Analisis Rantai Nilai dan Keberlanjutan Produk Sayur Potong (Studi Kasus Di Pt Sayuran Siap Saji)
View/ Open
Date
2018Author
Wiryawan, Fransisca Susanti
Marimin
Djatna, Taufik
Metadata
Show full item recordAbstract
Sayur potong ialah sayuran yang mendapat nilai tambah berupa perlakuan
seperti pembuangan bagian yang busuk atau pun layu (trimming), pengupasan
(peeling), pencucian, pemotongan sehingga dapat dikonsumsi seluruhnya oleh
konsumen. Tujuan penelitian ini ialah menganalisis rantai nilai dan keberlanjutan
produk sayur potong dengan metode studi kasus. Penelitian dilakukan di PT
Sayuran Siap Saji, Megamendung, Bogor.
Hasil analisis situasional menunjukkan bahwa PT SSS dalam memproduksi
sayur potong menggunakan disinfektan kimia, yaitu klorin dioksida yang
berpotensi menghasilkan produk samping berupa klorit dan klorat. Perusahaan
menggunakan air limbahnya sebagai irigasi pada lahan pertanian tanpa
mengolahnya terlebih dahulu sehingga dikuatirkan membahayakan kesehatan
konsumen dan mencemari lingkungan. Hasil analisis situasional juga
menunjukkan bahwa perusahaan tidak mengusahakan lahan pertaniannya sendiri
sehingga tergantung pada kemitraan di daerah Megamendung (Bogor), Cikajang
(Garut), dan Cisarua (Bandung).
Pada tahun 2016 PT SSS memproduksi 22 produk sayur potong sehingga
dilakukan penyaringan produk berdasarkan Pareto dan Metode Perbandingan
Eksponensial. Hasil integrasi kedua metode tersebut ialah tiga produk unggulan,
yaitu paprika, lettuce head, dan brokoli. Pemetaan aliran nilai hijau dilakukan
terhadap ketiga produk unggulan tersebut. Ketiga produk unggulan tersebut
memiliki nilai IPH yang kurang dari satu berarti dampak lingkungannya lebih
tinggi daripada produktivitasnya.
PT SSS memiliki status cukup berkelanjutan dengan nilai keberlanjutan
dimensi ekonomi yang paling tinggi jika dibandingkan dengan dimensi lainnya,
yaitu dimensi lingkungan, teknologi, dan kemitraan. Atribut tersensitif pada
sistem keberlanjutan PT SSS ialah sebagai berikut. Atribut tersensitif pada
dimensi lingkungan ialah penggunaan pupuk kimia. Atribut tersensitif pada
dimensi teknologi ialah wanatani (agroforestri). Atribut tersensitif pada dimensi
kemitraan ialah keberadaan kelompok tani, sedangkan atribut tersensitif pada
dimensi ekonomi ialah keuntungan petani mitra.
Dengan mengintegrasikan pemetaan aliran nilai hijau dan Rapfreshcut akan
diperoleh alternatif strategi yang cakupannya luas, yaitu efisiensi energi, teknologi
ramah lingkungan, kemitraan, dan efisiensi produksi. Berdasarkan ANP BOCR
prioritas strategi ialah kemitraan (area kemitraan yang lebih dekat dan
pendampingan petani mitra berkelanjutan). Skenario perbaikan merupakan teknis
dari alternatif strategi. Skenario terbaik dengan nilai Indeks Produktivitas Hijau
tertinggi ialah pemindahan area kemitraan ke Cipanas dan pendampingan petani
mitra berkelanjutan.
Collections
- MT - Business [4063]
