Analisis Sumber Polutan PM2.5 di Jakarta menggunakan Model Deep Learning dan Pendekatan Backward Trajectory
Date
2026Author
Saragih, Hendro Pratama
Sitanggang, Imas Sukaesih
Rahmawan, Hendra
Metadata
Show full item recordAbstract
Pencemaran udara oleh Particulate Matter (PM2.5) di DKI Jakarta telah
berkembang menjadi krisis kesehatan lingkungan yang kritis, didorong oleh interaksi
kompleks antara emisi antropogenik lokal, transportasi polutan regional, dan dinamika
meteorologi yang fluktuatif. Namun, sistem pemantauan kualitas udara yang ada saat ini
masih menghadapi keterbatasan fundamental, khususnya dalam memberikan prediksi
temporal yang presisi sekaligus mengidentifikasi asal-usul spasial polutan secara
terintegrasi. Penelitian ini bertujuan menjembatani kesenjangan tersebut melalui
pengembangan kerangka kerja yang menggabungkan tiga pendekatan utama: prediksi
deret waktu berbasis deep learning, pemodelan transportasi atmosfer, dan validasi
geospasial. Metodologi penelitian dilaksanakan melalui tiga tahapan: (1) pembangunan
model prediksi Long Short-Term Memory (LSTM) yang mengasimilasi data meteorologi
reanalysis ERA5, Visual Crossing, dan Aerosol Optical Depth (AOD); (2) pelacakan
sumber polutan menggunakan simulasi backward trajectory menggunakan model Hybrid
Single-Particle Lagrangian Integrated Trajectory (HYSPLIT); dan (3) validasi
karakteristik permukaan potensi sumber emisi menggunakan klasifikasi land cover (land
cover) berbasis citra satelit Sentinel-2.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi metode ini berhasil menjawab
tantangan prediksi dan identifikasi sumber secara komprehensif. Model LSTM terbukti
andal dalam memprediksi konsentrasi PM2.5 harian, dimana Stasiun Bundaran HI
(DKI1) mencatatkan akurasi tren terbaik dengan koefisien determinasi (R2) sebesar
75,87%, sedangkan Stasiun Jagakarsa (DKI3) menunjukkan stabilitas performa terbaik
dengan tingkat kesalahan Mean Absolute Percentage Error (MAPE) terendah sebesar
13,34%. Analisis HYSPLIT mengungkap dua koridor utama transportasi polutan lintas
batas: (1) Koridor Timur-Tenggara, yang bergerak melintasi kawasan aglomerasi
Karawang-Bekasi dan dominan memengaruhi Jakarta Pusat (DKI1), Selatan (DKI3), dan
Timur (DKI4); serta (2) Koridor Utara-Barat Laut dari arah Laut Jawa. Validasi spasial
Sentinel-2 mengonfirmasi korelasi kuat antara lintasan udara dengan karakteristik
permukaan. Lonjakan polusi ekstrem di Koridor Timur terbukti berkaitan erat dengan
lintasan yang teramati selaras dengan lintasan yang melewati dominasi land cover
terbangun (Built-up Area), yang merepresentasikan wilayah dengan potensi aktivitas
antropogenik tinggi. Sebaliknya, Stasiun Jagakarsa menampilkan karakteristik unik
dimana massa udara bergerak melintasi land cover vegetasi (Crops/Trees) dari arah
selatan, yang berfungsi sebagai zona penyangga alami. Penelitian ini menyimpulkan
bahwa episode polusi ekstrem di Jakarta merupakan hasil superposisi antara emisi lokal
dan transportasi regional yang dipengaruhi oleh fenomena subsidence atmosfer yang
menghalangi ventilasi vertikal. Oleh karena itu, sistem terintegrasi ini direkomendasikan
sebagai instrumen mitigasi berbasis bukti bagi pemerintah daerah.
