Strategi Peningkatan Daya Saing Industri Ban Indonesia Di Pasar Internasional
Abstract
Karet alam merupakan salah satu komoditas andalan Indonesia. Bersama
dengan Thailand dan Malaysia, Indonesia merupakan salah satu produsen utama
karet alam dunia. Salah satu olahan berbasis karet adalah produk ban yang mampu
menyerap 70% sampai 80% dari total produksi karet alam dunia. Indonesia sudah
mampu memproduksi ban di dalam negeri. Produk ban Indonesia sebagian besar
ditujukan untuk pasar ekspor menjadikan industri ban sebagai penyumbang devisa
terbesar di sektor berbasis karet. Negara utama tujuan ekspor produk ban
Indonesia adalah Amerika Serikat, Jepang, Filipina, Malaysia, Australia, Eropa
dan Timur Tengah. Ekspor ban Indonesia masih didominasi ke Amerika Serikat,
diikuti oleh Jepang dan Filipina. Di pasar ekspor ban dunia, Indonesia hanya
berkontribusi sebesar 2,28%. Pertumbuhan pangsa pasar ekspor ban Indonesia di
dunia relatif stagnan, dibandingkan Tiongkok dan Thailand. Perkembangan
ekspor ban dari Tiongkok cukup pesat dan mampu menguasai pangsa pasar dunia.
Pangsa ekspor Thailand juga mengalami peningkatan signifikan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan daya saing
industri ban Indonesia dibanding negara pesaing, menganalisis perkembangan
posisi daya saing Indonesia di negara tujuan ekspor, dan mengetahui faktor yang
mempengaruhi daya saing, serta menentukan prioritas strategi dalam peningkatan
dan pengembangan daya saing industri ban. Metode analisis yang digunakan
adalah Normalized Revealed Comparative Advantage (NRCA), Export Product
Dynamics (EPD), regresi data panel, dan Analytic Hierarrchy Process (AHP).
Dibandingkan dengan negara eksportir utama ban, daya saing ban Indonesia
di dunia masih positif. Rata-rata indeks NRCA Indonesia sebesar 0,42 lebih baik
dibandingkan dengan Amerika Serikat sebesar -0,82. Jerman merupakan negara
dengan daya saing ban yang kuat dengan indeks 5,96 diikuti oleh Jepang (5,54),
Tiongkok (2,34), dan Prancis (0,82). Di negara tujuan ekspor daya saing ban
Indonesia secara umum masih kuat, namun disebagian besar negara menunjukkan
tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir terutama di Jepang dan negara
Timur Tengah. Hasil EPD menunjukkan bahwa ban Indonesia yang termasuk di
kuadran rising star terjadi di 7 negara, falling star di 2 negara, retreat di 2 negara,
dan lost opportunity di 4 negara. Analisis regresi data panel mengindikasikan
bahwa harga minyak mentah, suku bunga, volume ekspor ban, dan daya saing
tahun sebelumnya secara signifikan mempengaruhi daya saing industri ban (pada
taraf < 5%). Sedangkan kerjasama FTA memiliki tingkat signifikansi <10%.
Dalam meningkatkan dan mengembangkan daya saing industri ban, strategi
yang menjadi prioritas adalah meningkatkan promosi produk, meningkatkan
kerjasama internasional, dan memperkuat struktur industri bahan baku di dalam
negeri. Tujuan utama yang ingin dicapai adalah meningkatkan keuntungan
perusahaan, meningkatkan ekspor, dan meningkatkan produksi ban. Sedangkan
aktor yang paling berperan adalah pemerintah, pelaku industri ban, dan pemasok
bahan baku dan penolong
Collections
- MT - Business [4062]
