Status Keberlanjutan dan Strategi Pengelolaan Danau Batur Provinsi Bali
Date
2026Author
Kholida, Santi Arifani
Mulatsih, Sri
Ridwan, Wonny Ahmad
Metadata
Show full item recordAbstract
Degradasi ekosistem danau telah menjadi tantangan lingkungan global yang cukup mendesak. Lebih dari setengah danau di dunia mengalami penurunan kualitas akibat tekanan antropogenik. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 60 tahun 2021 tentang Danau Prioritas Nasional, telah menetapkan Danau Batur sebagai salah satu danau prioritas nasional dikarenakan mengalami degadrasi lingkungan akibat pencemaran dan eutrofikasi sebagai akibat dari aktivitas antropogenik. Penelitian ini bertujuan untuk menilai status keberlanjutan Danau Batur pada dimensi ekologi, sosial, dan ekonomi pada desa-desa yang bersinggungan langsung dengan danau, serta merumuskan rekomendasi strategi pengelolaan berkelanjutan menggunakan pendekatan Rap-Lake dengan metode Multidimensional Scaling (MDS) yang hasilnya kemudian digunakan sebagai dasar dalam merumuskan strategi pengelolaan berkelanjutan dengan analisis SWOT.
Hasil penelitian menunjukkan status keberlanjutan berkisar pada kurang hingga cukup berkelanjutan untuk dimensi ekologi dan sosial. Sedangkan pada dimensi ekonomi, berada pada tidak berkelanjutan hingga cukup berkelanjutan. Batur Tengah memiliki performa terbaik dengan status cukup berkelanjutan pada ketiga dimensi, ekologi (60,59), sosial (64,87), ekonomi (58,41). Sebaliknya, Terunyan merupakan satu-satunya desa yang memiliki status tidak berkelanjutan, dengan skor dimensi ekonomi 22,60 (tidak berkelanjutan), ekologi 28,72 (kurang berkelanjutan), dan sosial 51,04 (cukup berkelanjutan). Degradasi lingkungan yang terjadi di Danau Batur disebabkan antara lain oleh jumlah keramba jaring apung (KJA) yang melebihi daya dukung optimal sebesar 10.902 petak dari kapasitas ideal 10.031 petak, limbah domestik mencapai 229.587,84 m3 per tahun yang menyebabkan eutrofikasi di perairan Danau Batur. Berdasarkan analisis leverage, dihasilkan sembilan atribut pengungkit yang memiliki nilai RMS melebihi nilai median. Atribut pengungkit ini kemudian menjadi landasan dalam merumuskan strategi pengelolaan untuk mencapai keberlanjutan Danau Batur.
Analisis SWOT kualitatif mengintegrasikan hasil MDS Rap-Lake untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal pengelolaan berkelanjutan Danau Batur. Dari analisis ini dihasilkan sembilan alternatif strategi, yang kemudian dilakukan perangkingan dan pembobotan dengan formula ROC (Rank Order Centroid). Dari pembobotan ini dihasilkan lima strategi prioritas yaitu pembatasan jumlah KJA dan perikanan alternatif, penguatan kelembagaan lokal dengan dukungan nasional, pengelolaan sampah dan limbah ramah lingkungan, pengembangan geowisata dan ekowisata berkelanjutan, serta mitigasi bencana berbasis kelembagaan lokal.
