Strategi Pengembangan Kewirausahaan Perempuan dari Faktor-Faktor Keputusan Berwirausaha dan Model Bisnis Skala Mikro di Kota Bandung
Date
2026Author
Awalia, Riska
Nazli, Rizal Sjarief Sjaiful
Haryati, Teti
Metadata
Show full item recordAbstract
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran strategis dalam perekonomian Indonesia, khususnya dalam penciptaan lapangan kerja dan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Perempuan merupakan pelaku dominan pada skala usaha mikro, terutama di sektor makanan, dan terbukti memiliki ketahanan tinggi dalam menghadapi krisis ekonomi. Namun, meskipun jumlahnya besar, sebagian besar kewirausahaan perempuan masih bertahan pada skala mikro dan menghadapi berbagai keterbatasan dalam pengembangan usaha. Kondisi ini menunjukkan perlunya strategi pengembangan kewirausahaan perempuan yang mempertimbangkan faktor keputusan berwirausaha serta karakteristik model bisnis yang dijalankan.
Meskipun perempuan merupakan pelaku dominan pada usaha mikro di Indonesia, khususnya di sektor makanan, sebagian besar usaha yang dijalankan masih bertahan pada skala mikro dan menunjukkan keterbatasan dalam pertumbuhan serta keberlanjutan usaha. Kota Bandung dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki jumlah pelaku UMKM perempuan terbanyak di Provinsi Jawa Barat serta ekosistem kewirausahaan yang dinamis, namun masih didominasi oleh usaha mikro yang bersifat informal. Sektor usaha makanan dipilih karena menjadi sektor yang paling banyak digeluti oleh perempuan dan memiliki karakteristik usaha yang erat dengan peran domestik, sehingga mencerminkan dinamika keputusan berwirausaha perempuan secara nyata. Skala mikro dipilih karena merupakan skala usaha yang paling rentan terhadap kegagalan usaha dan menghadapi keterbatasan sumber daya, namun sekaligus menjadi fondasi utama perekonomian rakyat.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi umum kewirausahaan perempuan skala mikro di Kota Bandung, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keputusan perempuan untuk berwirausaha, menggambarkan model bisnis yang dijalankan menggunakan pendekatan Business Model Canvas (BMC), serta merumuskan strategi pengembangan kewirausahaan perempuan skala mikro yang terintegrasi dengan motif berwirausaha dan karakteristik model bisnis.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap pelaku usaha perempuan skala mikro di sektor makanan di Kota Bandung yang telah menjalankan usahanya lebih dari tiga tahun, serta wawancara dengan pakar. Analisis data dilakukan melalui pemetaan Business Model Canvas (BMC), analisis Feedback Grid, dan analisis SWOT untuk merumuskan strategi pengembangan usaha.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi umum kewirausahaan perempuan usaha makanan skala mikro di Kota Bandung ditandai oleh dominasi peran perempuan sebagai pemilik sekaligus pelaku operasional usaha, dukungan keluarga yang kuat, serta ketergantungan pada jaringan sosial dalam menjalankan usaha. Keputusan perempuan untuk berwirausaha dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal dan eksternal yang terklasifikasi ke dalam tiga motif utama, yaitu motif necessity, flexibility, dan identity. Model bisnis kewirausahaan perempuan pada usaha makanan skala mikro di Kota Bandung menunjukkan bahwa kekuatan utama terletak pada Value Proposition yang unik, didukung oleh Key Activities seperti kontrol kualitas yang dilakukan langsung oleh pemilik, serta Customer Segments yang luas dan beragam juga memberikan fleksibilitas dalam menjangkau konsumen yang berbeda. Namun, kelemahan masih terlihat pada aspek Customer Relationship yang belum terstruktur, keterbatasan Channels, serta Key Resources dan Cost Structure yang lemah, sehingga diperlukan penguatan model bisnis agar usaha dapat berkembang secara berkelanjutan.
