Ekonomi Sirkular Limbah Nilam dan Serai Wangi untuk Budidaya Jamur Tiram dan Mikoremediasi AAT
Date
2026Author
Wardhani, Diah Ayu Pramudha
Mansur, Irdika
Herliyana, Elis Nina
Metadata
Show full item recordAbstract
Industri pertambangan memberikan kontribusi ekonomi signifikan namun menimbulkan dampak lingkungan berupa Air Asam Tambang (AAT) yang
mengandung logam berat dan memiliki pH rendah. Mikoremediasi menggunakan jamur tiram dan Spent Mushroom Compost (SMC) menjadi alternatif pengelolaan
AAT yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengkaji pemanfaatan limbah industri minyak atsiri (nilam dan serai wangi) sebagai media budidaya
jamur tiram, efektivitas SMC untuk mikoremediasi AAT, serta efisiensi biaya produksinya dalam pendekatan ekonomi sirkular. Penelitian menggunakan
Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan dua faktor yaitu komposisi media (8 taraf) dan jenis jamur tiram (2 taraf), masing-masing dengan 5 ulangan
menghasilkan 80 unit baglog, serta pengujian mikoremediasi sistem microcosm menggunakan SMC dari media M3, M4, dan M5 dengan 3 ulangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah nilam dan serai wangi cukup efektif sebagai media pertumbuhan jamur tiram, dengan media M5 (kombinasi)
menghasilkan performa terbaik pada fase vegetatif yang ditunjukkan oleh waktu pencapaian full growth mycelium yang relatif optimal, serta jumlah tudung
terbanyak (7,60 tudung) dan berat basah yang tinggi (32,25 g). Meskipun efisiensi biologi media limbah atsiri (4,36–34,11%) masih lebih rendah dibandingkan
media konvensional M0 (42,37%), kandungan protein jamur meningkat signifikan hingga 36,00–38,16% dan kandungan abu lebih tinggi (0,99–1,35%), yang
mengindikasikan transfer nitrogen dan mineral yang lebih efisien ke tubuh buah jamur.
SMC jamur tiram terbukti sangat efektif untuk mikoremediasi AAT dengan meningkatkan pH dari 2,6-2,9 menjadi 6,5-6,9 dalam 32 hari, memenuhi baku
mutu air limbah pertambangan (pH 6-9). Penurunan kadar logam berat sangat signifikan dengan efisiensi 85-99%, yaitu Cd (<0,02 menjadi <0,0005 mg/L), Hg
(<0.001 menjadi <0.00004 mg/L), Pb (<0.6 menjadi <0.000006 mg/L), dan Zn (0,2 menjadi 0,03 mg/L). Biosorben FM5 menunjukkan performa lebih baik dalam
penyerapan Cu (0,07 mg/L) dibandingkan BM3 (0,78 mg/L).
Budidaya jamur tiram berbasis limbah atsiri lebih efisien secara biaya dengan nilai Rp 27.820/kg dibandingkan sistem konvensional Rp 32.651/kg,
menghasilkan penghematan 20.7% (Rp 500.000). Meskipun total produksi lebih rendah (68,85 kg berbanding 73,98 kg), kandungan protein yang lebih tinggi
(peningkatan 29.64%) dan mineral yang lebih baik menunjukkan nilai nutrisi per satuan biaya yang superior sesuai konsep economic value-added. Penelitian ini
membuktikan bahwa pemanfaatan limbah nilam dan serai wangi mendukung implementasi ekonomi sirkular melalui transformasi limbah menjadi sumberdaya
bernilai ekonomi dan lingkungan.
