Isolasi, Karakterisasi, dan Uji Kinerja Isolat Fungi Indigenous untuk Bioremidiasi Pewarna Tekstil Remazol Red 
Date
2026Author
ulfimaturahmah, Fitria ayudi
Yani, Moh.
Ambarsari, Hanies
Risdian, Chandra
Metadata
Show full item recordAbstract
Zat warna sintetis saat ini menjadi salah satu aspek penting dalam berbagai industri. Penggunaan zat warna sintetis yang berlebihan dapat meningkatkan kadar limbah pada tanah dan perairan, salah satunya adalah peningkatan kadar logam berat di lingkungan. Limbah pewarna tekstil dapat didegradasi dengan metode fisika, kimia, dan biologi. Pengaplikasian metode biologi dengan menggunakan organisme dan dianggap efektif karena ramah lingkungan, tidak memanfaatkan zat kimia, dan tidak menghasilkan metabolit yang berbahaya.
Fungi merupakan agen bioremediasi yang dipilih dalam penelitian ini. Fungi dapat digunakan sebagai bentuk sel bebas ataupun terimobilisasi. Sel bebas fungi dapat digunakan untuk mendegradasi limbah pewarna tekstil, namun bentuk ini berpotensi terpapar oleh tekanan lingkungan. Penelitian ini menggunakan teknik imobilisasi fungi-kalsium karbonat sebagai agen bioremediasi limbah pewarna tekstil. Penggunaan kalsium karbonat sebagai substrat imobilisasi merupakan alternatif terbaru yang dapat digunakan bersama fungi sebagai agen bioremediasi limbah pewarna tekstil.
Penelitian ini bertujuan untuk eksplorasi dan seleksi jenis fungi indigenous pada area kontaminan, serta analisis kemampuan dekolorisasi dan enzimatik fungi indigenous terimobilisasi dalam melakukan dekolorisasi pewarna tekstil Remazol Red. Metode yang digunakan meliputi pengambilan sampel, isolasi dan seleksi fungi indigenous potensial, identifikasi fungi indigenous potensial, persiapan dan pembuatan pelet, uji dekolorisasi, pengukuran berat kering biomassa fungi, uji aktivitas enzimatik, dan analisis data menggunakan Anova dan uji lanjut Tukey.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 45 isolat yang berhasil di isolasi dari area terkontaminasi. Dari 45 isolat yang didapatkan, sebanyak 15 isolat terbukti resisten pada pengujian di agar-plate dengan konsentrasi pewarna Remazol Red 10 mg/L, 20 mg/L, dan 30 mg/L. Sebanyak 15 isolat dilakukan seleksi lanjutan pada media cair dengan konsentrasi pewarna Remazol Red 100 mg/L hingga 1000 mg/L. Seleksi lanjutan menunjukkan bahwa 5 isolat, yaitu isolat TB1, TB31, TB4. SB1, dan SB2 memiliki kemampuan dekolorisasi pewarna Remazol Red pada konsentrasi 100 mg/L hingga 1000 mg/L, dimana isolat TB1, TB31, dan TB4 memiliki kemampuan dekolorisasi tertinggi. Ketiga isolat diimobilisasi dengan kalsium karbonat untuk membentuk pelet A (pelet kompleks), pelet B1 (pelet miselia) dan pelet B2 (pelet miselia + kalsium karbonat). Pelet A menunjukkan kemampuan yang berbeda nyata dalam uji ANOVA serta uji lanjut tukey 5% dan 1 % dengan kemampuan dekolorisasi pewarna Remazol Red konsentrasi 100 mg/L mencapai 98% serta produksi enzim mencapai 100 U/ml.
Kata kunci: bioremediasi, fungi indigenous, imobilisasi, kalsium karbonat, Remazol Red.
