Evaluasi Regresi Terklaster Fuzzy Spasial dan Penerapannya terhadap Data Stunting di Jawa Barat
Abstract
Data spasial dapat mengandung fenomena yang bersifat gradual dalam
perubahannya. Metode fuzzy merupakan metode yang dapat menangkap perubahan
gradual tersebut bahkan terhadap keragaman wilayah transisi. Data spasial pada
umumnya mengandung ketergantungan dan keragaman spasial. Pendekatan dengan
pengelompokan fuzzy spasial (spatial fuzzy clustering) dapat mengatasi keragaman
spasial dengan representasi yang lebih alami terhadap keragaman lokal,
mengurangi risiko kesalahan klasterisasi yang bersumber dari pemaksaan struktur
klaster yang kaku, menghasilkan pemodelan yang lebih adaptif terhadap struktur
spasial yang kompleks dan data yang besar, sehingga dapat meningkatkan presisi
dan stabilitas pendugaan. Penelitian ini menggunakan metode pengelompokan
fuzzy spasial SFCR (Spatial Fuzzy Clustered Regression) dan FGWCR (Fuzzy
Geographically Weighted Clustering Regression).
SFCR merupakan metode pengelompokan fuzzy spasial dengan penalti
spasial dan FGWCR adalah metode tanpa penalti spasial. Keduanya dievaluasi
melalui simulasi pada penelitian ini. Adanya penalti yang digunakan dapat
memperbaiki struktur model regresi yang dihasilkan, dimana lokasi amatan yang
berdekatan biasanya memiliki kesamaan karakteristik dan nilai koefisien regresi
sehingga berada dalam klaster yang sama. Data dirancang sehingga terdapat 6
klaster dalam proses simulasi. Terdapat tiga skenario yang digunakan yaitu skenario
lemah, moderat, dan kuat. Masing-masing skenario merupakan kombinasi dari
parameter autokorelasi spasial dan derajat fuzziness. Perubahan nilai derajat
fuzziness (??) akan mempengaruhi struktur klaster yang terbentuk. Autokorelasi
spasial (?) mengukur tingkat pengaruh lokasi tetangga dalam alokasi klaster. Oleh
karena itu simulasi dengan kombinasi perubahan nilai ? dan ?? penting dilakukan
untuk memahami seberapa besar kontribusi informasi spasial serta fleksibilitas
model fuzzy terhadap akurasi model dalam berbagai skenario. Penelitian ini juga
bertujuan untuk menerapkan model terbaik hasil simulasi terhadap data persentase
anak usia 0-59 bulan stunting di 539 kecamatan, provinsi Jawa Barat.
SFCR merupakan metode yang menggabungkan klasterisasi spasial dan
pembentukan persamaan regresi secara simultan, sehingga waktu komputasi
menjadi lebih efisien. Keunggulan SFCR dibandingkan metode lain yaitu adanya
struktur fuzzy yang dapat menangkap perubahan halus pada data, sehingga
keragaman dalam data dapat dimodelkan dengan lebih baik. FGWCR merupakan
pengembangan dari Fuzzy C-Means yang menyertakan pengaruh geografis.
FGWCR menghasilkan klaster yang mempertimbangkan kedekatan spasial dan
kesamaan atribut sehingga efektif digunakan pada data spasial.
Hasil simulasi menunjukkan metode SFCR lebih mampu mencerminkan
keragaman data dan pembagian klaster dengan akurat. Hal ini menunjukkan bahwa
pendekatan spasial dengan penalti dalam SFCR cukup efektif menjaga struktur
lokal, sekaligus menghasilkan segmentasi yang teratur dan jelas. Kebaikan model
dievaluasi oleh nilai RMSE. Semakin kecil nilai RMSE maka model yang
dihasilkan semakin baik. Nilai RMSE untuk metode SFCR pada autokorelasi
spasial lemah, moderat, dan kuat (?? = 1,5) berturut-turut yaitu 0,294; 0,288; dan
0,282, sedangkan untuk metode FGWCR yaitu 0,661; 0,543; dan 0,58. Nilai RMSE
metode SFCR konsisten berada di bawah FGWCR pada seluruh skenario,
menandakan SFCR lebih stabil dalam pendugaan.
Penerapan metode SFCR pada data empiris menghasilkan enam klaster.
Klaster 1 terdiri atas kecamatan-kecamatan yang berada di wilayah Tasikmalaya,
Pangandaran, Kota Banjar, Ciamis, Kecamatan Losarang di Indramayu, serta
Kecamatan Cikarang di Bekasi. Karakteristik klaster 1 ditandai oleh wilayah
wilayah dengan persentase kasus stunting yang tinggi. Klaster 2 merupakan area
wilayah Sukabumi dan Cianjur serta terdapat satu daerah Kecamatan Majalengka.
Klaster ini memiliki rataan persentase kasus stunting tertinggi kedua. Selanjutnya
wilayah Bandung, Garut, dan sebagian wilayah Sumedang termasuk ke dalam
klaster 3. Klaster ini ditandai dengan rataan persentase KK (Kepala Keluarga)
miskin tertinggi. Klaster 4 terdiri atas wilayah Cirebon, Kuningan, Majalengka, dan
sebagian Indramayu. Rataan persentase KK miskin di wilayah ini menempati urutan
tertinggi kedua. Wilayah Karawang, Purwakarta, Subang, dan sebagian Indramayu
termasuk ke dalam klaster 5. Rataan persentase kasus stunting dan KK miskin di
wilayah ini menempati urutan terendah kedua. Perhatian yang lebih besar perlu
diberikan terhadap ibu hamil, karena kondisi ibu hamil KEK (Kekurangan Energi
Kronis) paling tinggi rataan persentasenya. Rataan persentase kasus stunting
terendah berada di wilayah klaster 6 yang meliputi kecamatan yang berada di
Kabupaten Bogor dan Bekasi.
Peubah lokal yang berpengaruh terhadap persentase stunting dalam klaster
satu dan dua yaitu, kondisi ibu hamil KEK (??1), anak mengalami stunting/gizi
buruk mendapatkan tambahan asupan gizi (??4), dan anak menjalani imunisasi
lengkap (??5). Peubah lokal yang sama-sama berpengaruh terhadap persentase
stunting dalam klaster 3 dan 4 yaitu ??1 dan ??4. Peubah persentase anak usia 0-59
bulan menjalani imunisasi lengkap (??5) juga berpengaruh terhadap persentase
stunting dalam klaster 4. Peubah lokal yang berpengaruh dalam klaster 5 yaitu ??4
dan persentase KK miskin (??8). Selain peubah ??1, ??4dan ??5, peubah lokal yang
berpengaruh terhadap persentase stunting di klaster 6 adalah persentase akses air
minum bersih (??6) dan jamban sehat (??7).
