Ekologi Peneluran Kura-kura Moncong Babi (Carettochelys insculpta) di Sungai Kao Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan
Date
2026Author
Syaputri, Suaida
Kusrini, Mirza Dikari
Mardiastuti, Ani
Metadata
Show full item recordAbstract
Penelitian ini berfokus pada kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta) di Sungai kao, Boven Digoel, Papua Selatan selama delapan minggu (September – November 2024). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ekologi peneluran yang meliputi pemilihan lokasi sarang, karakteristik habitat bersarang, morfologi indukan betina, aktivitas bersarang, dan ancaman terhadap keberhasilan reproduksi. Pengumpulan data dilakukan melalui survei perjumpaan, pengukuran karakteristik habitat, dokumentasi perilaku menggunakan kamera jebak dan observasi langsung, dan pengukuran morfometri indukan serta telur. Data yang diperoleh dalam penelitian ini diolah dan dianalisis menggunakan ArcGIS 10.8, Microsoft Excel, R Studio dan IBM SPSS Statistic 25.
Dari 27 hamparan pasir yang ditemukan, hanya 12 digunakan untuk bersarang dengan total 105 sarang, 2120 telur dan 585 jejak. Kura-kura ini memilih lokasi dengan pasir bertekstur halus hingga sedang, elevasi tinggi, dan jarak sarang lebih dekat ke vegetasi dibandingkan tepi air untuk menghindari banjir. Aktivitas bersarang bersifat nokturnal dengan puncak awal musim kemarau, rata-rata berlangsung 15 menit 19 detik per individu. Indukan betina memiliki panjang karapas 35,97–55,25 cm dan berat ±13,9 kg, dengan rata-rata 20 telur per sarang. Terdapat trade-off antara jumlah dan massa telur (diameter ±4,09 cm; massa ±41,71 gr). Ancaman utama berasal dari predasi Varanus doreanus dan fluktuasi muka air yang mengurangi luas area pasir.
Upaya konservasi kura-kura moncong babi perlu difokuskan pada lokasi-lokasi dengan elevasi pasir lebih tinggi, tekstur pasir yang sesuai, serta vegetasi yang tidak menghalangi akses indukan, dengan perlindungan khusus selama periode bertelur. Mengingat sebagian besar habitat berada dalam wilayah adat, strategi konservasi harus melibatkan masyarakat lokal sebagai pemilik hak ulayat, disertai kolaborasi antara pemerintah, akademisi, LSM, dan sektor swasta melalui program CSR agar konservasi berbasis masyarakat dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.
Collections
- MT - Forestry [1541]
