Pemodelan Spasial Zonasi Kerawanan Deforestasi untuk Merumuskan Opsi Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan di Kabupaten Malang
Date
2026Author
Alam, Muhamad Syaikhu
Puspaningsih, Nining
Sundawati, Leti
Metadata
Show full item recordAbstract
Deforestasi merupakan isu pembangunan utama di Indonesia, yang secara signifikan berdampak pada perubahan lingkungan dan memicu bencana alam. Perhutanan Sosial, melalui lima skema program, salah satunya Hutan Kemasyarakatan (HKm), merupakan solusi yang dipromosikan pemerintah untuk mengurangi deforestasi dan mencapai pengelolaan hutan berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaan hutan yang legal. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengembangkan model spasial dan memetakan opsi pengelolaan di Kabupaten Malang. Model spasial zonasi kerawanan deforestasi dianalisis menggunakan metode Composite Mapping Analysis (CMA), dan model spasial prioritas pengelolaan HKm dianalisis menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Penelitian ini dilakukan pada Hutan Kemasyarakatan (HKm) Kabupaten Malang di tiga kecamatan yang mewakili tipologi kawasan yang berbeda. HKm di Kecamatan Ngantang dan Singosari mewakili tipologi kawasan pegunungan, sedangkan HKm di Kecamatan Sumbermanjing Wetan mewakili tipologi kawasan pesisir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa HKm pada kawasan pesisir lebih rentan terhadap deforestasi daripada kawasan pegunungan sehingga area deforestasi di HKm kawasan pesisir lebih tinggi dibandingkan dengan kawasan pegunungan. Oleh karena itu, hasil pemodelan spasial zonasi kerawanan deforestasi juga menunjukan bahwa HKm di Kecamatan Ngantang dan Singosari didominasi oleh zonasi kerawanan deforestasi rendah, sedangkan HKm di Kecamatan Sumbermanjing Wetan pesisir didominasi zonasi kerawanan deforestasi sedang. Pada ruang perlindungan, opsi pengelolaan HKm yang terpilih di Kecamatan Ngantang dan Singosari meliputi: 2A, 2B, dan 3A, sedangkan di Kecamatan Sumbermanjing Wetan meliputi: 1A, 2A, 2B, 3A, 3B. Pada ruang pemanfaatan, opsi pengelolaan HKm yang terpilih di Kecamatan Ngantang meliputi: 1A, 1B, 2B, 3A, dan 3D, di Kecamatan Singosari meliputi: 1A, 1B, 2B, dan 3A, sedangkan di Kecamatan Sumbermanjing Wetan meliputi: 1A, 1B 1C, 2B, 2D, 3C, 4A, dan 4B. Perbedaan jumlah dan macam opsi pengelolaan yang terpilih tersebut disebabkan karena perbedaan tipologi kawasan pada masing-masing HKm, selain itu juga HKm di kawasan pegunungan tidak mencakup area Hutan Produksi sehingga opsi pengelolaan terpilih hanya terbatas pada pemanfaatan area Hutan Lindung. Namun secara keseluruhan. pada kerawanan deforestasi rendah sedang di ketiga kecamatan tersebut, opsi pengelolaan yang terpilih didominasi oleh opsi 2B (MPTS rimba dengan PLDT MPTS pertanian) pada ruang perlindungan seluas 779,595 ha dan ruang pemanfaatan seluas 1607,776 ha. Sedangkan pada kerawanan deforestasi tinggi, opsi pengelolaan yang terpilih di ketiga kecamatan pada ruang perlindungan di dominasi oleh opsi 2A (MPTS rimba dengan madu) seluas 1,374 ha dan pada ruang pemanfaatan opsi 1B (silvopastura) di seluas 7,029 ha. Hasil analisis tingkat erosi menunjukkan bahwa opsi pengelolaan yang terpilih apabila diimplementasikan dapat berpotensi menurunkan erosi daripada kondisi lahan eksisting, sehingga opsi pengelolaan yang terpilih tersebut tersebut layak untuk diimplementasikan.
Collections
- MT - Forestry [1541]
