Evaluasi Kinerja Bumn Perkebunan Setelah Restrukturisasi
Abstract
Restrukturisasi yang terjadi pada BUMN merupakan salah satu upaya
pemerintah untuk memperbaiki kinerja dan meningkatkan daya saing perusahaan.
Diantara beberapa BUMN yang mengalami restrukturisasi, kelompok BUMN
Perkebunan adalah yang paling diharapkan perbaikan kinerjanya, sebab
membawahi paling banyak anak perusahaan. Namun, hal ini tidak serta merta
dapat terwujud karena adanya perbedaan tantangan perubahan pada masingmasing
BUMN. Oleh karena itu, guna melihat dampak kemajuan dari langkah
restrukturisasi yang diambil, dilakukan penelitian mengenai evaluasi kinerja
BUMN Perkebunan.
Pengambilan data dilaksanakan pada bulan Mei-November 2017 di Kantor
Holding Perkebunan, Jakarta. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa
laporan keuangan perusahaan selama periode tahun 2012-2016. Data tersebut
selanjutnya diolah dengan teknik EVA untuk mengetahui nilai tambah ekonomi
yang dihasilkan perusahaan. Selanjutnya dilakukan identifikasi value driver EVA
menggunakan teknik BSC. Terakhir menganalisis performa value driver holding
perkebunan dengan teknik perbandingan Key Performance Indicator (KPI).
Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai EVA tertinggi dan satu-satunya
yang positif dicapai pada masa sebelum restrukturisasi atau sebelum terbentuknya
holding perkebunan, yakni di tahun 2012. Setelah itu, nilai EVA terus menurun
dan berada di titik terendahnya pada tahun ketiga setelah restrukturisasi, yaitu
tahun 2016. Penurunan ini dapat terjadi karena adanya pengaruh sejumlah
komponen pendukung EVA, seperti pendapatan dan pengeluaran perusahaan, beta
sektoral (ß), return market (rm), risk free (rf), serta proporsi struktur modal.
Untuk meningkatkan kembali nilai EVA, maka perusahaan harus melakukan
perbaikan, antara lain dengan meningkatkan pendapatan, menekan pengeluaran,
melakukan kajian mengenai tingkat suku bunga (rf), serta menjaga struktur modal
agar tetap proporsional.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa perspektif yang dinilai paling
penting untuk meningkatkan kinerja perusahaan, berturut-turut adalah finansial,
pelanggan, proses bisnis internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan. Kondisi
ini berdampak pada penentuan tujuan dan indikator perspektif yang harus
berorientasi pada aspek finansial. Adapun dalam pengukuran kinerja perusahaan,
ditemukan hasil bahwa masih ada indikator yang belum memenuhi target,
terutama dari perspektif pelanggan. Hal tersebut menandakan pelayanan
perusahaan yang masih kurang memuaskan, sehingga perlu ditingkatkan. Lebih
jauh, indikator pelayanan itu dapat berdampak pada kesetiaan pelanggan dan
pendapatan perusahaan apabila tidak diperbaiki.
Collections
- MT - Business [4063]
