Analisis Pengaruh Karakteristik Obligasi, Kinerja Keuangan dan Variabel Makro Terhadap Return Obligasi Korporasi Pada Sektor Agribisnis
View/ Open
Date
2018Author
Kusumaningrum, Dewi
Anggraeni, Lukytawati
Andati, Trias
Metadata
Show full item recordAbstract
Obligasi merupakan aset finansial yang diperdagangkan di bursa efek. Jika
dibandingkan dengan saham, obligasi memiliki beberapa keunggulan dan
keuntungan bagi pihak penerbit. Indonesia merupakan salah satu Negara yang
mengalami peningkatan perkembangan obligasi atau surat hutang. Terdapat
beberapa alasan yang membuat perusahaan memilih untuk menerbitkan obligasi
dibanding dengan meminjam pada bank, yaitu (1) obligasi sering memiliki
proposisi lebih menarik, (2) bunga yang dibayarkan perusahaan kepada investor
obligasi sering kali lebih rendah dari tingkat suku bunga yang dibebankan oleh bank,
(3) perusahaan juga lebih bebas dalam menjalankan operasional yang sesuai;
terlepas dari pembatasan yang sering disyaratkan pada pinjaman bank (Rahardjo
2003).
Sektor agribisnis merupakan salah satu sektor yang memiliki pertumbuhan
obligasi korporasi yang positif. Selain itu, sektor agribisnis juga memiliki peranan
penting bagi perekonomian nasional. Terdapat empat hal yang dapat dijadikan
alasan, yaitu: (1) ekspansi dari sektor-sektor ekonomi lainnya sangat tergantung
pada pertumbuhan output di bidang pertanian, baik dari sisi permintaan maupun
penawaran sebagai sumber bahan baku bagi keperluan produksi di sektor-sektor
lain seperti industri manufaktur dan perdagangan; (2) pertanian berperan sebagai
sumber penting bagi pertumbuhan permintaan domestik bagi produk-produk dari
sektor-sektor lainnya; (3) sebagai suatu sumber modal untuk investasi di sektorsektor ekonomi lainnya; dan (4) sebagai sumber penting bagi surplus perdagangan
(sumber devisa). Halimah (1992) menyatakan bahwa perusahaan agribisnis
sebagian besar modal didapat dari modal pribadi perusahaan, modal swasta
perorangan, koperasi, modal pemerintah, dari perusahaan sewa-guna (leasing
companies), dari lembaga perkreditan, modal dari dalam dan luar negeri, dari
warisan, menerbitkan surat utang (obligasi) dan meminjam dari bank.
Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam anilisis return obligasi dibagi
menjadi tiga. Pertama, faktor dari karakteristik obligasi antara lain; yield to maturity
(YTM), kupon, jatuh tempo, peringkat dan durasi. Kedua, faktor dari kinerja
keuangan antara lain; debt to equity ratio (DER), interest leverage (IC), dan cash
flow to sufficience (CFOS). Ketiga, faktor makroekonomi antara lain; suku bunga,
inflasi dan indeks harga saham gabungan (IHSG). Teknik pengambilan sampel pada
penelitian ini adalah dengan menggunakan metode purposive sampling dengan
ketentuan (1) surat obligasi perusahaan agrisbisnis yang terdaftar aktif selama
periode 2014 hingga 2015 dan belum jatuh tempo, (2) rating terdaftar dalam
Pefindo, (3) perusahaan membayar kupon secara triwulan atau semester dalam
jumlah yang tetap (fixed rate), (4) surat obligasi tidak memiliki fitur convertible,
(5) perusahaan memiliki laporan keuangan yang lengkap dan telah diaudit selama
periode pengamatan. Sampel penelitian ini berjumlah 12 obligasi yang
diperdagangkan dari tahun 2014 hingga 2015.
Analisis faktor-faktor yang memengaruhi return obligasi pada sektor
agribisnis dilakukan dengan menggunakan metode regresi data panel dan diolah dengan menggunakan aplikasi Eviews 9. Hasil regresi data panel dengan metode
common effect menunjukkan bahwa R2 pada penelitian ini sebesar 0.472423 persen
menunjukkan bahwa variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen
sebesar 47.24 persen sedangkan sebesar 52.76 persen lainnya dijelaskan oleh faktor
lain di luar model pada penelitian ini. Variabel yang berpengaruh signifikan
terhadap return adalah YTM, kupon, peringkat, durasi, CFOS, dan IHSG.
YTM, peringkat, dan IHSG berpengaruh negatif terhadap return obligasi. Hal
ini karena YTM yang tinggi akan menyebabkan harga obligasi semakin rendah.
Semakin tinggi peringkat suatu obligasi maka kemungkinan gagal bayar (default
risk) akan kecil, default risk yang kecil akan memberikan return yang rendah. IHSG
yang meningkat menunjukkan meningkatnya gairah berinvestasi pada saham
sehingga dengan demikian akan memengaruhi tingkat investasi pada produk lain
yakni menurunkan ivestasi pada obligasi. Oleh karena itu, dengan asumsi bahwa
dana yang diasumsikan tetap maka IHSG berkorelasi negatif terhadap harga
obligasi. Ketika harga obligasi rendah maka diasumsikan return yang diterima oleh
investor juga akan rendah, karena return yang diterima oleh investor di dalamnya
terdapat harga yang dibayarkan oleh investor ditambah kupon.
Variabel kupon, durasi dan CFOS berpengaruh signifikan positif terhadap
peningkatan return obligasi. Semakin tinggi tingkat kupon obligasi maka akan
semakin tinggi permintaan obligasi dan tingkat perubahan harganya atau return
obligasinya. Dalam teori dijelaskan, bahwa obligasi yang memiliki maturity paling
panjang maka harga obligasi semakin rentan terhadap yield, namun pada penelitian
kali ini kupon obigasi yang dimiliki cukup besar, maka harga obligasi menjadi tidak
sensitif terhadap perubahan yield. Perusahaan yang memiliki kemampuan untuk
melunasi hutang jangka pendek, jangka panjang, melakukan pembelian dan
membayar beban bunganya semakin besar maka akan memberikan return yang
lebih besar kepada investor.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik obligasi (kupon, durasi,
YTM dan peringkat) dan kinerja keuangan (CFOS) serta faktor makroekonomi
(IHSG) memiliki pengaruh terhadap return obligasi pada sektor agribisnis. Hasil
penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan bagi penerbit obligasi dalam
kebijakan pendanaan sebelum menerbitkan obligasi untuk meminimalisasikan cost
of capital. Investor dapat memilih obligasi dengan nilai kupon yang tinggi,
peringkat yang tinggi dan perusahaan dengan CFOS yang tinggi juga.
Collections
- MT - Business [4063]
