Arsitektur Strategi Permodalan Dalam Mengoptimalkan Peran Bpd (Studi Kasus Pada Bank Sumsel Babel)
Abstract
Perbankan nasional memiliki peran yang sangat penting dalam memfasilitasi pertumbuhan ekonomi suatu negara karena fungsinya sebagai lembaga intennediasi. Pertumbuhan ekonomi nasional yang diwakili oleh Produk Nasional Bruto (GNP) adalah akumulasi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dari berbagai daerah. Tinggi rendahnya PDRB suatu daerah merupakan indikator untuk mengukur perkembangan perekonomian daerah tersebut. Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang merupakan bagian dari industri perbankan nasional yang memiliki tugas pokok sebagai agent qf regional development yaitu mengembangkan perekonomian dan menggerakkan pembangunan daerah. BPD saat ini menghadapi tiga permasalahan mendasar mencakup ( 1) rendahnya kontribusi terhadap perekonomian daerah (2) tata kelola, sumber daya manusia, manajemen risiko dan infrastruktur manajemen yang tidak memadai serta (3) rendahnya daya saing. Salah satu fokus perhatian OJK adalah penguatan peranan BPD dalam mendukung perekonomian daerah melalui peningkatan permodalan bank dan porsi kredit produktif yang akan dicapai melalui program "Transfonnasi BPD". Pada industry foresight, BPD diharapkan akan menjadi pemimpin di daerahnya dan sebagai grup bank terbesar, terbaik, dan terkuat di industri perbankan nasional.
Bank Sumsel Babel (BSB) merupakan satu dari 27 BPD di Indonesia yang memiliki wilayah operasional utama di Provinsi Sumatera Selatan dan Kepulauan Bangka Belitung. Tingginya pertumbuhan ekonomi dan posisi kredit di provinsi tersebut menunjukkan adanya peluang bagi BSB untuk mengembangkan usahanya terutama dalam penyaluran kredit. Market share BSB baik dalam menghimpun DPK maupun menyalurkan kreditnya masih relatif rendah dengan trend menurun. Hal ini mengindikasikan lemahnya peran BSB terhadap pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumsel Babel. Pemenuhan kebutuhan permodalan yang memadai menjadi tantangan bagi BSB dalam mewujudkan visi transfonnasi. Permodalan yang kuat sangat diperlukan dalam upaya meningkatkan market share, jika tidak, BSB akan kehilangan peluang ekspansi terkait adanya ketentuan-ketentuan perbankan khususnya yang terkait dengan permodalan bank. Capital Adequacy ratio (CAR) sebagai indikator kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki BSB berada di bawah rata-rata industri perbankan nasional bahkan BPD di Indonesia. Ekspansi bisnis secara terus-menerus tanpa menambah modal akan menyebabkan BSB terekspos berbagai risiko terutama risiko likuiditas. Dengan demikian, BSB harus memfonnulasikan strategi yang efektif dalam memperkuat pennodalan agar dapat tumbuh secara berkelanjutan, meningkatkan daya saing dan kinerja yang pada akhirnya tidak hanya dapat meningkatkan laba melainkan dapat mengoptimalkan peran BSB sebagai agent of regional development melalui peningkatan konstribusinya terhadap pertumbuhan perekonomian daerah dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Sumatera Selatan dan Kepulauan Bangka Belitung. ...dst
Collections
- MT - Business [4088]
