Residu Dua Bahan Aktif Pestisida pada Tanaman Bawang Merah (Allium cepa var. aggregatum) Berdasarkan Perbedaan Waktu Aplikasi Terakhir
Abstract
Bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi di Indonesia, namun produktivitasnya masih menghadapi kendala berupa serangan organisme pengganggu tanaman. Penggunaan pestisida secara intensif menjadi solusi yang umum digunakan petani, namun cara tersebut dapat meninggalkan residu pestisida pada produk bawang merah yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari hubungan antara pengetahuan dan tindakan petani terhadap penyebab residu pestisida dan menganalisis kadar residu pestisida pada bawang merah dengan memperhatikan interval antara waktu aplikasi terakhir dengan waktu panen.
Penelitian meliputi survei terhadap 50 petani bawang merah di Desa Telle, Kecamatan Ajangale, Kabupaten Bone melalui wawancara mendalam, penanaman bawang merah di lapangan yang diaplikasikan pestisida berbahan aktif alfa sipermetrin dan azoksistrobin, dan analisis residu kedua bahan aktif di Laboratorium Saraswanti Indo Genetech menggunakan LC/MS. Hasil analisis residu bahan aktif selanjutnya dibandingkan dengan nilai batas maksimal residu (BMR) sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) 7313:2024. Data wawancara hasil survei pengetahuan dan tindakan petani dianalisis menggunakan uji Chi Square pada taraf nyata 5%.
Insektisida alfa sipermetrin yang diaplikasikan pada 3 dan 7 hari sebelum panen (HSP) masing-masing sebesar 0,25775 mg/kg dan 0,2676 mg/kg, menunjukkan kandungan residu yang lebih tinggi dari BMR. Residu alfa sipermetrin pada lahan petani dan pada perlakuan 14 HSP masih di bawah BMR. Hasil analisis residu fungisida azoksistrobin menunjukkan kandungan residu yang di bawah BMR. Pada sampel bawang merah milik petani, residu azoksistrobin terdeteksi sebesar 0,0121 mg/kg dan pada perlakuan penyemprotan pestisida 3 dan 7 HSP masing-masing memiliki kandungan residu sebesar 0,0271 mg/kg dan 0,0041 mg/kg, sementara itu pada 14 HSP residu tidak terdeteksi atau di bawah Limit of Detection (LoD). Tingkat residu pestisida pada bawang merah dapat disebabkan oleh frekuensi dan interval waktu aplikasi. Interval waktu aplikasi dengan waktu panen memengaruhi kandungan residu pada tanaman. Sifat fisik dan kimiawi yang menyebabkan terjadi degradasi bahan aktif pestisida juga memengaruhi penurunan residu.
Hasil wawancara petani di Desa Telle menunjukkan bahwa pengetahuan petani tentang penyebab terjadi residu tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan tindakan petani tentang penyebab residu. Penyemprotan terakhir sebelum panen pada tanaman bawang merah yang dilakukan oleh petani di Desa Telle cenderung dilakukan 1 minggu sebelum panen (90%), sedangkan petani yang melakukan penyemprotan 2 minggu sebelum panen sebanyak 10%, dan tidak ada petani yang menyemprot pada 3 HSP.
Collections
- MT - Agriculture [4039]
