OPTIMALISASI SKENARIO TRANSISI ENERGI LISTRIK DI INDONESIA HINGGA 2060: ANALISIS SUMBER DAYA, KEANDALAN SISTEM DAN BIAYA
Abstract
Listrik merupakan elemen fundamental dalam kehidupan masyarakat modern, dan tingkat elektrifikasi Indonesia yang mendekati 100% mencerminkan tingginya ketergantungan terhadap energi listrik. Target konsumsi listrik per kapita sebesar 5.000 kWh pada 2060 menuntut peningkatan signifikan pada infrastruktur ketenagalistrikan, khususnya kapasitas pembangkit. Sebagai salah satu kontributor terbesar emisi nasional, sektor energi dituntut untuk menerapkan Trilemma Energy, yaitu ketahanan energi, pemerataan akses, dan keberlanjutan lingkungan. Dekarbonisasi pembangkit listrik menjadi aspek krusial dalam pencapaian target net-zero emisi. Perencanaan kapasitas pembangkit yang tepat dan adaptif sangat penting untuk menjamin kecukupan pasokan listrik serta menghindari risiko defisit maupun oversupply, yang keduanya berimplikasi pada peningkatan biaya pokok penyediaan. Strategi transisi energi yang terstruktur, berbasis pada prinsip keberlanjutan, terjangkau dan andal, menjadi landasan penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pencapaian target iklim Indonesia.
Studi ini mengembangkan tiga skenario transisi ketenagalistrikan menuju net-zero dengan menggunakan sistem Low Emissions Analysis Platform (LEAP): (1) Current Scenario (CS), yang menekankan pembangkit berbasis batubara dengan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS); (2) Renewable Energy-Based Transition (ET), yang memprioritaskan energi surya, angin, hidro, bioenergy dan panas bumi; (3) Enhanced Renewable and New Energy Transition (EBT), yang mengintegrasikan energi terbarukan dengan tenaga nuklir dan hidrogen sebagai pembangkit beban dasar (baseload).
Hasil pemodelan menunjukkan bahwa permintaan listrik pada tahun 2060 diproyeksikan mencapai 1.808 TWh, dengan beban puncak 245 GW. Kebutuhan kapasitas pembangkitan untuk setiap skenario adalah 565 GW (CS), 758 GW (ET), dan 1.211 GW (EBT). Emisi puncak diperkirakan terjadi pada tahun 2031, sebesar 440 MtCO2 (CS) dan 439 MtCO2 (ET dan EBT). Pada tahun 2060, emisi nol dapat dicapai dalam skenario ET dan EBT, sementara skenario CS masih menghasilkan 103 MtCO2. Semua skenario memenuhi target penurunan emisi ENDC 2030. Keandalan sistem paling tinggi pada skenario EBT dan CS, sementara penurunan emisi paling signifikan terjadi pada skenario ET dan EBT. Temuan ini menegaskan pentingnya percepatan pengembangan energi terbarukan, penerapan teknologi energi baru, dan pemanfaatan teknologi penangkapan karbon dalam mencapai target iklim dan ketahanan energi Indonesia. Integrasi teknologi dispatchable seperti tenaga nuklir dan hidrogen, bersama solusi penyimpanan energi yang kuat, sangat penting untuk memastikan keandalan sistem di tengah meningkatnya porsi energi terbarukan yang bersifat variabel.
