Dampak Bea Keluar Kakao Terhadap Industri Kakao Di Indonesia
View/ Open
Date
2018Author
Nisurahmah, Andini
Nuryartono, Nunung
Novianti, Tanti
Metadata
Show full item recordAbstract
Salah satu komoditas andalan subsektor perkebunan Indonesia adalah
kakao. Produksi kakao Indonesia mayoritas diekspor dalam bentuk unfermented
beans. Pemerintah Indonesia pada April 2010 memberlakukan bea keluar biji
kakao. Tujuan kebijakan ini untuk menjamin ketersediaan bahan baku biji kakao
domestik untuk perusahaan dalam negeri dengan harga terjangkau. Industri kakao
domestik perlu berkembang, namun produksi biji kakao mengalami penurunan.
Harga merupakan faktor penting yang menentukan pendapatan petani,
sehingga tujuan penelitian ini melihat hubungan harga pada level petani, harga
domestik, dan harga internasional serta menganalisis pengaruh kebijakan bea
keluar kakao terhadap industri pengolahan kakao. Metode penelitian ini
menggunakan VAR/VECM untuk mengetahui hubungan harga domestik dan
internasional. Porter’s diamond untuk melihat dampak kebijakan bea keluar yang
dikeluarkan oleh pemerintah terhadap daya saing industri pengolahan kakao. Data
yang digunakan dalam penelitian, yaitu harga internasional biji kakao bulanan dari
ICCO, harga domestik bulanan biji kakao spot Makassar dari Bappebti, harga
patokan ekspor dan tarif bea keluar bulanan, harga biji kakao tingkat petani dari
APKAI, kuesioner terstruktur berdasarkan diamond porter.
Berdasarkan hasil dan pembahasan berdasarkan uji VECM, pada hubungan
jangka panjang, harga internasional memiliki dampak signifikan terhadap harga
domestik. Berdasarkan uji IRF menunjukkan bahwa guncangan pada harga
internasional direspon secara positif oleh harga kakao domestik sementara bea
keluar direspon negatif oleh harga domestik. Hasil FEVD menyatakan bahwa
kontribusi terbesar guncangan berasal dari harga internasional. Harga
internasional ditransmisikan dengan sempurna ke harga domestik. Petani memiliki
risiko yang tinggi ditunjukkan oleh nilai koefisien varians yang lebih tinggi
dibandingkan harga domestik dan internasional. Petani menghadapi
ketidakpastian sehingga tidak ada insentif untuk merawat kebun kakao. Tidak
adanya insentif menjadi salah satu penyebab penurunan produksi biji kakao yang
pada akhirnya berdampak pada industri pengolahan kakao.
Dampak bea keluar biji kakao terhadap industri kakao secara nasional
meningkatkan kapasitas terpasang industri karena meningkatnya investasi
pengolahan biji kakao. Model berlian porter memperlihatkan bahwa kebijakan bea
keluar dapat meningkatkan persaingan industri dalam negeri, serta
berkembangnya industri terkait produk turunan berbasis produk olahan kakao.
Namun peningkatan tersebut tidak diiringi oleh aktivitas hulu yang ditandai
dengan penurunan produksi biji kakao sehingga terjadi kekurangan supply bahan
baku biji kakao untuk industri dalam negeri. Kurangnya strategi industri domestik
dalam menghadapi fenomena kekurangan supply bahan baku menyebabkan
jumlah perusahaan dalam negeri berkurang karena kalah bersaing.
Collections
- MT - Business [4063]
