Rancang Bangun Model Adopsi Human Resource Analytics Dalam Upaya Meningkatkan Kinerja Bisnis Perusahaan di Indonesia
Date
2026Author
Ristandi, Dani Krishnamulya
Ma'arif, Mohamad Syamsul
Sukmawati, Anggraini
Affandi, Joko
Metadata
Show full item recordAbstract
Human Resource Analytics (HRA) has increasingly been recognized as a strategic instrument for improving the quality of human resource decision-making and overall organizational performance. Nevertheless, the adoption rate of HRA in many organizations, particularly within developing countries such as Indonesia, remains relatively low and often unsustainable. Previous studies have predominantly conceptualized HRA adoption as a technical or technological phenomenon, overlooking its inherently socio-technical nature. In reality, the adoption of HRA involves complex interactions among technological, organizational, environmental, and human factors, as well as objectives, change mechanisms, and evaluation processes.
This study aims to develop a comprehensive understanding of HRA adoption within Indonesian organizations by integrating three complementary analytical approaches: Partial Least Square-Structural Equation Modeling (SEM-PLS), Fuzzy Analytic Hierarchy Process (FAHP), and Interpretive Structural Modeling (ISM). The multi-method design enables the research to simultaneously address three fundamental questions: (1) which factors empirically influence HRA adoption, (2) which elements are perceived by experts as strategically most critical, and (3) how causal relationships and interdependencies among adoption elements are structured within the HRA system.
The SEM-PLS analysis reveals that environmental factor – particularly external support and competitive pressure – exert the most significant influence on HRA adoption compared to technological and organizational factors. This finding indicates that, in the Indonesian context, HRA adoption is largely driven by external ecosystem dynamics and the pursuit of competitive legitimacy, rather than solely by internal readiness. Moreover, HRA adoption demonstrates a positive and substantial impact on organizational performance, although the effect is indirect and mediated through the quality of analytical processes and evidence-based decision-making.
While SEM-PLS provides robust empirical evidence, it offers limited explanatory power in establishing implementation priorities and hierarchical relationships among adoption elements. To address this limitation, the FAHP approach is employed to determine the relative priority of various factors, actors, objectives, and strategies based on expert judgment. The FAHP findings indicate that a data-driven organizational culture and strong top management commitment are perceived as the most crucial enablers of successful HRA adoption. At the actor level, top executives and HR leaders play dominant roles, confirming that HRA adoption is a strategic organizational agenda rather than merely a technical initiative.
To further uncover the causal hierarchy and structural dependencies among key adoption elements, the study utilizes ISM and MICMAC analyses. The results reveal that not all elements form a linear hierarchy. Certain elements – such as program requirements, organizational change, and evaluation metrics – are systemic and interlocked, while others, including stakeholders and key constraints, exhibit clear hierarchical structures. Top management emerges as the primary driving force with the highest driving power and the lowest dependence, whereas limited budgets and analytical competencies serve as foundational structural drivers.
The MICMAC analysis reinforces these findings by categorizing elements based on their driving and dependence power. Strategic elements such as leadership, HRA roadmap, Data Literacy training, and the quality and speed of data-driven decision-making consistently appear as dominant drivers. Conversely, HR outcomes and organizational performance are classified as dependent elements, suggesting that the impact of HRA is indirect and cumulative – manifesting as a long-term outcome of effective analytical processes and systemic capability building.
The ISM Digraph visualizes the causal mechanism underlying HRA value creation, which follows the logic of “strategic-first, capability-driven, governance-enabled, and technology-last.” This layered process begins with strategic leadership and human capability development, continues with governance and compliance reinforcement, proceeds with technical implementation, and ultimately results in improved HR and organizational performance. Collaboration with external vendors or consultants is shown to be effective only after sufficient internal readiness has been established.
Collectively, the integrated results demonstrate that HRA adoption constitutes a complex, non-linear, and context-dependent socio-technical system. Statistically significant factors are not always the principal structural drivers, and elements perceived as strategically important cannot always be directly intervened upon. Therefore, sustainable HRA adoption requires a balanced and systemic approach that harmonizes strategy, human capability, governance, and technology readiness within the organizational context.
The main contribution of this study lies in its ability to differentiate between statistically significant, strategically important, and structurally prioritized elements within the HRA adoption process. Academically, this research advances the understanding of HRA adoption through a contextualized multi-method framework tailored to the realities of developing economies. Practically, it offers a structured and sustainable adoption model that provides actionable guidance for organizations in designing, implementing, and institutionalizing HRA initiatives. This model emphasizes strategic leadership, analytical capability development, and integrated data governance as critical levers for enhancing organizational performance in the era of digital transformation Human Resource Analytics (HRA) semakin diakui sebagai instrumen strategis dalam meningkatkan kualitas pengambilan keputusan sumber daya manusia (SDM) dan kinerja organisasi. Namun demikian, tingkat adopsi HRA di banyak organisasi, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia, masih tergolong rendah dan sering kali tidak berkelanjutan. Sebagian besar kajian sebelumnya cenderung memandang adopsi HRA sebagai fenomena teknis atau berbasis teknologi semata, padahal pada kenyataannya, adopsi HRA merupakan proses sosio-teknis yang kompleks yang melibatkan interaksi antara faktor teknologi, organisasi, lingkungan, aktor, tujuan, serta mekanisme perubahan dan evaluasi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan pemahaman yang komprehensif mengenai adopsi HRA pada organisasi di Indonesia dengan mengintegrasikan tiga pendekatan analisis yang saling melengkapi, yaitu Partial Least Square-Structural Equation Modeling (SEM-PLS), Fuzzy Analytic Hierarchy Process (FAHP), dan Interpretive Structural Modeling (ISM). Pendekatan multi-metode ini memungkinkan penelitian menjawab tiga pertanyaan utama secara simultan: (1) faktor-faktor yang berpengaruh secara empiris terhadap adopsi HRA, (2) elemen-elemen yang dipersepsikan sebagai paling penting secara strategis oleh para ahli, dan (3) bagaimana struktur kausal serta hubungan ketergantungan antar elemen dalam sistem adopsi HRA terbentuk.