Analisis SWOT yang dipadukan dengan temuan motif berwirausaha dan BMC menghasilkan 13 strategi yang mencakup penguatan mindset wirausaha, pemanfaatan media digital, inovasi produk dan branding, optimalisasi dukungan pemerintah dan pembiayaan untuk memperkuat kapasitas usaha, menentukan target usaha, peningkatan kompetensi manajerial melalui pendampingan, pengurusan legalitas untuk meningkatkan daya saing, pembentukan sistem kerja sederhana, peningkatan literasi keuangan, diferensiasi produk didukung oleh pendekatan personal dan analisis pasar, kolaborasi strategis dengan komunitas dan pelaku usaha lain, penetapan batas produk agar tidak terjadi diversifikasi berlebihan, serta penguatan koordinasi antara pemerintah dan lembaga pendidikan. Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) play a strategic role in the Indonesian economy, particularly in job creation and contributions to Gross Domestic Product (GDP). Women constitute the dominant actors at the micro-enterprise level, especially in the food sector, and have demonstrated high resilience in times of economic crisis. However, despite their large numbers, most women-owned enterprises remain at the micro scale and face various constraints in business development. This condition highlights the need for strategies to develop women’s entrepreneurship that take into account entrepreneurial decision-making factors and the characteristics of the business models implemented.
Although women are the dominant actors in micro-enterprises in Indonesia, particularly in the food sector, most businesses remain at the micro scale and show limitations in growth and sustainability. Bandung City was selected as the research location because it has the highest number of women MSME actors in West Java Province and a dynamic entrepreneurial ecosystem, yet it is still dominated by informal micro-enterprises. The food sector was chosen because it is the sector most commonly pursued by women and is closely linked to domestic roles, thereby reflecting the dynamics of women’s entrepreneurial decision-making in a tangible manner. The micro-enterprise scale was selected because it is the most vulnerable to business failure and faces significant resource constraints, while at the same time serving as the main foundation of the people’s economy.
This study aims to analyze the general conditions of women’s micro-scale entrepreneurship in Bandung City, identify the factors influencing women’s decisions to engage in entrepreneurship, describe the business models implemented using the Business Model Canvas (BMC) approach, and formulate development strategies for women’s micro-enterprises integrated with entrepreneurial motives and business model characteristics.
This study employs a descriptive qualitative approach. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation involving women micro-entrepreneurs in the food sector in Bandung City who had been operating their businesses for more than three years, as well as interviews with experts. Data analysis was conducted through Business Model Canvas (BMC) mapping, Feedback Grid analysis, and SWOT analysis to formulate business development strategies.
The results indicate that the general condition of women’s micro-scale food entrepreneurship in Bandung City is characterized by the dominance of women’s roles as both business owners and operational actors, strong family support, and reliance on social networks in running the business. Women’s decisions to engage in entrepreneurship are influenced by a combination of internal and external factors, which are classified into three main motives: necessity, flexibility, and identity. The business models of women’s micro-scale food enterprises in Bandung City indicate that the main strength lies in a unique value proposition, supported by key activities such as quality control carried out directly by the owners. Broad and diverse customer segments also provide flexibility in reaching different types of consumers. However, weaknesses are still evident in customer relationship management, which remains unstructured, as well as in limited channels and weak key resources and cost structure. Therefore, strengthening the business model is required to enable sustainable business development.
The SWOT analysis, integrated with findings on entrepreneurial motives and the BMC, resulted in 13 development strategies, including strengthening the entrepreneurial mindset; utilizing digital media; product innovation and branding; optimizing government support and financing to strengthen business capacity; determining clear business targets; enhancing managerial competencies through mentoring; obtaining business legalities to improve competitiveness; establishing simple work systems; improving financial literacy; product differentiation supported by personal approaches and market analysis; strategic collaboration with communities and other business actors; setting product boundaries to avoid excessive diversification; and strengthening coordination between government and educational institutions.
Collections
- MT - Business [4063]
