Kemiskinan Tinggi dan Persisten Serta Transformasi Struktur Ekonomi di Provinsi Nusa Tenggara Timur
Date
2026Author
Tuga, Gordius Woltman
Nuryartono, R. Nunung
Hutagaol, Manuntun Parulian
Widyastutik
Metadata
Show full item recordAbstract
Penelitian ini menganalisis efektivitas transformasi struktur ekonomi dalam
menurunkan kemiskinan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan
menempatkan sektor pertanian, sektor industri, dan ketimpangan wilayah sebagai
elemen kunci dalam dinamika pembangunan daerah. Secara konseptual, penelitian
ini berangkat dari teori transformasi struktural Lewis (1954) yang menekankan
peralihan tenaga kerja dari sektor tradisional berproduktivitas rendah ke sektor
modern berproduktivitas tinggi sebagai prasyarat penurunan kemiskinan. Namun,
konteks wilayah kepulauan dan struktur ekonomi NTT yang didominasi sektor
pertanian subsisten menimbulkan pertanyaan kritis mengenai bekerjanya
mekanisme tersebut dalam praktik pembangunan daerah.
Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa data panel yang terdiri dari
kombinasi basis data statistik di 21 dari 22 kabupaten/kota baik secara agregat
maupun melalui pendekatan posisi hambatan ekonomi berdasarkan kabupaten
dengan 6 wilayah kepulauan dan 17 wilayah daratan, antara tahun 2012 sampai
2024. Dalam analisisnya, penelitian ini tidak memasukkan Kota Kupang karena
pertimbangan sebagai satu-satunya institusi pemerintahan kota di NTT,
memperlihatkan data yang berbeda dari yang lainnya. Sumber data dari penelitian
ini adalah Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT dan BPS Kabupaten seluruh
NTT.
Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah regresi panel.
Model regresi panel disusun dengan dasar teori perubahan struktural tentang
pergeseran dari sektor primer ke sekunder/tersier meningkatkan produktivitas dan
mengurangi kemiskinan dengan menggunakan kerangka kerja dari perubahan
struktural dan dampaknya pada penurunan kemiskinan oleh Erumban dan deVries
(2024) yang dimodifikasi dengan beberapa input yang sesuai dengan kondisi NTT.
Alat analisis yang digunakan untuk melakukan pengolahan data dengan
menggunakan bantuan software Eviews 12 dan Microsoft Excel 2019.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas tenaga kerja sektor
pertanian berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan,
menegaskan bahwa peningkatan produktivitas pertanian merupakan prasyarat
penting pengentasan kemiskinan di NTT. Namun demikian, transformasi struktur
ekonomi secara agregat terbukti tidak efektif menurunkan kemiskinan,
mengindikasikan bahwa pergeseran sektor yang terjadi bersifat kuantitatif tanpa
disertai peningkatan kualitas pekerjaan dan mobilitas pendapatan. Dominasi sektor
pertanian subsisten dalam struktur PDRB memperkuat kondisi ini dan menjadikan
sektor tersebut sebagai perangkap kemiskinan struktural.
Lebih lanjut, temuan menunjukkan bahwa kontribusi sektor industri di NTT
masih relatif kecil dan belum signifikan dalam menurunkan kemiskinan. Kondisi
ini menyebabkan sektor industri belum mampu berfungsi sebagai sektor modern
yang menyerap surplus tenaga kerja dari sektor pertanian sebagaimana diasumsikan
dalam kerangka Lewis. Lemahnya keterkaitan antara sektor pertanian dan sektor
non-pertanian, termasuk industri pengolahan berbasis sumber daya lokal,
mengakibatkan transformasi struktural berjalan parsial dan tidak inklusif bagi
rumah tangga miskin perdesaan. Ketimpangan wilayah, khususnya antara wilayah
daratan dan kepulauan, juga terbukti memperkuat kemiskinan melalui mekanisme
konsentrasi pertumbuhan yang tidak terdistribusi secara spasial.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa kemiskinan di NTT bersifat struktural
dan persisten, sehingga tidak dapat diatasi hanya melalui pertumbuhan ekonomi
sektoral tanpa perbaikan kualitas transformasi. Implikasi kebijakan dari temuan ini
menegaskan perlunya reorientasi strategi pengentasan kemiskinan dalam RPJMD
Provinsi NTT, dengan menempatkan peningkatan produktivitas pertanian,
pengembangan industri daerah berbasis sumber daya lokal dan padat karya, serta
pengurangan ketimpangan wilayah sebagai agenda utama. Penguatan sektor
industri pengolahan yang terintegrasi dengan pertanian dipandang krusial untuk
mengaktifkan kembali mekanisme transformasi struktural yang inklusif dan
berkelanjutan. Dengan demikian, disertasi ini memberikan kontribusi akademik dan
kebijakan dalam memperkaya pemahaman tentang keterbatasan transformasi
struktural di daerah tertinggal serta menawarkan arah kebijakan yang lebih
kontekstual dan berbasis bukti bagi pengentasan kemiskinan di wilayah kepulauan
seperti NTT.
