Interaksi antara Manusia dan Orangutan Kalimantan: Analisis Sentimen dan Pemodelan Spasial
Date
2026Author
Desantoro, Tri Giyat
Prasetyo, Lilik Budi
Lubis, Muhammad Irfansyah
Metadata
Show full item recordAbstract
Interaksi antara manusia dan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) merupakan fenomena kompleks yang banyak terjadi di wilayah dengan tekanan deforestasi dan perubahan tutupan lahan yang tinggi. Interaksi manusia–orangutan (IMO) umumnya muncul dalam bentuk konflik, seperti perusakan kebun dan pencurian hasil panen, yang berdampak pada kerugian ekonomi serta pembentukan persepsi negatif masyarakat terhadap orangutan. Selain konflik langsung, bentuk interaksi negatif lain seperti pemeliharaan orangutan hasil temuan juga meningkatkan risiko hilangnya sifat liar dan perdagangan satwa liar ilegal, sehingga IMO berdampak tidak hanya pada aspek ekologis, tetapi juga sosial dan ekonomi.
Integrasi informasi potensi terjadinya IMO dan perspektif masyarakat secara spasial belum banyak dilakukan. Penghimpunan data antara perspektif masyarakat dengan area terjadinya IMO oleh badan/organisasi konservasi yang fokus orangutan belum efektif dan terintegrasi. Oleh karena itu, penelitian ini memanfaatkan berita daring untuk menilai sentimen masyarakat dari opini yang muncul dalam konten berita. Tipe IMO yang muncul pada konten berita menjadi data used membangun model spasial potensi IMO. Analisis sentimen dianalisa dengan kamus struktur emosi indonesia dan Model IMO dikembangkan menggunakan Resources Selection Function (RSF) yang diestimasi melalui Generalized Linear Models (GLM). Kedua analisa dilakukan menggunakan Rstudio 4.3.2 dan dipetakan dengan arcGis 10.8.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sentimen masyarakat terhadap IMO pada tingkat desa di Kalimantan didominasi oleh sentimen netral, diikuti oleh sentimen negatif dan positif, dengan sentimen negatif ditandai oleh emosi tunggal dan majemuk. Pemodelan spasial RSF IMO mendapatkan variabel utama IMO dipengaruhi oleh luas kelangsungan habitat dan populasi (PHV) orangutan dan luas gambut, dengan kontribusi tidak langsung dari hotspot kebakaran. Pemodelan spasial menggunakan pendekatan RSF mengidentifikasi model terbaik yang menunjukkan bahwa potensi interaksi cenderung terjadi di wilayah desa dengan habitat orangutan, memiliki area bergambut dan mengalami kebakaran, sehingga integrasi analisis sentimen dan pemodelan spasial memungkinkan penentuan prioritas wilayah mitigasi konflik manusia–orangutan.
Collections
- MT - Forestry [1541]
