Komposisi Hasil Tangkapan Hiu dari Daerah Operasi Armada Penangkap Tuna yang Berbasis di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap
Date
2026Author
Yolanda, Egga
Wahju, Ronny Irawan
Sondita, Muhammad Fedi Alfiadi
Metadata
Show full item recordAbstract
Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap adalah salah satu sentra perikanan penting di Indonesia yang melayani armada penangkapan ikan yang beroperasi di Samudera Hindia. Hiu termasuk jenis ikan tangkapan sampingan (bycatch) yang didaratkan oleh armada penangkapan ikan tuna. Hiu termasuk jenis ikan yang dikelola dalam kerangka CITES dimana jumlah ikan yang ditangkap ditentukan berdasarkan kuota yang harus ditetapkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan berdasarkan rekomendasi dari scientific authority (BRIN). Produksi hiu tahunan dari 2018-2022 dilaporkan menurun dari 586,10 ton menjadi 320,98 ton. Perhitungan kuota produk hiu ini memerlukan berbagai jenis data, di antaranya produksi hiu yang ditangkap dan upaya penangkapan ikan (fishing effort). Kelestarian jenis hiu dapat dilihat dari komposisi spesies hiu; porsi suatu spesies hiu yang semakin berkurang menunjukkan adanya ancaman terhadap keutuhan komunitas hiu. Mengingat lama operasi penangkapan hiu dari kapal-kapal yang berpangkalan di Cilacap dapat mencapai 10 bulan dengan mayoritas 3 bulan maka data produksi berdasarkan tanggal pendaratan tidak mewakili periode operasi penangkapan ikan. Oleh karena itu, data produksi dan upaya penangkapan ikan yang tersedia di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap tidak dapat langsung digunakan untuk analisis dalam pengkajian stok. Oleh karena itu, perhitungan harus dilakukan untuk memperkirakan hasil tangkapan dan upaya penangkapan ikan yang sesuai dengan lama trip operasi penangkapan ikan.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tren tahunan dan fluktuasi semesteran dari jumlah hiu yang ditangkap, upaya penangkapan ikan, produktivitas penangkapan ikan untuk armada rawai tuna (tuna longline), pancing ulur tuna (tuna handline), dan jaring insang (gillnet) dan indeks kelimpahan hiu yang dihitung sebagai catch per unit effort (CPUE). Tujuan tersebut akan dicapai melalui tahapan tujuan antara, yaitu profil armada perikanan tuna yang berpangkalan di PPS Cilacap. Analisis dilakukan untuk membandingkan volume hasil tangkapan dan upaya penangkapan ikan di antara dua metode berbeda, yaitu berdasarkan tanggal pendaratan dan berdasarkan periode trip operasi penangkapan ikan.
Data yang digunakan pada penelitian terutama berasal dari kompilasi SL3 yang memuat identitas kapal, jenis alat tangkap, tanggal berangkat dan tanggal mendarat, posisi operasi penangkapan ikan, jenis ikan dan beratnya. Pengolah data dilakukan untuk menghitung perkiraan jumlah ikan yang ditangkap dan upaya penangkapan ikan dalam satu trip operasi penangkapan ikan untuk periode suatu semester dihitung berdasarkan porsi waktu operasi (?0/(?0+ ?1 )) pada semester tersebut dikalikan dengan jumlah ikan yang didaratkan. Berdasarakan perhitungan tersebut, data semesteran dan data tahunan hasil tangkapan serta upaya penangkapan dari seluruh kapal ikan untuk setiap jenis alat penangkapan direkonstruksi. Hasil reskonstruksi ini disebut sebagai data upaya penangkapan ikan berdasarkan waktu aktual trip operasi penangkapan ikan (Ea) dan data hasil tangkapan berdasarkan waktu aktual penangkapan ikan (Ca). Perbandingan data semesteran di antara hasil rekonstruksi (Ea dan Ca) dan data pendaratan ikan di pelabuhan (Ep dan Cp) dilakukan dengan menerapkan uji t untuk data berpasangan dengan ragam yang diasumsikan berbeda.
