Analisis Persepsi Risiko dan Kemauan Untuk Membeli (Willingness To Buy) Pangan Nanoteknologi
Abstract
Nanoteknologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan dan teknologi
mengenai proses, manipulasi, manufaktur dan atau aplikasi suatu bahan/struktur
yang salah satu atau lebih dimensinya berukuran 1 per 1.000.000.000 meter.
Sejumlah studi menyebutkan bahwa nanoteknologi diprediksi akan mendorong
gelombang ketiga difusi penelitian, pengembangan dan kemajuan di sektor
pertanian dan pangan, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari revolusi
nanoteknologi di berbagai bidang (Chaudhry dan Castle 2011, Chaudhry et al. 2008,
Rochman 2011, Rochman dan Mardliyati 2010).
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh nanotechnology
knowledge, trust, dan media komunikasi terhadap persepsi risiko dan willingness to
buy pangan nanoteknologi, Pengambilan data menggunakan media kuesioner
online dengan responden sebanyak 302 orang yang dikumpulkan dengan metode
purposive sampling dan metode structural equation modeling (SEM) untuk
menganalisa data.
Berdasarkan hasil penelitian dengan tiga variabel yaitu nanotechnology
knowledge, trust, dan media komunikasi, diketahui bahwa variabel media
komunikasi dan trust memberikan hasil pengaruh secara signifikan terhadap
persepsi risiko. Sementara itu, nanotechnology knowledge tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap persepsi risiko. Lebih lanjut, hasil menunjukkan bahwa persepsi
risiko berpengaruh secara signifikan terhadap willingness to buy pangan
nanoteknologi.
Nanotechnology knowledge tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
persepsi risko disebabkan saat ini masyrakat secara global dan khususnya Indonesia
belum familiar dengan istilah nanoteknologi. Dalam keadaan seseorang tidak
memiliki pengetahuan yang cukup, mereka menggunakan faktor lain seperti trust
dalam memutuskan risiko dan manfaat dari aplikasi nanoteknologi.
Trust berpengaruh secara signifikan terhadap persepsi risiko disebabkan
fungsi trust adalah mengurangi keadaan kompleks yang dialami oleh seseorang.
Seseorang memutuskan risiko atau manfaat aplikasi nanoteknologi tidak hanya
berdasarkan knowledge tetapi berdasarkan trust kepada pihak lain yang dianggap
lebih expert atau lebih akurat (pemerintah/peneliti/lembanga/pelaku usaha).
Media komunikasi berpengaruh secara signifikan terhadap persepsi risiko
disebabkan penggunaan media massa dan komunikasi interpersonal menjadi faktor
potensial yang mempengaruhi persepsi publik tentang risiko dan manfaat dari suatu
teknologi baru, khususnya nanoteknologi. Dibandingkan pengetahuan yang didapat
melalui textbook, nampak penggunaan media komunikasi mampu menstimulasi
publik untuk mendapatkan pengetahuan tentang teknologi baru, yang pada akhirnya
mampu memutuskan risiko dan manfaat khususnya nanoteknologi.
Persepsi risiko yang saat ini menjadi faktor utama bagi responden adalah
physical risk dimana responden menganggap bahwa aplikasi nanoteknologi pada
makanan masih memiliki kemungkinan untuk berdampak pada kesehatan.
Persepsi risiko berpengaruh secara signifikan terhadap willingness to buy
pangan nanoteknologi. Jika dikelompokkan berdasarkan jenis, maka urutan
willingness to buy terbesar hingga terkecil adalah pangan fungsional dengan
manfaat kesehatan, kemasan pangan, dan bahan tambahan pangan untuk
memperbaiki kualitas produk. Pangan fungsional dipilih responden dengan alasan
adanya tambahan manfaat akan kesehatan. Kemasan pangan dengan aplikasi
nanoteknologi dinilai lebih tidak berisiko dikarenakan tidak kontak secara langsung
dengan produk dan tidak dicerna di dalam tubuh. Sedangkan bahan tambahan
pangan untuk memperbaiki kualitas produk menjadi urutan terendah dikarenakan
responden merasa tidak mendapatkan manfaat apapun dari aplikasi tersebut.
Collections
- MT - Business [4088]
