Pengaruh Kapitalisasi Pasar Saham dan Variabel Makroekonomi Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan Di Bursa Efek Indonesia
View/ Open
Date
2019Author
Hidayat, Asep Kurnia
Firdaus, Muhammad
Sanim, Bunasor
Metadata
Show full item recordAbstract
Pasar modal mempunyai peranan penting dalam perekonomian nasional
karena memberikan gambaran mengenai kondisi perekonomian negara dan pasar
modal menjalankan dua fungsi dalam perekonomian. Pertama, sebagai sarana bagi
perusahaan mendapatkan dana dari masyarakat untuk pengembangan usaha.
Kedua, sebagai sarana masyarakat untuk berinvestasi pada instrumen keuangan
seperti saham, obligasi, reksadana dan lain lain. Masyarakat dapat menempatkan
dana yang dimilikinya sesuai dengan karakteristik keuntungan dan resiko dari
masing-masing instrument.
Tempat transaksi pasar modal di Indonesia adalah Bursa Efek Indonesia
(BEI) yang terbentuk hasil merger antara Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek
Surabaya pada tanggal 30 November 2007. Merger dilakukan untuk
meningkatkan efesiensi pasar modal nasional yang diharapkan dapat mendorong
peningkatan daya tarik dan daya saing industri di tingkat internasional. Selain
meningkatkan efesiensi, merger juga mendorong perubahan kapitalisasi pasar.
Perubahan kapitalisasi dipengaruhi oleh adanya perubahan harga dan adanya
penerbitan atau pengurangan saham yang dicatatkan di bursa.
Pasca merger BEI mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Nilai
kapitalisasi pasar BEI pada awal merger sebesar Rp 1 076.49 triliun, perusahaan
tercatat 396 perusahaan, emiten baru 17 dan perusahaan delisted 6. Data tersebut
terus berkembang samapai pada tahun 2017 kapitalisasi pasar sebesar Rp 7 052.39
triliun, perusahaan tercatat 566 perusahaan, emiten listing 37 dan perusahaan
delisted 8. Pertumbuhan kapitalisasi berpengaruh terhadap perubahan harga saham.
Proyeksi IHSG pada awal pembentukan BEI sebesar 1.355,41 naik menjadi
6.355,65 pada akhir tahun 2017.
Selain kapitalisasi terdapat banyak faktor yang memengaruhi harga saham
atau return saham, baik yang bersifat makro maupun mikro ekonomi sehingga
IHSG fluktuatif. Faktor makro ada yang besifat ekonomi maupun non ekonomi.
Faktor makroekonomi terinci dalam beberapa variabel ekonomi seperti, inflasi,
tingkat bunga, kurs valuta asing, tingkat pertumbuhan ekonomi, harga minyak
dunia, harga emas dunia dan indeks saham regional. Faktor makro non konomi
mencakup peristiwa politik domestik, peristiwa sosial, peristiwa hukum dan
peristiwa politik internasional serta pengaruh faktor makro tidak selalu sama
terhadap harga saham.
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kapitalisasi pasar saham dan
variabel makroekonomi terhadap IHSG dan merumuskan rekomendasi strategi
meningkatkan kapitalisasi pasar saham setelah 10 tahun terjadinya merger.
Variabel makroekonomi yang dianalisis adalah inflasi, harga minyak dunia, harga
emas dunia dan indeks regional Hang Seng.
Penelitian ini menggunakan pendekatan data kuantitatif dan kualitatif.
Data kuantitatif terdiri dari IHSG, kapitalisasi pasar saham, inflasi, harga minyak
dunia, harga emas dunia dan Indeks Hang Seng. Sumber data kualitatif diperoleh
melalui internet, berupa data time series triwulanan dari Januari 2008 sampai Desember 2017, yang diolah dari data bulanan dengan metode rata-rata. Sumber
data kualitatif yang digunakan bersumber dari 4 pakar di BEI dan 2 pakar di Bank
Indonesia. Untuk mendukung penelitian ini maka digunakan metode analisis data
dengan bantuan Software Eviews 6.
Model analisis penelitian ini menggunakan Error Correction Model
(ECM). Model ini untuk mengkoreksi persamaan regresi diantara variabel yang
secara individual tidak stasioner agar kembali ke nilai equilibriumnya di jangka
panjang, dengan syarat terdapatnya hubungan kointegrasi pada variabel variabel
yang menyusun persamaan tersebut. Untuk merekomendasikan strategi pada
tujuan kedua menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) yang akan
digunakan untuk menjaring pendapat responden tentang strategi meningkatkan
kapitalisasi dan optimalisasi investasi saham di BEI.
Hasil analisis penelitian ini menunjukan bahwa secara umum seluruh
variabel independen dalam jangka panjang berpengaruh positif signifikan, hanya
inflasi berpengaruh negatif signifikan. Pada jangka pendek, kapitalisasi pasar
saham dan Indeks Hang Seng berepengaruh positif signifikan, tetapi suku bunga
SBI berpengaruh positif tidak signifikan. Inflasi dan harga minyak dunia
berpengaruh negatif signifikan sedangkan harga emas dunia berpengaruh negatif
tidak signifikan. Koefisien Error Corerection Term memiliki pengaruh sebesar -
0.207329 dengan arah negatif signifikan pada taraf 5%, menunjukan bahwa proses
penyesuaian (Adjusment Mechanism Prosses) atau proses penyesuaian pada
keseimbangan jangka panjang berlangsung selama 5 triwulan.
Kapitalisasi pasar saham dalam jangka pendek maupun jangka panjang
berpengaruh positif signifikan dan dominan dari pada pengaruh variabel
makroekonomi. Untuk itu diperlukan strategi peningkatan kapitalisasi dan
optimalisasi investasi saham di Bursa Efek Indonesia. Rekomendasi strategi yang
diajukan adalah strategi mendorong peningkatan investasi saham saham
berkapitalisasi besar. Agar Indeks Harga Saham Gabungan terus tumbuh dan lebih
tahan terhadap gejolak makroekonomi. Berdasarkan hasil analisis vertikal AHP,
faktor yang menjadi prioritas dalam strategi adalah kebijakan (pasar modal dan
moneter), aktor yang menjadi prioritas Bursa Efek Indonesia dan Bank Indonesia,
tujuan yang menjadi prioritas adanya iklim investasi dan stabilitas ekonomi yang
kondusif. Alternatif strategi yang direkomendasikan mendorong peningkatan
investasi saham saham berkapitalisasi besar.
Collections
- MT - Business [4063]
