Audit Pemasaran Perusahaan Jasa Pendidikan (Studi Kasus: Lembaga Bkb Nurul Fikri)
View/ Open
Date
2020Author
Surya, Mulyana
Machfud
Megawati Simanjuntak
Metadata
Show full item recordAbstract
Perubahan lingkungan bisnis yang berubah semakin cepat dan sulit
diprediksi termasuk pada bisnis jasa pendidikan non formal seperti lembaga
bimbingan belajar mengharuskan perusahaan secara berkala meninjau ulang
lingkungan bisnisnya dan mendesain ulang strategi bisnisnya, termasuk strategi
pemasarannya agar competitive strategy fit dengan competitive setting yang
dihadapinya.
Bimbingan dan Konsultasi Belajar Nurul Fikri (selanjutnya disingkat
dengan BKB NF) adalah salah satu lembaga/perusahaan penyedia jasa pendidikan
non formal yang oleh masyarakat sering disebut lembaga bimbingan belajar. Pada
usia yang ke-34 tahun BKB NF telah memiliki 176 lokasi belajar yang tersebar di
kota dan kabupaten di Jawa dan Sumatra. Sebagai sebuah entitas bisnis BKB NF
mengalami banyak tantangan atau permasalahan dalam pengelolaan bisnisnya.
Salah satu permasalahan yang dihadapi saat ini adalah penurunan sales yang
terjadi terus-menerus di beberapa wilayah atau lokasi-lokasi belajarnya, terutama
wilayah dan lokasi-lokasi belajar yang berada di Bidang Operasional
Megapolitan. Penurunan sales (jumlah siswa) sangat mungkin hanya sebuah
simptom, bukan akar permasalahan yang sesungguhnya. Hal seperti sering kali
membuat manajemen perusahaan terjebak hanya melihatnya dari sudut pandang
yang sempit. Kondisi ini berpotensi menimbulkan konsekuensi, effort atau energi
yang dikeluarkan untuk menyelesaikan masalah tersebut menjadi tidak efektif dan
efisien.
Penelitian ini memiliki empat tujuan, yaitu: (1) mengidentifikasi situasi
persaingan (competitive setting) yang dihadapi oleh BKB NF saat ini; (2)
menganalisis strategi (strategy), taktik (tactic) dan nilai (value) pemasaran yang
telah dijalankan BKB NF selama ini; (3) memformulasikan strategi (strategy),
taktik (tactic) dan nilai (value) pemasaran yang tepat bagi BKB NF, berdasarkan
hasil audit kompetitif (competitive-audit); (4) mendapatkan type of company yang
fit dengan situasi persaingan yang dihadapi BKB NF saat ini dan tiga tahun
mendatang.
Penelitian (competitive audit) dilaksanakan berdasarkan kerangka kerja
Strategic Marketing Plus 2000 yang menghasilkan Competitive Setting Profil
(CSP) dan Company Alignment Profile (CAP). CSP didapatkan dari audit
terhadap tiga variabel, yaitu customer (C1), competitor (C3), dan change driver
(C4), sedangkan CAP dihasilkan dari audit terhadap strategy, tactic, dan value
yang dijalankan company (C2).
Hasil competitive audit menunjukkan skor Competitive Setting Index (CSI)
BKB NF menurut persepsi seluruh kelompok responden berada antara 4.12
hingga 4.15 diinterpretasikan perusahaan berada pada situasi persaingan
(competitive setting) yang sudah “sophisticated” (3.5C). Skor Company
Alignment Index (CAI) antara 2.91 hingga 2.96 diinterpretasikan type of
marketing yang dijalankan perusahaan saat ini adalah “segmented marketing”.
Perbandingan CAI < CSI, menunjukkan type of marketing yang dijalankan oleh perusahaan relatif tertinggal 1.19 hingga 1.24 poin dengan competitive setting
yang dihadapi saat ini sampai dengan tiga tahun yang akan datang. Ada
konsistensi antara customer (C1), competitor (C3), dan change (C4). Artinya
ketika situasi persaingan tergolong “sophisticated”, maka posisi customer (C1)
pada tahap “client”, competitor (C3) pada tahap “wild” dan change driver (C4)
sudah pada tahap “discontinuous”.
Rekomendasi yang bisa diberikan kepada perusahaan adalah BKB NF harus
melakukan perubahan type of marketing dari “segmented marketing” menjadi
“niche marketing Sejalan dengan perubahan type of marketing menjadi “niche
marketing”, maka perusahaan harus mengubah strategi segmentasi
“psychographics” menjadi “behavioural”, mengubah strategi targeting dari
“chosen ones” menjadi “a few goods ones”, dan mengubah strategi positioning
dari “one statement” menjadi “different ones”; mengubah taktik differentiation
dari “preferred by customer” menjadi “specialized for niches”; taktik marketing
mix dari “4P” menjadi “4V”; taktik selling dari “benefit selling” menjadi
“solution selling”; dan mengubah value brand dari “brand association” menjadi
“perceived quality”, mengubah value service dari “value in use business” menjadi
“customer satisfying business”; dan mengubah value process dari “functional
streamlining” menjadi “total delivery reengineering”.
Collections
- MT - Business [4069]
