Pola Pembayaran Adaptif Untuk Usaha Perikanan Tangkap Skala Kecil Studi Kasus Usaha Pajeko Di Bitung
View/ Open
Date
2020Author
Lovita, Fini
Arif Satria
Dedi Budiman Hakim
Metadata
Show full item recordAbstract
Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan tercatat sebagai sektor terbesar di Sulawesi Utara rlengan pangsa 22,05% dari total perekonomian dan pertumbuhan relatif stabil pada kisaran 4,21 %. Dari jumlah tersebut, sub-sektor perikanan mendominasi 30%. Kredit yang disalurkan oleh lembaga perbankan di Sulawesi Utara untuk sektor pertanian, kehutanan dan perikanan mengalami peningkatan 35% pada periode 2015-2017. Namun hanya mampu menyerap 7% dari total kredit yang disalurkan pada 2015.
Keengganan lembaga keuangan formal menyalurkan kredit untuk pengembangan usaha perikanan tangkap di Bitung, Sulawesi Utara, mendorong peningkatan pembiayaan dari sektor non-formal (Masyhuri 2014). Wardono (2015) mengw1gkapkan kecenderungan nelayan kecil memanfaatkan sumber pendanaan operasional adalah berdasarkan ikatan sosial.
Penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pilihan nelayan kecil atas sumber pembiayaan. Selanjutnya, faktor-faktor tersebut menjadi dasar perbandingan antara pembiayaan bank dan non-bank. Penelitian ini merekomendasikan pola pembiayaan adaptifuntuk nelayanpajeko.
Penelitian ini menggunakan data primer hasil wawancara mendalam dengan 32 responden dari 85 nelayan pajeko di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bitung berdasarkan teknik purposive sampling. Responden merupakan nelayan kapal pajeko (mini purse seine) berukuran <20 Gross Tonage (GT) dengan target utama layang (Decapterus spp ). Sementara itu, data sekunder berasal dari publikasi laporan pemerintah pusat dan daerah.
Data primer dianalisa menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk mengeksplorasi pilihan nelayan atas sumber pembiayaan. Metode simulasi digunakan untuk perbandingan pendapatan antara pemilik dan kru kapal, berdasarkan sumber pembiayaan.
Berdasarkan hasil wawancara, 97% responden memilih sumber pembiayaan non-bank untuk operasional usaha. F��tor paling menentukan dalam pemilihan sumber pembiayaan tersebut adalah kemudahaan administrasi dan pelayanan (88%), fleksibilitas pembayaran angsuran (78%), serta jenis dan nilai kolateral (69%). Berdasarkan hasil simulasi, sumber pembiayaan dari pemilik kapal dengan sistem bagi hasil pendapatan bersih dibagi tiga (kapal, pemilik kapal, kru kapal) adalah yang paling menguntungkan bagi pemilik kapal. Sementara pembiayaan dari pinjaman bank dengan sistem bagi hasil pendapatan bersih dibagi dua (pemilik kapal, kru kapal) paling menguntungkan bagi kru kapal.
Berdasarkan hasil analisa tersebut di atas, disarankan agar lembaga keuangan perbankan di Bitung menyiapkan strategi pembiayaan adaptif berdasarkan faktorfaktor yang memengaruhi pilihan nelayan. Bank juga disarankan untuk melakukan pendekatan sesuai karakteristik nelayan pajeko dengan produksi yang fluktuatif.
Collections
- MT - Business [4063]
