Pengembangan Indeks Kesehatan Mangrove Pada Tingkat Lanskap Dan Tapak Di Tipe Ekosistem Mangrove Laguna
Date
2026Author
Rahmila, Yulizar Ihrami
Prasetyo, Lilik Budi
Kusmana, Cecep
Suyadi
Metadata
Show full item recordAbstract
Ekosistem mangrove memiliki peran strategis dalam menjaga
keseimbangan ekologis sistem pesisir Indonesia melalui fungsi perlindungan
pantai, stabilisasi geomorfologi, regulasi hidrologi, dan penyimpanan karbon biru.
Namun, tekanan antropogenik, konversi lahan, serta sedimentasi berlebih telah
menyebabkan degradasi struktural dan fungsional di berbagai wilayah, termasuk
di Laguna Segara Anakan yang mengalami perubahan geomorfologi cepat dan
kompleks. Kondisi ini menuntut metode penilaian kesehatan ekosistem yang
bersifat kuantitatif, berbasis bukti, dan mampu menggambarkan kondisi biofisik
secara eksplisit dalam ruang.
Penelitian ini mengembangkan Mangrove Ecosystem Health Index
(MEHI) sebagai pendekatan multitingkat untuk menilai kesehatan ekosistem
mangrove berdasarkan integrasi indikator biofisik, lingkungan, spasial, dan
tekanan antropogenik. Penentuan indikator dimulai melalui analisis bibliometrik
terhadap publikasi internasional bereputasi dalam dua dekade terakhir untuk
mengidentifikasi parameter yang paling konsisten digunakan dalam penilaian
kesehatan mangrove. Hasil bibliometrik mengonfirmasi enam indikator kunci
biomassa, kerapatan pohon, tutupan kanopi, keanekaragaman spesies, salinitas,
dan Ph serta variabel spasial seperti fragmentasi, ukuran patch, konektivitas
habitat, dan tekanan antropogenik sebagai determinan utama integritas ekosistem.
Seluruh indikator ini dipilih berdasarkan konsistensi ilmiah dan relevansi
ekologis, kemudian digunakan sebagai dasar penyusunan MEHI.
MEHI tingkat lanskap dikembangkan menggunakan citra Landsat-8,
Enhanced Mangrove Index (EMI), metrik spasial, dan unit analisis heksagonal
untuk memetakan kesehatan ekosistem mangrove secara spasial. Hasil pemodelan
menunjukkan pola gradien kesehatan yang jelas dari barat ke timur, di mana
63,8% kawasan berada dalam kondisi buruk, 22,8% sedang, dan 13,4% baik. Uji
akurasi menghasilkan nilai Overall Accuracy sebesar 88,3% dan Koefisien Kappa
sebesar 0,81, yang termasuk kategori substantial agreement. Nilai Kappa tersebut
menegaskan bahwa kesesuaian antara pemodelan spasial dan data validasi tidak
terjadi secara kebetulan, serta menunjukkan reliabilitas model dalam mendeteksi
degradasi dan variasi kondisi ekosistem.
MEHI tingkat tapak disusun melalui pengukuran biofisik langsung pada
32 plot observasi yang mencakup biomassa di atas permukaan tanah, kerapatan
pohon, tutupan kanopi, salinitas, dan pH tanah. Indeks ini menggambarkan
kondisi ekologis aktual pada tingkat mikrohabitat dan digunakan sebagai dasar
verifikasi ekologis terhadap pola spasial MEHI lanskap. Hasil evaluasi
menunjukkan konsistensi ekologis yang kuat: area dengan nilai MEHI lanskap
tinggi berkorespondensi dengan tegakan dewasa, kanopi rapat, dan kondisi
lingkungan stabil, sedangkan nilai rendah konsisten dengan biomassa rendah,
fragmentasi tinggi, dan tekanan hidrologi maupun antropogenik.
Meskipun MEHI yang dikembangkan pada penelitian ini menunjukkan
kinerja yang kuat pada sistem mangrove bertipe laguna, penerapannya tidak dapat langsung digeneralisasikan ke tipologi ekosistem mangrove lainnya seperti delta,
estuari terbuka, atau fringing mangrove. Setiap tipologi memiliki karakteristik
geomorfologi, dinamika hidrologi, pola sedimentasi, serta konfigurasi spasial
habitat yang berbeda. Faktor-faktor tersebut berpengaruh langsung terhadap
perhitungan metrik spasial, sensitivitas canopy density, serta klasifikasi mangrove
yang akan digunakan.
Oleh karena itu, penggunaan MEHI di luar tipologi laguna memerlukan
proses penyesuaian, terutama pada nilai ambang batas (threshold), ukuran grid
heksagonal, dan parameter metrik spasial agar tetap selaras dengan karakteristik
ekologis masing-masing tipologi. Dengan penyesuaian tersebut, MEHI tetap
berpotensi diterapkan secara lebih luas, namun hanya setelah dilakukan kalibrasi
lokal yang memadai.
Secara keseluruhan, penelitian ini menghasilkan kerangka penilaian
kesehatan mangrove yang komprehensif, objektif, dan dapat diterapkan untuk
pemantauan jangka panjang pada skala tapak maupun lanskap. MEHI berpotensi
besar menjadi instrumen ilmiah pendukung kebijakan restorasi, konservasi, dan
mitigasi perubahan iklim, termasuk pencapaian target Indonesia Net Sink 2030
dan strategi pengelolaan ekosistem pesisir berbasis bukti ilmiah.