Hasil analisis SEM-PLS menunjukkan bahwa faktor lingkungan, khususnya dukungan eksternal dan tekanan kompetitif, merupakan determinan paling signifikan terhadap adopsi HRA dibandingkan faktor teknologi dan organisasi. Temuan ini mengindikasikan bahwa dalam konteks Indonesia, adopsi HRA lebih banyak digerakkan oleh dinamika ekosistem eksternal dan kebutuhan legitimasi kompetitif daripada oleh kesiapan internal organisasi semata. Selain itu, adopsi HRA terbukti berpengaruh positif terhadap kinerja organisasi, meskipun pengaruh tersebut bersifat tidak langsung dan dimediasi oleh kualitas proses analitik serta efektivitas pengambilan keputusan berbasis data.
Walaupun pendekatan SEM-PLS memberikan bukti empiris yang kuat, metode ini memiliki keterbatasan dalam menjelaskan prioritas adopsi dan hubungan hierarkis antar elemen adopsi. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan pendekatan FAHP untuk menentukan prioritas relatif berbagai faktor, aktor, tujuan, dan strategi berdasarkan penilaian para ahli. Hasil FAHP menunjukkan bahwa budaya organisasi berbasis data dan komitmen manajemen puncak merupakan faktor paling krusial dalam keberhasilan adopsi HRA. Pada tingkat aktor, manajemen puncak dan pimpinan HR menjadi penggerak utama, mempertegas bahwa adopsi HRA merupakan agenda strategis organisasi, bukan semata inisiatif teknis.
Lebih lanjut, penelitian ini menerapkan pendekatan ISM dan analisis MICMAC untuk memetakan hubungan kausal dan hierarki antar elemen dalam sistem adopsi HRA. Hasil menunjukkan bahwa tidak semua elemen membentuk struktur hierarkis yang linear. Beberapa elemen seperti kebutuhan program, perubahan organisasi, dan ukuran evaluasi bersifat sistemik dan saling mengunci, sedangkan elemen lainnya, seperti pemangku kepentingan dan kendala utama, menunjukkan struktur hierarkis yang jelas. Manajemen puncak muncul sebagai driver utama dengan daya penggerak tertinggi, sementara keterbatasan anggaran dan kompetensi analis HRA menjadi penggerak struktural di tingkat dasar.
Analisis MICMAC memperkuat temuan tersebut dengan mengelompokkan elemen-elemen berdasarkan tingkat pengaruh (driving power) dan ketergantungan (dependence power). Elemen-elemen strategis seperti kepemimpinan puncak, peta jalan (roadmap) HRA, pelatihan literasi data, serta kualitas dan kecepatan pengambilan keputusan berbasis data secara konsisten muncul sebagai faktor penggerak utama. Sebaliknya, hasil SDM dan kinerja organisasi dikategorikan sebagai elemen dependen, menunjukkan bahwa dampak HRA bersifat tidak langsung dan merupakan hasil kumulatif dari efektivitas proses analitik dan kesiapan organisasi.
Hasil pemetaan ISM menggambarkan mekanisme penciptaan nilai HRA yang mengikuti logika “strategic-first, capability-driven, governance-enabled, dan technology-last.” Nilai HRA dibangun secara bertahap, dimulai dari kepemimpinan strategis dan penguatan kapabilitas manusia, dilanjutkan dengan pembangunan tata kelola dan kepatuhan, kemudian implementasi teknis, hingga akhirnya menghasilkan peningkatan outcome SDM dan kinerja organisasi. Kolaborasi dengan vendor atau konsultan eksternal menjadi efektif hanya setelah kesiapan internal organisasi terbentuk secara memadai.
Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa adopsi HRA merupakan sistem sosio-teknis yang kompleks, non-linear, dan sangat kontekstual. Faktor yang signifikan secara statistik tidak selalu berperan sebagai penggerak struktural, dan elemen yang dianggap penting secara strategis belum tentu dapat diintervensi secara langsung. Dengan demikian, keberhasilan adopsi HRA menuntut pendekatan yang seimbang dan sistemik antara strategi, kapabilitas manusia, tata kelola, serta kesiapan teknologi di dalam organisasi.
Kontribusi utama penelitian ini terletak pada kemampuannya membedakan antara elemen yang signifikan secara empiris, penting secara strategis, dan prioritas secara struktural dalam proses adopsi HRA. Secara akademik, penelitian ini memperluas pemahaman konseptual tentang adopsi HRA melalui pendekatan multi-metode yang kontekstual terhadap karakteristik negara berkembang. Secara praktis, penelitian ini menghasilkan model adopsi HRA yang realistis dan berkelanjutan, yang memberikan panduan implementatif bagi organisasi dalam merancang strategi adopsi HRA yang terarah, terukur, dan berdampak terhadap peningkatan kinerja bisnis di era transformasi digital.
Collections
- DT - Business [384]