Armada perikanan tuna di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap terdiri dari kapal rawai tuna (40%), pancing ulur (49%) dan jaring insang (11%). Kapal-kapal ikan tersebut sebagian besar berukuran kurang dari 30 GT (72%). Durasi per trip dari kapal rawai tuna berkisar 8 – 300 hari sedangkan untuk kapal pancing ulur dan jaring insang masing-masing 3-270 hari dan 6-60 hari. Jumlah pancing yang dioperasikan kapal rawai tuna umumnya 600 mata. Panjang pancing ulur yang diperasikan umumnya berukuran 150-400 m. Panjang jaring insang yang dioperasikan kapal jaring insang tuna umumnya memiliki panjang sekitar 24 m per pis dengan satu kali pengoperasian sebanyak 40 pis. Armada tuna ini beroperasi di lokasi tempat pemasangan rumpon dengan posisi dapat mencapai paling selatan pada 15° LS dan paling barat pada 110° BT. Armada perikanan ini menangkap 18 jenis hiu dimana 15 spesies di antaranya masuk dalam Appendix II CITES dengan volume 99% dari total hiu yang didaratkan.
Berdasarkan data rekonstruksi dari tahun 2019-2024, porsi Prionace glauca pada hasil tangkapan kapal rawai tuna mengalami penurunan dari 82% menjadi 39%. Sementara itu, pada kapal pancing ulur, porsi Prionace glauca dari tahun 2019-2020 mengalami penuruan dari 80% menjadi 37%, namun pada tahun 2021 Alopias superciliosus cukup mendominasi (37%) dan pada tahun 2022 hingga 2024, Alopias pelagicus mendominasi namun mengalami penurunan dari 48% menjadi 32%. Kapal jaring insang dari tahun 2019-2024 didominasi oleh Alopias pelagicus namun mengalami penurunan sebesar 64% menjadi 25%.
Pola fluktuasi produksi hiu dari armada rawai tuna menunjukkan perbedaan namun secara statistik produksi semesteran tidak signifikan antara dua cara perhitungan. Perbedaan pola flukstuasi semesteran dan produksi semesteran tidak teridentifikasi pada armada pancing ulur dan jaring insang. Berdasarkan data rekonstruksi dari tahun 2019-2024, total produksi hiu armada rawai tuna 75,09 ton menjadi 71,77 ton sementara total upaya penangkapannya 12.133 trip menjadi 6.645. Produktivitas hiu dari armada ini naik 80%, dari 12,03 ton/trip menjadi 21,59 ton/trip. Tahun 2019-2024 total produksi hiu armada pancing ulur 0,84 ton menjadi 108,71 ton, sementara total upaya penangkapannya 557 trip menjadi 35.424 trip. Produktivitas hiu dari armada ini naik 61%, dari 3,81 ton/trip menjadi 6,14 ton/trip. Tahun 2019-2024 total produksi hiu armada jaring insang 28,28 ton menjadi 12,12 ton sementara total upaya penangkapannya 2.505 trip menjadi 2009 trip. Produktivitas hiu dari armada ini turun 40%, dari 20 ton/trip menjadi 12,05 ton/trip.
Berdasarkan data rekonstruksi, total produksi dan upaya penangkapan hiu dalam periode 2019-2024 yang sudah distandarisasi dari 3 jenis armada penangkapan ikan berturut- turut mengalami kenaikan dari 104 ton menjadi 192 ton serta dari 338 trip menjadi 1.112 trip. Catch per unit effort (2019-2024) mengalami penurunan (44%) dari 0,30 ton/trip menjadi 0,17 ton/trip. Selama periode 2019-2024, penurunan porsi yang drastis dari 3 spesies dominan menyebabkan perubahan komposisi hiu. Pada tahun 2024, 3 jenis hiu dominan yang tertangkap adalah Prionace glauca (27%), Alopias pelagicus (25%), dan Alopias superciliosus (21%).
Collections
- MT - Fisheries [3246]
