Pengaruh E-Wom, Prior Online Purchase Experience dan Openness Personality Terhadap Online Trust dan Minat Beli Di Instagram
View/ Open
Date
2019Author
Hirzianto, Shidqi
Yuliati, Lilik Noor
Kirbrandoko
Metadata
Show full item recordAbstract
Popularitas belanja online yang di adopsi media sosial baru-baru ini
melahirkan fenomena e-commerce baru yang disebut social commerce (scommerce).
S-commerce dianggap sebagai bagian dari e-commerce yang
menggunakan media sosial untuk memfasilitasi interaksi sosial antara konsumen
dan penjual. Media sosial yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah
Instagram 82.6%, Facebook 66.5%, dan Path 49.6% (APJII 2017). Pada umumnya,
Instagram digunakan sebagai platform untuk berbagi foto dan video antar
penggunanya. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak orang
membuka toko virtual di Instagram. Hal tersebut didukung oleh data survei Jakpat
(2017), para penjual online di Indonesia yang menggunakan platform Instagram
tercatat sebesar 26.02% pada tahun 2015 dan meningkat menjadi sebesar 60% pada
tahun 2017. Hal ini memicu persaingan antar pebisnis di Instagram. Namun
berdasarkan data survei Jakpat (2017) para pengguna Intagram yang beraktifitas
untuk membeli online hanya sebesar 12%, jumlah ini merupakan angka terkecil
dibanding aktifitas lainya seperti aktifitas give like (63%), post photo (57%), read
timeline (55%), watch video (52%), and give comment (47%).
Terdapat lima variabel laten dalam penelitian ini yaitu E-WOM, prior
online purchase experience, dan openness personality sebagai variabel independen,
online trust sebagai variabel intervening, dan minat beli sebagai variabel dependen.
Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi E-WOM, prior online
purchase experience, openness personality, online trust, dan minat beli di
Instagram, (2) menganalisis pengaruh E-WOM, prior online purchase experience,
dan openness personality terhadap online trust di Instagram, (3) menganalisis
pengaruh E-WOM, prior online purchase experience, dan openness personality
terhadap minat beli di Instagram, (4) menganalisis pengaruh online trust terhadap
minat beli di Instagram, dan (5) merumuskan implikasi manajerial yang dapat
diterapkan bagi penjual dalam pengelolaan aktivitas pemasaran melalui Instagram.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus sampai bulan September 2018.
Pendekan penelitian ini menggunakan deskripsi kuantitatif dengan metode survei
secara online menggunakan google form. Responden penelitian ditentukan dengan
teknik pengambilan sampel purposive sampling. Kriteria responden penelitian ini
adalah konsumen yang pernah berbelanja online di Instagram, memiliki kriteria usia
20-35 tahun (generasi milenial) serta berbelanja produk pakaian atau kosmetik
minimal satu kali dalam sebulan terakhir. Penelitian ini menggunakan sampel
sebanyak 196 orang pada produk pakaian dan 197 orang pada produk kosmetik.
Pengolahan data pada penelitian ini dilakukan dengan analisis deskriptif dan
Structural Equation Modelling (SEM). Data diolah dengan software Microsoft
Excel, SPSS 17, dan AMOS 21.
Berdasarkan hasil penelitian, karakteristik responden berada rentang usia
20-25 tahun. Mayoritas responden adalah perempuan. Domisili yang paling banyak
melakukan pembelanjaan melalui Instagram adalah Jawa Barat. Responden yang
memiliki pekerjaan sebagai pegawai swasta mendominasi melakukan aktifitas
berbelanja melalui Instagram dengan pengeluaran ≥ Rp 3.000.001 dan Pendidikan
terakhir sarjana.
Berdasarkan analisis deskriptif, mayoritas responden pada produk pakaian
maupun kosmetik menilai indikator frekuensi mengakses informasi dari Instagram
memiliki kontribusi terbesar dalam membentuk E-WOM. Selain itu, mayoritas
responden produk pakaian maupun kosmetik menilai indikator Instagram mudah
digunakan memiliki kontribusi terbesar dalam membentuk prior online purchase
experience. Adapun mayoritas responden produk pakaian maupun kosmetik
memiliki openness personality yang dominan dengan indikator peka terhadap
keindahan sebagai kontribusi terbesar dalam membentuk openness personality.
Mayoritas responden menilai penjual di Instagram dapat dipercaya, dengan
indikator mempunyai pengetahuan yang memadai dalam menjalankan bisnis
sebagai kontribusi terbesar pada produk pakaian dan indikator mampu untuk
mengatasi transaksi dengan baik pada produk kosmetik. Mayoritas responden
produk pakaian maupun kosmetik memiliki minat beli yang dominan dengan
indikator kemungkinan untuk membeli produk dari penjual sebagai kontribusi
terbesar dalam membentuk minat beli.
Berdasarkan evaluasi tingkat kecocokan model, model penelitian ini
termasuk good fit dan marjinal fit sehingga layak untuk dilakukan uji hipotesis.
Hasil dari penelitian ini pada produk pakaian semua hipotesis diterima. E-WOM
berpengaruh positif dan signifikan terhadap online trust dan minat beli. Prior online
purchase experience berpengaruh positif dan signifikan terhadap online trust dan
minat beli. Openness personality berpengaruh positif dan signifikan terhadap online
trust dan minat beli. Online trust berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat
beli. Pada produk kosmetik hampir semua hipotesis diterima hanya hipotesis
keenam saja yang ditolak yaitu prior online purchase experience tidak berpengaruh
signifikan terhadap minat beli. E-WOM berpengaruh positif dan signifikan
terhadap online trust dan minat beli. Prior online purchase experience berpengaruh
positif dan signifikan terhadap online trust. Openness personality berpengaruh
positif dan signifikan terhadap online trust dan minat beli. Online trust berpengaruh
positif dan signifikan terhadap minat beli.
Implikasi manajerial pada produk pakaian adalah meningkatkan online trust
dengan cara memberi tahu kondisi produk yang sebenarnya kepada calon konsumen
seperti kualitas dan bahan pakaian tersebut, apakah produk pakaian tersebut asli
atau tiruan, ukuran pakaian pun harus ditentukan dengan jelas. Pada produk
kosmetik E-WOM memiliki peranan penting terhadap minat beli. Penjual harus
lebih memperhatikan banyaknya pendapat yang ditulis oleh konsumen dalam
Instagram. Penjual dapat memanfaatkan fitur highlight di Instagram, yaitu penjual
mengumpulkan para pendapat yang ditulis konsumen agar tertata dengan baik atau
penjual bisa membuat akun baru khusus untuk testimoni para konsumen
sebelumnya, sehingga pengguna Instagram lebih percaya dan terstimulus untuk
melakukan pembelian.
Collections
- MT - Business [4088]
