Apakah Merger dan Akuisisi Bank Lintas Negara (M & A) Meningkatkan Efisiensi? Bukti Empiris dari Indonesia Menggunakan DEA, PSM– DiD, dan Regresi Tobit
Date
2026Author
Kurniawan, Rudi
Priyarsono, Dominicus Savio
Ramadyanto, Widodo
Metadata
Show full item recordAbstract
iv
RINGKASAN
RUDI KURNIAWAN. Apakah Merger dan Akuisisi Bank Lintas Negara (M & A)
Meningkatkan Efisiensi? Bukti Empiris dari Indonesia Menggunakan DEA, PSM–
DiD, dan Regresi Tobit. Dibimbing oleh DOMINICUS SAVIO PRIYARSONO
dan WIDODO RAMADYANTO.
Apakah Merger dan Akuisisi Bank Lintas Negara (M & A) Meningkatkan
Efisiensi? Di tengah dorongan konsolidasi industri dan semakin terbukanya sektor
keuangan Indonesia terhadap investasi global, pertanyaan ini menjadi semakin
relevan. Penelitian ini mengkaji sepuluh bank swasta nasional, yang terdiri atas lima
bank yang mengalami merger dan akuisisi lintas negara pada periode 2017–2018
dan lima bank pembanding yang tidak mengalami perubahan kepemilikan. Dengan
memadukan pendekatan Data Envelopment Analysis (DEA) untuk mengukur
efisiensi, Propensity Score Matching (PSM) untuk membentuk kelompok yang
sebanding, Difference-in-Differences (DiD) untuk mengidentifikasi dampak
kausal, serta regresi Tobit untuk menganalisis faktor-faktor penentunya, studi ini
menyajikan evaluasi yang komprehensif terhadap perubahan efisiensi teknis,
manajerial, dan skala usaha sebelum dan sesudah merger.
Hasil empiris menunjukkan bahwa merger dengan bank asing tidak secara
otomatis meningkatkan efisiensi. Walaupun sebagian bank mengalami perbaikan,
terutama dalam efisiensi skala seiring dengan bertambahnya ukuran dan
permodalan, sebagian lainnya justru mengalami penurunan efisiensi teknis dan
efisiensi manajerial akibat kompleksitas integrasi organisasi, sistem, dan proses
bisnis. Dampak negatif tersebut relatif lebih besar pada bank berukuran kecil, yang
memiliki keterbatasan dalam menyerap biaya penyesuaian dan mengelola
perubahan struktural. Sementara itu, bank dengan aset yang lebih besar cenderung
lebih mampu memanfaatkan sinergi skala dan dukungan teknologi dari pihak
pengakuisisi.
Menariknya, bank-bank yang tidak melakukan merger tetap mampu
meningkatkan efisiensi melalui perbaikan internal, digitalisasi, dan penguatan tata
kelola tanpa harus mengubah struktur kepemilikan. Temuan ini menegaskan bahwa
peningkatan efisiensi bukan semata hasil dari perubahan kepemilikan, melainkan
sangat ditentukan oleh kualitas manajemen, kesiapan organisasi, dan kemampuan
mencapai skala operasi yang optimal. Dengan demikian, merger lintas negara
bukanlah jaminan keberhasilan, melainkan sebuah proses strategis yang menuntut
integrasi yang efektif agar benar-benar mampu meningkatkan kinerja dan daya
saing perbankan. Do Cross-Border Bank Mergers and Acquisitions (M & A) Lead to Greater
Efficiency? In the context of increasing consolidation in the Indonesian banking
industry and deeper integration with global financial markets, this question has
become highly relevant. This study examines ten domestic private banks, consisting
of five banks that experienced cross-border mergers and acquisitions during 2017–
2018 and five comparable non-merger banks. By employing an integrated empirical
framework—Data Envelopment Analysis (DEA) to measure efficiency, Propensity
Score Matching (PSM) to construct a comparable control group, Difference-in-
Differences (DiD) to identify causal effects, and Tobit regression to analyze the
determinants of efficiency—this research provides a comprehensive assessment of
changes in technical, managerial, and scale efficiency before and after the mergers.
The empirical results indicate that foreign acquisitions do not automatically
improve bank efficiency. While some banks exhibit improvements, particularly in
scale efficiency as a result of larger asset size and stronger capital support, others
experience declines in technical and managerial efficiency due to the complexity of
post-merger integration, including organizational restructuring, system
harmonization, and operational adjustments. These adverse effects are more
pronounced among smaller banks, which tend to face greater difficulties in
absorbing adjustment costs and managing structural change. In contrast, larger
banks are better positioned to exploit scale economies and technological spillovers
from their foreign parent institutions.
Interestingly, non-merger banks are also able to enhance efficiency through
internal restructuring, digital transformation, and improvements in corporate
governance, without changes in ownership structure. This finding suggests that
efficiency gains are not solely driven by ownership change, but rather depend
critically on managerial quality, organizational readiness, and the ability to operate
at an optimal scale. Therefore, cross-border mergers and acquisitions should not be
viewed as a guaranteed path to higher efficiency, but as a strategic process whose
success hinges on effective post-merger integration and sound internal
management.
Collections
- MT - Business [4081]
