Tumpang Sari Dengan Pisang Barangan Sebagai Strategi Mencapai Kelayakan Finansial Perkebunan Kelapa Sawit Masa Replanting : Studi Kasus PT AGRICINAL
Date
2026Author
MANURUNG, DANIEL MARTAHI BONAR
Siregar, Hermanto
Sasongko, Hendro
Metadata
Show full item recordAbstract
Penurunan produktivitas perkebunan kelapa sawit yang telah melewati umur produktif optimal (>25 tahun) menimbulkan tantangan finansial yang signifikan
bagi perusahaan perkebunan. PT Agricinal mengalami penurunan drastis produktivitas Tandan Buah Segar (TBS) dari 6,41 ton/ha/tahun pada tahun 2020
menjadi 3,92 ton/ha/tahun pada tahun 2022, jauh di bawah standar ideal sebesar 25–30 ton/ha/tahun. Kondisi ini mendorong pengambilan keputusan peremajaan
(replanting) pada tahun 2022, namun mengakibatkan periode tidak produktif selama 3–4 tahun (Tanaman Belum Menghasilkan/TBM) tanpa adanya pendapatan
operasional.
Peremajaan (replanting) kelapa sawit merupakan fase kritis dalam siklus
usaha perkebunan yang sering menimbulkan tantangan finansial akibat terhentinya
produksi dan pendapatan selama beberapa tahun. Dalam konteks ini, upaya inovatif
diperlukan untuk menjaga keberlanjutan arus kas dan mendukung kelayakan bisnis
perkebunan. Salah satu strategi yang mulai banyak diterapkan adalah tumpangsari,
yaitu pemanfaatan lahan dengan menanam komoditas lain secara bersamaan,
seperti pisang Barangan, guna mengisi kekosongan pendapatan selama masa
tanaman belum menghasilkan (TBM). Penerapan strategi ini tidak hanya berpotensi
meningkatkan efisiensi lahan, namun juga memperkuat daya saing dan
keberlanjutan usaha perkebunan kelapa sawit di tengah dinamika industri yang
semakin kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan finansial
strategi tumpangsari pisang Barangan pada lahan replanting seluas 1.000 ha sebagai
solusi optimalisasi pendapatan
Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah pendekatan
deskriptif kuantitatif dengan studi kasus pada PT Agricinal. Data primer
dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan manajemen perusahaan dan
observasi langsung ke lapangan, sedangkan data sekunder diperoleh dari laporan
keuangan, data produksi, serta dokumen pendukung lainnya. Analisis dilakukan
dengan menggunakan metode kelayakan finansial seperti Net Present Value (NPV),
Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C), dan Payback
Period (PP), dilengkapi dengan analisis sensitivitas untuk menguji ketahanan
proyek terhadap perubahan variabel kunci, serta analisis SWOT untuk
mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi keberhasilan
strategi tumpangsari pisang Barangan pada lahan replanting kelapa sawit.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan tumpangsari pisang
Barangan memberikan peningkatan signifikan terhadap kelayakan finansial usaha,
dengan nilai NPV meningkat sebesar 66,% dari Rp58,63 miliar menjadi Rp97,46
miliar; IRR meningkat dari 25% menjadi 40%; Net B/C meningkat dari 1,39
menjadi 1,50 ; serta Payback Period memendek dari 6 tahun menjadi 4 tahun.
Analisis sensitivitas membuktikan bahwa proyek tetap tangguh terhadap fluktuasi
harga CPO, biaya operasional, dan variasi produktivitas TBS.
Strategi tumpangsari ini efektif dalam menutup kesenjangan arus kas selama
periode TBM, meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan, serta memperkuat daya
saing bisnis perkebunan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan
tumpangsari pisang Barangan pada lahan replanting kelapa sawit layak dan
strategis untuk diterapkan secara luas sebagai model agribisnis berkelanjutan
The decline in productivity of oil palm plantations that have passed their
optimal productive age (>25 years) poses significant financial challenges for
plantation companies. PT Agricinal experienced a drastic decline in Fresh Fruit
Bunch (FFB) productivity from 6.41 tons/ha/year in 2020 to 3.92 tons/ha/year in
2022, far below the ideal standard of 25–30 tons/ha/year. This condition prompted
the decision to replant in 2022, but resulted in a 3–4 year non-productive period
(Immature Plant/TBM) with no operational income.This research aims to analyze
the financial feasibility of Barangan banana intercropping strategy on 1,000 ha
replanting land as a revenue optimization solution.
Oil palm replanting is a critical phase in the plantation business cycle that
often poses financial challenges due to the cessation of production and income for
several years. In this context, innovative efforts are needed to maintain cash flow
sustainability and support the feasibility of the plantation business. One strategy
that is increasingly being implemented is intercropping, which involves utilizing
land by planting other commodities simultaneously, such as Barangan bananas, to
fill the income gap during the immature plant period (TBM). The implementation
of this strategy not only has the potential to increase land use efficiency but also
strengthens the competitiveness and sustainability of the oil palm plantation
business amidst increasingly complex industry dynamics. This research aims to
analyze the financial feasibility of the Barangan banana intercropping strategy on
1,000 ha of replanting land as a revenue optimization solution
The research method used in this study is a quantitative descriptive approach
with a case study at PT Agricinal. Primary data were collected through in-depth
interviews with company management and direct field observations, while
secondary data were obtained from financial reports, production data, and other
supporting documents. Analysis was conducted using financial feasibility methods
such as Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit-Cost
Ratio (Net B/C), and Payback Period (PP), complemented by sensitivity analysis to
test the project's resilience to changes in key variables, as well as SWOT analysis
to identify internal and external factors affecting the success of the Barangan
banana intercropping strategy on oil palm replanting land.
The research results show that the implementation of Barangan banana
intercropping provides a significant improvement in business financial feasibility,
with NPV value increasing by 66.8% from IDR 58.63 billion to IDR 97.46 billion;
IRR increased from 25% to 40%; Net B/C increased from 1.39 to 1.50; and Payback
Period shortened from 6 years to 4 years. Sensitivity analysis proves that the project
remains resilient to fluctuations in CPO prices, operational costs, and FFB
productivity variations.
This intercropping strategy is effective in closing the cash flow gap during
the TBM period, increasing land use efficiency, and strengthening the
competitiveness of the plantation business. This research concludes that the implementation of Barangan banana intercropping on oil palm replanting land is
feasible and strategic to be widely applied as a sustainable agribusiness model.
Collections
- MT - Business [4087]
