Pengaruh Gaya Hidup Berbelanja dan Kelompok Acuan Terhadap Minat Beli Produk Fashion Preloved Online
View/ Open
Date
2019Author
Apupianti, Isma Nurhikmah
Sumarwan, Ujang
Tinaprilla, Netti
Metadata
Show full item recordAbstract
Perkembangan penjualan produk fashion preloved terjadi baik secara global
maupun secara lokal seperti di Indonesia. Media belanja online preloved terbesar
dunia, thredUp, memprediksi nilai pasar produk ini akan meningkat sebesar USD
41 miliar di tahun 2022. Jumlah pembelian produk di thredUp mengalami
peningkatan sebesar 25.71% di tahun 2017. Selain itu, tren penjualan produk
preloved di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 1.4 juta produk di tahun
2017. Hal ini menyebabkan munculnya berbagai media belanja online baik
berbentuk website, e-commerce, maupun media sosial untuk menjual produkproduk
preloved khususnya fashion seperti Carousell, Prelo, Reebonz,
Banananina, Tinkerlust, dan Bebelian. Hal ini memberi peluang kepada pemasar
untuk menjangkau konsumen lebih luas serta mempermudah konsumen untuk
melakukan interaksi dan transaksi produk fashion prleoved secara online. Akan
tetapi, minat konsumen masih harus dipantau. Oleh karena itu, pemasar masih
membutuhkan informasi untuk mempersepsikan minat beli produk fashion
preloved online diantaranya melalui gaya hidup berbelanja dan kelompok acuan.
Ada dua variabel laten eksogen yaitu gaya hidup berbelanja (shopping
enjoyment, brand/fashion consciousness, price consciousness, shopping
confidence, in-home shopping tendency, quality dan environmental
consciousness) dan kelompok acuan serta satu variabel laten endogen yaitu minat
beli. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis minat beli konsumen, pengaruh
kelompok acuan terhadap gaya hidup berbelanja serta pengaruh kelompok acuan
dan gaya hidup berbelanja terhadap minat beli, dan merumuskan rekomendasi
untuk membangkitkan minat beli produk fashion preloved online.
Desain penelitian yaitu cross sectional design dengan teknik pengambilan
sampel yaitu convenience sampling. Data dikumpulkan melalui online open-close
ended questionnaire dan wawancara. Kriteria responden dalam penelitian ini
adalah konsumen berusia 18-45 tahun, mengetahui produk preloved, dan membeli
produk fashion preloved online minimal sekali dalam satu tahun terakhir. Data
diolah menggunakan SPSS 24, Microsoft Excel 2010, dan SmartPLS 3.0 serta
dianalisis melalui pendekatan Structural Equation Model (SEM) dan deskriptif.
Hasil karakteristik responden menunjukkan bahwa mayoritas responden
adalah perempuan (53%), berusia 18-24 tahun (69%), berdomisili di Jabodetabek
(52.7%), berpendidikan Sarjana (49%), dan rata-rata pendapatan per bulan Rp
<2jt (38.9%). Jenis produk fashion preloved yang sering dibeli adalah pakaian
bermerek, frekuensi pembelian sekali dalam satu bulan, pengeluaran rata-rata Rp
<500rb. Alasan membeli yaitu kondisi produk yang masih baik dan harga
terjangkau. Pembelian produk secara online dilakukan karena dapat menghemat
waktu dan tenaga serta fleksibel. Responden yang memiliki minat beli tinggi ada
42% dengan mempertimbangkan kualitas, keaslian, dan daya beli.
Kelompok acuan memiliki pengaruh yang signifikan positif terhadap gaya
hidup berbelanja, tetapi kelompok acuan tidak berpengaruh terhadap minat beli.
Pembelian dan pemakaian produk fashion preloved tidak memberikan dampak
yang kuat sehingga tidak membutuhkan sumber referensi dalam membelinya.
Informasi dari kelompok acuan dibutuhkan untuk memperkuat keyakinan
konsumen dalam membeli produk fashion preloved tetapi tidak memengaruhinya
untuk membeli produk fashion preloved yang direkomendasikan. Gaya hidup
berbelanja memiliki pengaruh yang signifikan positif terhadap minat beli produk
fashion preloved online. Hal ini menunjukkan konsumen memiliki orientasinya
masing-masing dalam berbelanja produk fashion preloved online. Kontribusi
dimensi yang paling tinggi adalah shopping confidence. Hal ini disebabkan
konsumen membutuhkan keyakinan bahwa produk fashion preloved yang dibeli
secara online adalah berkualitas, harga terjangkau, serta memberi kemudahan saat
proses berbelanja.
Implikasi manajerial bagi perusahaan dikaitkan dengan product discovery,
product presentation dan promosi personal selling. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan adalah detail informasi produk baik secara deskripsi maupun gambar
dan menampilkan layout toko yang menarik. Pemasar juga perlu memperhatikan
kemampuan sorting dan searching suatu platform online. Hal ini untuk
meningkatkan keyakinan konsumen dan memberikan pengalaman yang
menyenangkan saat berbelanja produk fashion preloved secara online. Pemasar
juga sebaiknya mengombinasikan penjualan secara online dan offline agar
konsumen merasakan interaksi langsung dengan produk yang dijual. Selain itu,
pemasar juga tetap perlu memperhatikan review dari pembeli serta
mempertimbangkan diri sebagai media belanja online yang mendukung isu
lingkungan. Hal ini disebabkan tipe konsumen sekarang yang termasuk dalam
loping, connected, dan environmental friendly consumers.
Collections
- MT - Business [4087]
