View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Dissertations
      • DT - Fisheries
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Dissertations
      • DT - Fisheries
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Bubu Lipat Sapu-sapu (Busapu) Berumpan untuk Mengendalikan Populasi Ikan Sapu-Sapu (Pterygoplichthys spp) di Danau Tempe Sulawesi Selatan

      Thumbnail
      View/Open
      Cover (707.7Kb)
      Fulltext (4.287Mb)
      Lampiran (4.293Mb)
      Date
      2026
      Author
      Lendri
      Zulkarnain
      Taurusman, Am Azbas
      Wahju, Ronny Irawan
      Mulyono
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Danau Tempe terletak di bagian barat Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan, sekitar 7 km dari ibu kota Kabupaten Wajo (Sengkang) menuju tepian Sungai Walanae. Secara administratif, 54,6% wilayah Danau Tempe berada dalam wilayah Kabupaten Wajo, sedangkan sisanya terbagi antara Kabupaten Soppeng (34,6%) dan Kabupaten Sidenreng Rappang atau Sidrap (10,7%). Danau Tempe memiliki beberapa sumber daya ikan yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat lokal. Spesies ikan yang tertangkap di danau tersebut antara lain: ikan mas (Cyprinus carpio), ikan tawes (Osteochilus hasselti), ikan gabus (Ophiocephalus striatus), ikan sepat siam (Trichogaster pectoralis), ikan bungo (Glossogobius giuris), ikan tambakan (Helostoma temminckii), dan ikan nila (Oreochromis niloticus, dan ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys spp). Hasil tangkapan ikan bernilai ekonomis mengalami penurunan yang cukup signifikan. Penurunan tersebut diduga kuat disebabkan oleh kehadiran ikan invasif yaitu ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys spp) yang merupakan spesies introduksi dari luar perairan Indonesia. Spesies ini telah menunjukkan dominasi yang nyata di Danau Tempe, sehingga berpotensi mengganggu keseimbangan populasi ikan lokal dan menurunkan produktivitas perikanan tangkap. Dominasi ikan sapu-sapu di Danau Tempe memberikan dampak negatif terhadap kelestarian ikan lokal antara lain; menurunkan keanekaragaman hayati, menurunkan hasil tangkapan dan merusak alat tangkap. Akibatnya, penggunaan gill net mengalami penurunan dari tahun ke tahun, sementara penggunaan alat tangkap ilegal yang dikenal sebagai bubu naga justru mengalami peningkatan. Proses modifikasi desain alat tangkap Busapu yang dirancang untuk menangkap ikan sapu-sapu dilakukan melalui empat tahap, yaitu dua tahap pengujian di laboratorium dan dua tahap pengujian eksperimental di Danau Tempe. Pengujian laboratorium meliputi pengamatan terhadap respons perilaku ikan sapu-sapu terhadap umpan alami, aktivitas mendekati, dan kemampuan ikan memasuki alat tangkap Busapu. Pengujian eksperimental mencakup survei untuk memetakan fishing ground ikan sapu-sapu serta pengujian efektivitas dan efisiensi alat tangkap Busapu di Danau Tempe. Data penelitian dianalisis menggunakan metode parametrik dan nonparametrik. Ukuran pertama kali memijah (length at first maturity (Lm)) digunakan untuk menentukan hasil tangkapan yang layak tangkap berdasarkan ukuran panjang ikan menggunakan persamaan Froese dan Binohlan (2000). Analisis efektivitas dan efisiensi Busapu sebagai alat tangkap ikan sapu-sapu dilakukan dengan menggunakan persamaan yang dikemukakan oleh Akiyama (1997). Tujuan penelitian adalah: (1). Menentukan habitat ikan sapu-sapu di Danau Tempe berdasarkan parameter lingkungan perairan, (2). Menentukan jenis umpan alami yang disukai ikan sapu-sapu, (3). Menganalisis tingkah laku ikan sapu-sapu terhadap alat tangkap Busapu, (4). Menentukan desain Busapu untuk menangkap ikan sapu-sapu secara efektif dan efisien, dan 5). Menentukan komposisi dan efektivitas hasil tangkapan antara Busapu dengan alat tangkap yang digunakan oleh nelayan setempat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys spp) di Danau Tempe cenderung menyukai habitat perairan yang dangkal (<1 m), dengan kadar oksigen terlarut (DO) berkisar antara 5,20-6,32 mg/l. Parameter kedalaman dan DO merupakan indikator utama dalam penentuan fishing ground ikan sapu-sapu di Danau Tempe. Sementara itu, parameter yang lainnya seperti, pH, klorofil-a, dan suhu tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap distribusi dan kelimpahan ikan sapu-sapu di lokasi studi. Spesies ini diketahui memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap berbagai kondisi lingkungan perairan, baik yang tergolong normal maupun tercemar. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa umpan alami yang paling disukai ikan sapu-sapu adalah cacing tanah (Lumbricus rubellus) dibandingkan dengan cumi-cumi (Loligo sp). Ikan sapu-sapu yang paling sering mendekati umpan alami tersebut umumnya memiliki panjang total sekitar 25 cm, diikuti oleh ikan berukuran kurang dari 10 cm, dan terakhir ikan berukuran lebih dari 35 cm. Temuan ini menjadi dasar pemilihan cacing tanah sebagai umpan dalam uji coba Busapu di Danau Tempe. Pola pergerakan ikan sapu-sapu dalam memasuki area playground pada alat tangkap Busapu membutuhkan waktu yang relatif lama, dengan rata-rata durasi lebih dari dua jam sejak pembatas dilepaskan. Tingkah laku dan posisi ikan terhadap alat tangkap Busapu (rata-rata pada seluruh kelompok) menunjukkan bahwa ikan tidak langsung menuju ke funnel atau pintu masuk pertama. Melainkan ikan cenderung berenang mengelilingi alat tersebut dengan cara menempel pada dinding kolam dan jaring dengan frekuensi lambat, durasi pergerakan yang singkat dan jarak tempuh yang tidak terlalu jauh. Setelah itu, ikan cenderung berdiam diri, dengan waktu diam rata-rata berkisar antara 20 hingga 45 menit selama periode pengamatan. Pola pergerakan menuju pintu masuk (funne)l pertama ini dapat dibagi ke dalam dua pola utama, yaitu: (1) menyusuri jalur secara perlahan menuju pintu masuk (funnel) satu, dan (2) berenang langsung dengan arah menuju pintu masuk (funnel) satu. Selama dua jam pengamatan, distribusi posisi ikan di sekitar alat tangkap menunjukkan bahwa, ikan lebih sering berada di bagian kanan alat tangkap sebanyak 133 kali, diikuti oleh bagian belakang sebanyak 131 kali, dan paling sedikit di bagian atas dengan hanya 4 kali. Alat tangkap Busapu menghasilkan komposisi tangkapan yang terdiri atas 20% ikan lokal dan 80% ikan sapu-sapu. Tingkat layak tangkap ikan lokal yang diperoleh melalui penggunaan Busapu mencapai lebih dari 50% melebihi nilai acuan Lm. Berdasarkan persentase hasil tangkapan dan nilai kelayak tangkap tersebut, dapat disimpulkan bahwa alat tangkap Busapu sangat efektif dan efisien untuk digunakan dalam penangkapan ikan sapu-sapu di Danau Tempe
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172430
      Collections
      • DT - Fisheries [776]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository