Pengembangan Wedang Jahe dengan Penambahan Ekstrak Kayu Manis (Cinnamomum burmannii) dan Jeruk Nipis (Citrus aurantiifolia)
Abstract
Wedang jahe adalah minuman tradisional berbahan dasar jahe yang kaya zat
antiinflamasi dan antimikroba. Minuman tradisional kurang bersaing dengan
minuman modern dalam hal inovasi rasa, penampilan dan kemasan. Penambahan
ekstrak kayu manis dan jeruk nipis yang memiliki efek antimikroba dan juga
antiinflamasi serta berbagai sumber vitamin. Tujuan penelitian ini untuk
mendapatkan formulasi terbaik pada modifikasi wedang jahe dengan penambahan
ekstrak kayu manis dan jeruk nipis. Penelitian ini dilakukan serangkaian
pengembangan produk, uji organoleptik, analisis kandungan zat gizi, uji kesukaan,
serta analisis biaya. Uji organoleptik menggunakan metode uji hedonik. Analisis
data uji organoleptik diolah menggunakan uji Kruskal Wallis dan uji lanjutan Man
Whitney. Hasil uji organoleptik dengan uji Kruskal Wallis menunjukkan ada
perbedaan signifikan (p<0.05) pada parameter tekstur dan warna. Formula yang
terpilih adalah formula 2 sebagai formula terbaik melalui hasil uji hedonik. Formula
2 mengandung energi 69,7 kkal, karbohidrat 16,6 g, protein 0,2 g, lemak 0,1g dan,
1,6 mg vitamin c. Analisis biaya dan harga jual menerapkan metode cost pricing
dengan pendekatan metode full cost pricing. Harga pokok produk wedang jahe
sebesar Rp2.176,-. Harga jual per sachet 23 gram seharga Rp3.000. Ginger tea is a traditional beverage made from ginger, which is rich in anti
inflammatory and antimicrobial compounds. Traditional beverages are less
competitive with modern beverages in terms of flavor innovation, appearance, and
packaging. The addition of cinnamon bark extract and lime, which have
antimicrobial and anti-inflammatory effects as well as various vitamin sources,
enhances its properties. The objective of this study is to determine the optimal
formulation for modifying ginger tea by adding cinnamon and lime extracts. This
research involved a series of product development, organoleptic testing, nutritional
content analysis, preference testing, and cost analysis. Organoleptic testing used the
hedonic testing method. Data from the organoleptic testing were analyzed using the
Kruskal-Wallis test and the Mann-Whitney post-hoc test. The results of the
organoleptic testing with the Kruskal-Wallis test showed significant differences
(p<0.05) in texture and color parameters. The selected formula was Formula 2 as
the best formula based on the results of the hedonic test. Formula 2 contains 69.7
kcal of energy, 16.6 g of carbohydrates, 0.2 g of protein, 0.1 g of fat, and 1.6 mg of
vitamin C. Cost analysis and pricing applied the full cost pricing. The production
cost of the ginger drink product is Rp2,176. The selling price per 23-gram sachet is
Rp3,000.
