Strategi Pengembangan Usaha Rumput Laut Di Kabupaten Buton Sulawesi Tenggara
Abstract
Rumput laut merupakan sumberdaya hayati yang sangat berlimpah di
perairan Indonesia yang merupakan aspek potensial untuk dikembangkan. Hal ini
menunjukkan bahwa potensi besar rumput laut di Indonesia untuk dikembangkan
dan menjadi produk unggulan komoditi ekspor Indonesia yang penting. Provinsi
Sulawesi Tenggara merupakan salah satu provinsi memiliki produksi rumput laut
yang lebih rendah dari provinsi lain di Sulawesi. Meskipun demikian, provinsi ini
memiliki luas lahan yang paling luas yaitu sebesar 54 770 hektar.
Kabupaten Buton adalah salah satu Kabupaten di Sulawesi Tenggara yang
memiliki potensi pengembangan rumput laut yang sangat tinggi yaitu 9 825
hektar, tetapi hingga tahun 2016 Hal ini jauh menurun apabila melihat potensi
pengembangan yang dilakukan oleh pemerintah setempat. Sehingga perlu
dilakukan pengembangan strategi usaha rumput laut di Kabupaten Buton.
Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengidentifikasi faktor-faktor yang
mempengaruhi pengembangan usaha rumput laut di Kabupaten Buton; 2)
Merumuskan alternatif strategi pengembangan usaha rumput laut di Kabupaten
Buton; dan 3) Menentukan prioritas strategi dan implikasi manajerial untuk
meningkatkan pengembangan usaha rumput laut di Kabupaten Buton.
Metode penelitian menggunakan Matriks IFE/EFE, Matriks SWOT dan
Matriks QSPM. Jumlah responden pada penelitian ini berjumlah 5 orang, diambil
melalui wawancara pada bulan februari 2018. Hasil Matriks IFE/EFE pada
penelitian ini menghasilkan faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan
usaha rumput laut yang terdiri dari faktor utama kekuatan merupakan komoditas
budidaya unggulan, faktor kelemahan utama belum mampu memenuhi permintaan
yang ada, faktor peluang utama permintaan pasar rumput laut yang besar, dan
faktor ancaman utama penyakit ice-ice. Hasil Matriks SWOT terdiri dari 8
alternatif strategi yaitu 1) perluasan areal budidaya rumput laut; 2) peningkatan
peran kelembagaan di setiap stakeholder rumput laut (petani, distibusi, pemasaran
dan pemerintah); 3) penguatan strategi harga; 4) peningkatan produktivitas,
kualitas, dan daya saing rumput laut; 5) keikutsertaan pemerintah secara intensif
dalam pengembagan pembinaan dan pelatihan SDM; 6) evaluasi dan analisis
manajemen risiko budidaya rumput laut di Kabupaten Buton; 7) penerapan
teknologi tepat guna, dalam peningkatan manajemen resiko budidaya rumput laut;
dan 8) peningkatan inftatruktur dan penerapan sistem dalam industri rumput laut
di Kabupaten Buton.
Pengambilan keputusan dalam penelitian ini menggunakan Quantitative
Strategi Planning Matrix (QSPM) menunjukan bahwa alternatif strategi
pengembangan usaha rumput laut yang memiliki prioritas tertinggi adalah strategi
peningkatan luas areal budidaya rumput laut, sehingga dengan bertambahnya luar
areal budidaya rumput laut maka produksi rumput laut diharapkan dapat
meningkat.
Collections
- MT - Business [4062]
