Analisis Efisiensi Produksi, Preferensi Risiko, dan Keberlanjutan Usaha Peternakan Sapi Perah Perkotaan di Provinsi DKI Jakarta
Date
2026Author
Magrianti, Tessa
Yusman
Falatehan, A. Faroby
Suprehatin
Metadata
Show full item recordAbstract
Usaha peternakan sapi perah rakyat di Provinsi DKI Jakarta merupakan bagian penting dari sistem pangan perkotaan (urban food system) yang menyediakan susu segar lokal di tengah tingginya tekanan urbanisasi. Usaha ini beroperasi dalam kondisi keterbatasan lahan, keterbatasan hijauan pakan, tingginya biaya tenaga kerja, serta ketidakpastian harga input dan output. Kepadatan penduduk DKI Jakarta yang mencapai 16.341 jiwa/km² (BPS, 2022) semakin mempersempit ruang bagi pengelolaan pakan, kandang, dan fasilitas pendukung. Dalam konteks tersebut, keberlanjutan peternakan sapi perah perkotaan tidak hanya ditentukan oleh peningkatan skala usaha, tetapi oleh kemampuan peternak dalam mengelola efisiensi produksi, risiko usaha, dan pemanfaatan sumber daya secara optimal.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif faktor-faktor produksi dan profitabilitas usaha, tingkat efisiensi teknis dan ekonomi, preferensi risiko peternak terhadap input produksi, serta tingkat keberlanjutan usaha peternakan sapi perah perkotaan di DKI Jakarta. Penelitian dilaksanakan pada Oktober–November 2024 dengan metode sensus terhadap 56 peternak aktif (94,9% dari populasi). Data primer dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan observasi lapang, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi pemerintah dan koperasi.
Analisis dilakukan menggunakan beberapa pendekatan, yaitu: (1) fungsi produksi Cobb–Douglas untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi output susu dan profitabilitas usaha; (2) Stochastic Frontier Analysis (SFA) untuk mengestimasi efisiensi teknis dan ekonomi serta sumber-sumber inefisiensi; (3) model preferensi risiko Kumbhakar (2002) untuk mengestimasi perilaku risiko peternak secara simultan terhadap produksi dan risiko produksi; serta (4) pendekatan Sustainable Value Added (SVA) untuk menilai keberlanjutan usaha berbasis pemanfaatan sumber daya ekonomi, sosial, dan lingkungan, yang dilengkapi dengan perhitungan emisi gas rumah kaca menggunakan metode Tier-2 IPCC (2006).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi susu sapi perah di DKI Jakarta secara signifikan dipengaruhi oleh penggunaan konsentrat dan jumlah sapi laktasi. Tingkat efisiensi teknis peternak berada pada kategori cukup baik, namun belum optimal. Temuan penting menunjukkan bahwa keterbatasan utama usaha sapi perah perkotaan bukan terletak pada kemampuan teknis produksi, melainkan pada tingginya biaya memperoleh hijauan pakan akibat terpisahnya lokasi peternakan dengan sumber pakan. Rata-rata biaya produksi tahunan per satuan ternak sebesar Rp13.448.374,00, dengan struktur biaya didominasi oleh pakan (ampas tahu 25,08%, hijauan 12,26%, konsentrat 9,40%) dan tenaga kerja (26,06%). Meskipun menghadapi tekanan biaya tersebut, usaha sapi perah perkotaan tetap layak secara ekonomi, dengan penerimaan rata-rata Rp28.341.980,00 per satuan ternak per tahun dan laba bersih atas total biaya 12.219.316,00, serta nilai R/C ratio atas biaya total sebesar 1,76.
Analisis preferensi risiko menunjukkan bahwa peternak sapi perah di DKI Jakarta memiliki perilaku risiko yang heterogen dan spesifik terhadap jenis input. Peternak cenderung bersikap risk averse terhadap input pakan dan tenaga kerja, yang tercermin dalam alokasi input di bawah standar rekomendasi sebagai upaya menekan risiko biaya. Sebaliknya, perilaku risk taker ditunjukkan pada jumlah sapi laktasi serta penggunaan obat dan vitamin, yang dipersepsikan penting untuk menjaga kesinambungan produksi. Pola ini mencerminkan strategi adaptasi peternak perkotaan dalam menyeimbangkan risiko produksi dan risiko biaya di tengah keterbatasan sumber daya dan ketidakpastian usaha.
Hasil analisis SVA menunjukkan variasi tingkat keberlanjutan usaha yang cukup besar, dengan nilai berkisar antara –Rp31.752.000,00 hingga Rp588.659.000,00 per tahun, dan rata-rata sebesar Rp121.588.000,00. Sekitar 21% peternak berada pada kategori keberlanjutan terendah, sementara 23% peternak memiliki rasio efisiensi keberlanjutan (RtC) di bawah satu, yang menunjukkan penggunaan sumber daya yang belum efisien. Variabel tenaga kerja dan kapital terbukti menurunkan kinerja keberlanjutan karena menyerap biaya besar tanpa peningkatan output yang sebanding, terutama akibat aktivitas pencarian hijauan yang memakan waktu. Sebaliknya, sarana produksi dan pengelolaan lingkungan memberikan kontribusi positif terhadap penciptaan nilai keberlanjutan usaha.
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa keberlanjutan usaha peternakan sapi perah perkotaan di DKI Jakarta ditentukan oleh keterpaduan antara efisiensi teknis, perilaku pengelolaan risiko, dan kemampuan menciptakan nilai keberlanjutan di bawah keterbatasan sumber daya perkotaan. Temuan ini memberikan dasar empiris yang kuat bagi perumusan kebijakan penguatan peternakan sapi perah urban, khususnya melalui stabilisasi pasokan pakan, peningkatan layanan kesehatan ternak, penguatan kelembagaan koperasi, serta dukungan pembiayaan dan manajemen usaha yang adaptif terhadap karakteristik wilayah perkotaan.
