaannya. Lebih lanjut, hasil analisis mengonfirmasi bahwa respons suku bunga simpanan terhadap guncangan suku bunga penjaminan simpanan secara konsisten lebih kuat dan lebih persisten dibandingkan respons terhadap guncangan suku bunga kebijakan Bank Sentral. Dominasi respons terhadap suku bunga penjaminan tersebut disertai dengan adanya inersia harga dan keterlambatan transmisi yang signifikan, terutama pada tenor simpanan jangka menengah dan panjang, serta pada kelompok bank dengan kapasitas modal yang lebih kecil. Analisis juga menunjukkan bahwa respons variabel kinerja internal bank, relatif lebih lemah dan kurang persisten dibandingkan respons terhadap sinyal eksternal dan indikator makroekonomi inflasi dan Produk Domestik Bruto (PDB). Temuan ini menunjukkan bahwa dalam kerangka dual benchmark, penetapan suku bunga simpanan lebih dipengaruhi oleh pertimbangan stabilitas pendanaan dan persepsi risiko sistemik yang tercermin dalam sinyal eksternal dan kondisi makroekonomi, sehingga transmisi kebijakan suku bunga tidak berlangsung secara langsung dan simetris, melainkan tertunda akibat interaksi perilaku bank, struktur pasar, dan batas regulasi. Implementasi kebijakan dalam kerangka dual acuan suku bunga memerlukan penguatan koordinasi lintas otoritas dan penajaman peran kelembagaan agar sinyal kebijakan yang diterima perbankan bersifat konsisten dan tidak terfragmentasi. Bank Indonesia perlu memperkuat efektivitas sinyal suku bunga kebijakan melalui strategi komunikasi moneter yang konsisten dan berorientasi ekspektasi agar BI RATE berfungsi sebagai jangkar utama pembentukan harga dana, sementara Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memosisikan suku bunga penjaminan secara lebih adaptif dan market-following untuk menghindari dominasi sinyal proteksi. Di sisi industri, bank umum perlu menerapkan strategi likuiditas dan penetapan suku bunga yang selaras dengan BI RATE sebagai acuan utama, disesuaikan dengan karakteristik bank, didukung oleh pricing kredit yang konsisten, harmonisasi kebijakan dengan regulator, pemanfaatan instrumen non-bunga, serta penggunaan internal hurdle Rate/FTP sebelum merespons LPS RATE dan dinamika persaingan, sementara peningkatan transparansi suku bunga menjadi dasar pengambilan keputusan yang lebih rasional bagi pemangku kepentingan dan mendukung transmisi kebijakan suku bunga yang lebih efektif dan berkelanjutan.
       
      Indonesia’s bank-centric financial system makes commercial bank behavior a key element in the successful transmission of central bank interest rate policy. In practice, this transmission mechanism operates within a heterogeneous policy environment, wherein the central bank's policy rate coexists with a statutory deposit guarantee rate that acts as a constraint on banking operations. The simultaneous existence of these two interest rate benchmarks creates distinct, and occasionally conflicting, policy signals to which commercial banks must respond when setting deposit rates. The primary problem addressed in this research is the tendency of commercial banks to exhibit incomplete pass-through of central bank policy rate changes, as well as the consequent impact of this behavior on the effectiveness of monetary policy in stabilizing the economy. This phenomenon suggests a heterogeneous, nonlinear adjustment mechanism in bank behavior, driven by a complex interplay of policy, regulatory, and market dynamics. In line with these issues, this research has three main objectives: (1) analyzing the interest rate benchmarks used by commercial banks in setting deposit rates; (2) developing a model of commercial bank behavior in adjusting deposit rates and its relationship to bank financial performance; and (3) analyzing the impact of deposit rate-setting behavior on the effectiveness of central bank interest rate policy. This research employs a mixed-methods approach that integrates qualitative and quantitative analyses in a sequential and complementary manner. Initially, an exploratory qualitative approach, based on a questionnaire administered to banking executives, was used to identify factors considered in setting deposit interest rates. These qualitative results were synthesized into a map diagram to illustrate the configuration of policy benchmarks, internal and external determinants, and strategic interaction patterns in the interest rate decision-making process. In the quantitative phase, econometric methods were adapted to the research objectives. The Autoregressive Distributed Lag (ARDL) model was used to analyze the short-term response, long-term relationship, and speed of adjustment of deposit interest rates to the central bank's policy rate and the deposit guarantee rate. The Toda–Yamamoto Granger Causality test was used to map the direction of the relationship between deposit interest rates, internal bank financial performance indicators, macroeconomic indicators, and competitor interest rates. Next, a Vector Autoregressive (VAR) Generalized Impulse Response Function (GIRF) model was used to project the dynamic response of deposit interest rates to interest rate policy shocks and the time lag in policy transmission. Qualitative results, using map diagrams, indicate that determining deposit interest Rates involves a complex interaction among policy signals, guarantee regulations, liquidity conditions, and competitive pressures among banks. Commercial banks' behavior in setting deposit Rates is not monolithic but rather highly heterogeneous and can be classified into distinct strategic archetypes. The test results indicate differences in adjustment mechanisms, with some banks adopting relatively stable, long-term, equilibrium-based adjustments, while most banks tend to set deposit Rates with a short-term orientation, more influenced by external dynamics, market competition, and their internal characteristics and funding structure. Furthermore, the analysis confirms that the response of deposit interest Rates to shocks to deposit guarantee Rates is consistently stronger and more persistent than the response to shocks to central bank policy Rates. The responsibility for the guaranteed interest Rate is associated with significant price inertia and transmission delays, particularly for medium- and long-term deposit tenors and for banks with smaller capital capacities. The analysis also shows that the response variables for banks' internal performance are relatively weaker and less persistent than the responses to external factors, including macroeconomic inflation and Gross Domestic Product (GDP). This finding suggests that within the dual benchmark framework, deposit interest Rate setting is more influenced by considerations of funding stability and perceptions of systemic risk, as reflected in external signals and macroeconomic conditions. Consequently, interest Rate policy transmission is neither direct nor symmetrical; the interplay of bank behavior, market structure, and regulatory constraints delays it. Policy implementation within a dual-interest-Rate-benchmark framework requires strengthened coordination across authorities and sharpened institutional roles to ensure that banks receive consistent, unfragmented policy signals. Bank Indonesia needs to strengthen the effectiveness of policy Rate signals through a consistent, expectations-oriented monetary communication stRategy so that the BI RATE serves as the primary anchor for fund pricing, while the Deposit Insurance Corporation (LPS) positions its guaranteed interest Rate more adaptively and market-followingly to avoid the dominance of protectionist signals. On the industry side, commercial banks need to implement liquidity and interest Rate-setting strategies aligned with the BI RATE as the primary benchmark, tailored to the bank's characteristics, supported by consistent credit pricing, policy harmonization with regulators, the use of non-interest instruments, and the use of internal hurdle Rates/FTPs before responding to the LPS RATE and competitive dynamics. Meanwhile, increased interest Rate transparency provides a basis for more rational decision-making by stakeholders and supports more effective and sustainable interest Rate policy transmission.
       
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172521
      Collections
      • DT - Business [384]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository