Pengaruh Pemberian Hormon Melatonin melalui Pakan terhadap Kanibalisme Benih Ikan Lele Clarias sp.
Date
2026Author
Jeldawati
Sudrajat, Agus Oman
Alimuddin
Arfah, Harton
Metadata
Show full item recordAbstract
Ikan lele Clarias sp. merupakan salah satu jenis ikan konsumsi yang cukup digemari dan banyak dibudidayakan. Salah satu permasalahan dalam kegiatan budidaya ikan lele yaitu masih rendahnya tingkat kelangsungan hidup benih ikan lele. Hal ini terjadi karena sifat kanibalisme pada benih ikan lele yang merupakan sifat alami yang sangat kuat sehingga sulit untuk dihindari, kanibalisme merupakan salah satu penyebab utama kematian ikan lele yang tinggi pada ukuran 3–9 cm, dengan tingkat kelangsungan hidup sebesar 42,5%. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam pengendalian kanibalisme pada ikan yaitu melalui pendekatan hormonal, salah satunya adalah dengan cara pemberian hormon eksogen. Hormon yang akan digunakan pada penelitian ini yaitu hormon melatonin. Hormon melatonin merupakan senyawa lifopilik yang berasal dari asam amino triptofan. Hormon melatonin disebut juga sebagai obat penenang, sehingga diharapkan mampu menurunkan tingkat agresivitas pada ikan lele. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peran dan dosis hormon melatonin yang efektif terhadap pengendalian kanibalisme benih ikan lele.
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, yaitu tanpa pemberian hormon melatonin M0, melatonin dengan dosis 5 (M5), 10 (M10), dan 15 (M15) µg melatonin g-1 ikan. Subjek uji yang digunakan yaitu benih ikan lele dengan ukuran rata-rata 4 cm. Wadah yang digunakan dalam penelitian ini yaitu bak kontainer persegi berukuran 70×50×40 cm3, dengan volume air 75 L. Padat tebar yang digunakan yaitu 30 ekor perboks kontainer. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah kanibalisme, kinerja pertumbuhan, profil hormon, glukosa tubuh dan kualitas air. Parameter kanibalisme terdiri atas total kanibalisme, potensi kanibal, dan tipe kanibal. kinerja pertumbuhan yaitu panjang awal, panjang individu akhir, pertumbuhan panjang mutlak (PPM), bobot awal, bobot individu akhir, pertumbuhan bobot mutlak (PBM), biomassa, tingkat kelangsungan hidup (TKH), jumlah individu akhir, koefisien keragaman panjang (KKP), koefisien keragaman bobot (KKB), dan glukosa darah. Kandungan hormon yang diamati yaitu hormon melatonin dan estradiol-17ß. Kualitas air yang diamati pH, suhu, dan oksigen terlarut (DO). Data parameter kanibalisme, kadar hormon, kinerja pertumbuhan dan kualitas air dianalisis ragam (ANOVA) menggunakan program Microsoft Excel 2021 dan SPSS versi 25. pada selang kepercayaan 95% dan uji lanjut menggunakan uji Duncan dengan a = 0,05.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian hormon melatonin dapat menurunkan tingkat kanibalisme. Total kanibalisme tertinggi terdapat pada perlakuan M0 (kontrol) dengan nilai sebesar 51,11%, sedangkan nilai terendah dihasilkan oleh perlakuan M10 yakni 16,67%. Hasil pengukuran kadar hormon melatonin dan estradiol-17ß, juga menunjukkan bahwa perlakuan M10 dapat meningkatkan kadar hormon melatonin dan cenderung meningkatkan hormon estradiol-17ß dalam tubuh. Hal ini sesuai bahwa peningkatan kadar hormon melatonin dalam tubuh dapat meningkatkan kadar hormon estradiol-17ß yang menyebabkan menurunnya sifat agresivitas pada ikan benih ikan lele. Kanibalisme dan agresivitas memiliki ikatan yang erat, dan menjadi penyebab awal terjadinya kanibalisme.
Perbedaan ukuran ikan juga dapat menentukan tipe kanibalisme yang terjadi pada ikan. Tipe kanibalisme yang mendominasi pada penelitian ini yaitu kanibalisme tipe I dengan nilai tertinggi pada perlakuan M0 sebesar 46,67%. Nilai kanibalisme tipe II antar perlakuan tidak memiliki perbedaan yang nyata. Pemberian hormon melatonin tidak berpengaruh terhadap panjang awal, panjang individu akhir, bobot awal, bobot individu akhir, PBM, jumlah individu akhir, KKP, dan KKB.
Simpulan pada penelitian ini bahwa pemberian hormon melatonin dosis 10 µg melatonin g-1 ikan merupakan dosis efektif efisien untuk mengurangi kanibalisme dan meningkatkan kelangsungan hidup benih, sehingga diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pembenihan lele.
Kata kunci: agresivitas, ikan lele, kanibalisme, melatonin. Clarias sp. catfish are a popular and widely cultivated food fish. One of the problems in catfish cultivation is the low survival rate of catfish fry. This is due to the cannibalistic nature of catfish fry, which is very strong and difficult to avoid. It is a major cause of high mortality in fry measuring 3–9 cm, body length, with a survival rate of 42.5%. One effort that can be taken to control cannibalism in fish is through a hormonal approach, one of which is the administration of exogenous hormones. The hormone used in this study is melatonin. Melatonin is a lipophilic compound derived from the amino acid tryptophan. Melatonin is also known as a sedative, so it is expected to reduce aggressiveness in catfish. This study aimed to evaluate the role and effective dosage of melatonin in controlling cannibalism in catfish fry.
This study used a completely randomized design consisting of four treatments and three replications: M0 (without melatonin), melatonin at doses of 5 (M5), 10 (M10), and 15 (M15) µg g-1 fish. The test subjects were catfish fry with an average size of 4 cm. The container used in this study was a square container measuring 70×50×40 cm, with a water volume of 75 L. The stocking density was 30 fish per container. The parameters observed in this study were cannibalism, growth performance, hormone profiles, body glucose, and water quality. The cannibalism parameters consisted of total cannibalism, cannibal potential, and cannibal type. Growth performance parameters included initial length, final individual length, absolute length growth (PPM), initial weight, final individual weight, absolute weight growth (PBM), biomass, survival rate (SVR), final number of individuals, length coefficient of variation (KKP), weight coefficient of variation (KKB), and blood glucose level. Observed hormone levels included melatonin and estradiol-17ß. Water quality parameters measured included pH, temperature, and dissolved oxygen (DO). Data on cannibalism parameters, hormone levels, growth performance, and water quality were analyzed statistically using analysis of variance (ANOVA) using Microsoft Excel 2021 and SPSS version 25 at a 95% confidence interval. Further testing was conducted using the Duncan test with a = 0.05.
The results showed that melatonin administration reduced cannibalism levels. The highest total cannibalism rate was found in the M0 (control) treatment, with a value of 51.11%. While the lowest value was achieved by the M10 treatment, at 16.67%. The results of measurements of melatonin and estradiol-17ß hormone levels also showed that the M10 treatment increased melatonin levels and tended to increase estradiol-17ß levels in the body. This is consistent with the fact that increased melatonin levels can increase estradiol-17ß levels, which leads to decreased aggressiveness in catfish fry. Cannibalism and aggressiveness are closely linked and are the primary cause of cannibalism.
Differences in fish size can also determine the type of cannibalism that occurs in fish. The dominant type of cannibalism in this study was Type I cannibalism, with the highest value in the M0 treatment at 46.67%. Meanwhile, there was no significant difference in Type II cannibalism between treatments. Melatonin administration did not affect initial length, final individual length, initial weight, final individual weight, ABM, final number of individuals, KKP, and KKB.
Keywords: aggressiveness, cannibalism, catfish, melatonin.
Collections
- MT - Fisheries [3246]
