Risiko dan Perilaku Ekonomi Rumah Tangga Petani Kelapa Sawit Swadaya: Implikasi terhadap Keputusan Peremajaan di Provinsi Riau
Date
2026Author
Anggraini, Rizqi Sari
Harianto
Suroso, Arif Imam
Novianti, Tanti
Metadata
Show full item recordAbstract
Perkebunan kelapa sawit rakyat merupakan salah satu penopang utama
perekonomian pedesaan di Indonesia melalui kontribusinya terhadap pendapatan
rumah tangga dan dinamika pembangunan wilayah. Perubahan struktur agraria
yang berlangsung seiring dengan program transmigrasi, berkembangnya
perkebunan sawit rakyat, serta kebijakan desentralisasi telah menghasilkan
keragaman tipe petani kelapa sawit. Dalam praktiknya, petani dapat dibedakan ke
dalam beberapa kelompok berdasarkan keterkaitan dengan skema kemitraan,
tingkat kemandirian pengelolaan, serta keberadaan kelembagaan kolektif seperti
kelompok tani atau koperasi. Salah satu kelompok penting adalah petani kelapa
sawit swadaya, yaitu petani yang menjalankan usahataninya secara otonom tanpa
dukungan langsung dari perusahaan inti maupun program pemerintah. Perbedaan
karakter tersebut tercermin pada variasi akses terhadap lahan, dukungan
institusional, dan kapasitas produksi antar petani. Dalam menjalani usahataninya,
petani dihadapkan pada risiko produksi dan risiko harga tandan buah segar (TBS),
yang pada gilirannya memengaruhi perilaku ekonomi rumah tangga mereka.
Selain itu, keputusan petani dalam mengambil keputusan investasi jangka
panjang seperti peremajaan juga berkaitan erat dengan dinamika ekonomi rumah
tangga, struktur sosial, serta kemampuan mempertahankan konsumsi selama masa
tanpa pendapatan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis fungsi produksi
dan risiko produksi kebun sawit swadaya menggunakan model Just and Pope; (2)
mengukur preferensi risiko petani menggunakan indeks Arrow–Pratt; (3) mengkaji
pengaruh risiko produksi dan harga terhadap keputusan produksi, alokasi tenaga
kerja, pendapatan, dan konsumsi rumah tangga melalui model sistem persamaan
simultan (2SLS); serta (4) menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keputusan
peremajaan menggunakan model logit.
Hasil analisis fungsi produksi Just and Pope menunjukkan bahwa produksi
TBS dipengaruhi oleh umur tanaman, luas lahan, penggunaan pupuk, tenaga kerja,
dan bibit unggul. Bibit unggul terbukti berfungsi sebagai risk-decreasing factor
karena karakter agronominya yang lebih seragam, tahan terhadap stres lingkungan,
dan memiliki respon yang lebih stabil terhadap input pemeliharaan. Bibit unggul
menghasilkan pertumbuhan yang lebih homogen sehingga mengurangi variabilitas
produksi antar pohon dan antar musim. Sehingga output yang dihasilkan tetap lebih
konsisten. Sebaliknya, penggunaan pupuk NPK justru teridentifikasi sebagai riskincreasing
factor. Hal ini terjadi karena respons tanaman sawit terhadap NPK
sangat bergantung pada kondisi tanah, umur tanaman, dan keseimbangan unsur hara
lainnya. Pada lahan petani swadaya yang cenderung heterogen dan tanpa
rekomendasi pemupukan berbasis analisis tanah, aplikasi NPK sering kali tidak
optimal. Ketidaktepatan dosis ini menciptakan variabilitas pertumbuhan dan
produksi antar pohon, sehingga meningkatkan varians produksi.
Pengukuran preferensi risiko menggunakan indeks Arrow–Pratt
menunjukkan bahwa sebagian besar petani bersifat risk averse. Risiko produksi
terbukti berpengaruh, bukan sebagai faktor penahan, melainkan pemicu
peningkatan penggunaan input, mencerminkan bahwa petani merespons
ketidakpastian dengan strategi mitigasi risiko melalui intensifikasi.
Meskipun, hasil estimasi 2SLS menunjukkan bahwa risiko memengaruhi
beberapa keputusan produksi dan pendapatan, namun tidak menjadi faktor penentu
dalam keputusan peremajaan. Keputusan peremajaan lebih dipengaruhi oleh
kondisi internal rumah tangga. Analisis logit mengidentifikasi bahwa total
pendapatan rumah tangga secara signifikan meningkatkan peluang petani
melakukan peremajaan, sedangkan total pengeluaran rumah tangga serta jumlah
anggota keluarga secara signifikan menurunkan peluang peremajaan. Temuan ini
menegaskan bahwa keputusan peremajaan mengikuti logika ekonomi rumah tangga
Chayanov, yaitu bahwa petani akan menunda keputusan besar apabila berpotensi
menurunkan kemampuan memenuhi konsumsi minimum keluarga selama masa
tunggu tanpa pendapatan. Selain itu, meningkatnya pendapatan luar usahatani
menurunkan peluang peremajaan, yang mengindikasikan adanya proses depeasantization,
yaitu bergesernya orientasi ekonomi rumah tangga dari sektor
pertanian menuju aktivitas non-pertanian. Temuan ini memberikan dasar penting
bagi perumusan kebijakan peremajaan sawit rakyat yang menempatkan dukungan
konsumsi rumah tangga dan mekanisme pengganti pendapatan sebagai prioritas
utama.
