Sifat Keasaman Beberapa Jenis Kayu Dan Pengaruhnya Terhadap Keteguhan Rekat Perekat Urea Formaldehida
Abstract
Kayu merupakan salah satu sumberdaya alam yang bersifat terbaharukan. tetapi untuk mendapatkannya membutuhkan waktu yang cukup lama, oleh karena itu kayu harns dimanfaatkan sebaik-baiknya sehingga dapat memberikan manfaat yang maksimum pada masa sekarang dan masa yang akan datang. Untuk memperoleb basil yang maksimum dan efisien, kayu yang digunakan harns diolah terlebih dahulu dengan m~ sifat-sifat dasar kayu yang berpengaruh terhadap pengolahannya, sehingga diperoleh niIai tambah yang tinggi. Salah satu bentuk produk pengolahan kayu adalah pembuatan kayu lapis, dUn.m da1am pengolahannya mebbatkan penggunaan perekat. Banyak faktor yang mempeagaruhi proses perekatan. dimana nantinya akan berpengaruh terhadap ketegu.han rebt yang dihasiIkan. Salah satu sifut kayu yang berpotensi sebagai variabel keberhasilan proses perekatan adalah keasaman kayu. Hal ini terjadi pada pengolahan kayu yang melibatkan perebt yang sensitif terhldap ni1ai pH., seperti halnya urea formaldehida. Dampak dari keterkaitan tersebut dapat dilihat dari keteguhan rekat yang dihasilkan. Untuk mengetahui pengaruh keasaman kayo terhadap keteguhan rebt, maka studi ini dilakukan dalam rangka untuk mengetahui dan memahami fenomena proses perekltan kayu. Penelitian ini menggunakan beberapa jenis kayu yaitu Bintangur (CaJophyl/um sp.), Gerunggang (CratoxyJon arborescens BI), Meranti Putih (Shorea sp.), NyatohlSuntai (PaJaquium sp.), Terentang (Campnosperma sp.), Punak (Terrwnen"sta sp.). Perekat yang digunakan adalah perekat urea formaldehida. VariabeJ yang diukur meliputi nilai pH dan kapasitas penyangga kayu, kadar ekstraktif kayu., waktu pengerasan perekat, hem jenis kayu serta keteguhan rekat tanpa katalis dan dengan katalis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keasaman kayu yang diteliti bervariasi. Secara umum kayu yang dite1iti bersifat asam denpn pH berkisar 4,68 sampai 6,03 dan kapasitas penyangga berkisar 0,08 sampai 0,51 mmeq, dan la"dapat hubungan yang erat bersifut negatif antara nilai pH dan kapasitas penyangga. Kadar zat ekstnIktif walaupun berperan pada perbedaan sifat keasaman kayu, tetapi tidak terdapat hubungan yang nyata dengan nilai pH kayu, akan tetapi terdapat hubungan yang bersifat nyata antara kapasitas ~ dengan kadar zat ekstraktif. Hal ini disebabkan karena kompleksnya bahan yang menyusun ZIt ekstraktif kayu. Hasil penelitian rnenunjukkaa pula adanya hubungan yang nyata antara waktu pengerasan perekat dengan nilai pH dan kapasitas penyangga kayu. Kayu dengan rulai pH rendah maka kapasitas p<:nyanll!!'l tmgg; sehingga waktu _ perekat _ singkat dan sebaliknya. Semaltin aaam kayo yang direkat maka semakin eepIl proses pengerasan perekatnya. Berbeda halnya dengan kadar ekstraktif yang dikaitkan dengar. waktu pengerasan perekat urea formaldehida. hasil uji F (uji keberartian regresi) menunjukkan bahwa kadar ekstraktif tidak berpengaruh nyata terhadap walctu pengerasan perekat pada tarafkepercayaan 95 %. Pengaruh katalis (hardener) yang diberikan pada perekat menghasilkan keteguhan rekat yang lebih tingsi dibandingkan dengan keteguhan rekat tanpa katalis. Rendahnya keteguhan rekal tanpa katalis diduga disebabkan oleh zat-zat yang bersifat asam dan basa dati kayu. Analisis korelasi antara nilai pH dengan keteguhan rekat tanpa katalis (hardener) menunjukkan hubungan yang bersifat negatif pada saat pH kayu kurang dari 5,6. Pada nilai pH lebih dari 5,6 tidak menunjukkan perubahan yang berarti pada keteguhan rekat. Hal ini berani saat pH kayu kurang dati 5,6, asam yang ada dalam kayu dapat bertindak sebagai katalis (hardener) dalam proses perekatan. Pada saat katalis (hardener) diberikan dalam sistem perekatan, asam yang terdapat didalam kayu tidak lagi berpengaruh dalam proses perekatan. Hal ini disebabkan oleh besamya konsentrasi asam pada katalis (hardener). Adanya variasi yang cukup nyata pada keteguhan rekat berkatalis, diduga disebabkan oleh faktor lain dari kayu itu sendiri, diantaranya berat jenis kayu. Hasil uji F (uji keberartian regresi) menunjukkan bahwa kadar ekstraktif tidak berpengaruh nyata terhadap keteguhan rekat tanpa kata1is pada taraf kepercayaan 95 %. Hal ini disebabkan oleh bervariasinya jenis dan kompisisi zat ekstraktif yang terkandung di dalam kayu. Dalam penelitian ini, kadar ekstraktif banya dinilai dari segi kuantitas saja. Pada saat katalis diberikan dalam sistem perekatan maka aspek kimia perekatan (pematangan perekat) bukan lagi sebagai peubah keberhasilan perekatan. Faktor lain seperti porositas kayu dan penetrasi perekat kemungkinan lebih besar pengaruhnya dalam proses perekatan. Penetrasi dan porositas kayu, lebih banyak: dipengarubi oleh jumlah dan jenis zat ekstraktif yang terdapat didalam kayu.
Collections
- UT - Forestry Products [2466]

