Karakteristik Serangan Blue Stain pada Kayu Berwarna Terang serta Pengendaliannya dengan Senyawa Boron dan Pemanasan
Date
2026Author
Sofiaturizkiyah, Nurul
Priadi, Trisna
Herliyana, Elis Nina
Metadata
Show full item recordAbstract
Kayu berwarna terang yang umum digunakan sebagai bahan baku furnitur kerap mengalami penurunan kualitas akibat serangan cendawan pewarna, yang menyebabkan perubahan warna pada permukaan kayu dan berdampak pada penurunan nilai ekonomisnya. Salah satu upaya pengendalian yang potensial adalah penggunaan senyawa boron yang dikenal bersifat toksik terhadap organisme perusak kayu serta mudah diaplikasikan. Selain itu, perlakuan panas menggunakan suhu tinggi merupakan metode modifikasi kayu yang ramah lingkungan dan mampu meningkatkan sifat fisis kayu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik pertumbuhan dan serangan cendawan pewarna berdasarkan perubahan warna, struktur mikroskopis, dan sifat fisis kayu, serta menguji efektivitas kombinasi perlakuan Boric Acid Equivalent (BAE) dan pemanasan terhadap intensitas serangan cendawan pewarna.
Tahapan awal penelitian dilakukan isolasi jenis cendawan dari kayu pinus (Pinus Merkusii), karet (Hevea brasiliensis), jabon (Anthocephalus cadamba), sengon (Falcataria moluccana), dan gmelina (Gmelina arborea) yang telah dipaparkan secara alami di lingkungan terbuka selama enam pekan. Isolasi dilakukan melalui dua metode, yakni dengan sterilisasi permukaan dan tanpa sterilisasi permukaan. Identifikasi cendawan dilakukan secara mikroskopis berdasarkan karakteristik morfologi menggunakan mikroskop monokuler dengan perbesaran total 400×. Cendawan yang teridentifikasi selanjutnya diperbanyak menjadi isolat dalam bentuk suspensi spora. Modifikasi pengawetan diterapkan pada kayu pinus dan karet melalui impregnasi larutan BAE 5% dengan kombinasi perlakuan pemanasan pada suhu 60 °C, 120 °C, dan 180 °C. Evaluasi dilakukan terhadap sifat fisis kayu, intensitas serangan cendawan, perubahan warna, serta analisis mikroskopis.
Hasil identifikasi menunjukkan bahwa Aspergillus sp., Penicillium sp., dan Trichoderma sp. merupakan cendawan yang ditemukan pada seluruh jenis kayu, dengan Aspergillus sp. sebagai jenis dominan dengan tingkat kemunculan mencapai 80%. A. brevipes dan A. niger menyerang jaringan kayu terutama pada bagian pembuluh dengan memanfaatkan saluran noktah sebagai jalur penetrasi antar sel. Infeksi oleh A. brevipes menyebabkan perubahan warna kayu menjadi abu-abu kehitaman, dengan tingkat perubahan warna yang tergolong sangat tinggi (?E > 12), diklasifikasikan sebagai perubahan total. Sementara A. niger menyebabkan perubahan warna yang lebih rendah dengan perubahan warna kayu cenderung menuju abu kehijauan.
Kombinasi perlakuan BAE dan pemanasan meningkatkan sifat fisis kayu pinus dan karet. Kadar air kayu setelah perlakuan pada rentang 9,1-11,2% yang telah memenuhi standar SNI untuk bahan baku furnitur. Nilai kerapatan yang diperoleh berkisar antara 0,61-0,71 g cm-3. Nilai ASE (anti-swelling efficiency) menunjukkan peningkatan yang signifikan pada rentang 22-48%, seiring dengan meningkatnya suhu perlakuan dan penambahan senyawa boron. Perlakuan suhu 120 °C dan 180 °C menurunkan serangan A. brevipes pada kayu pinus. Sedangkan kombinasi perlakuan BAE dan suhu 180 °C berhasil mengurangi serangan A. brevipes maupun A. niger pada kayu pinus dan karet hingga 100% pada masa inkubasi tiga pekan. Secara keseluruhan, perlakuan boron terbukti mampu meningkatkan ketahanan kayu terhadap serangan cendawan serta menurunkan perubahan warna yang disebabkan oleh Aspergillus brevipes dan Aspergillus niger hingga delapan kali lipat lebih rendah dari kayu tanpa perlakuan BAE.
Collections
- MT - Forestry [1513]
